spot_img
spot_img

Anda Sopan Kami Curiga, Jangan-Jangan Calon Kepala Desa

Foto: Ilustrasi politik uang. Fenomena serangan fajar dan pencitraan calon kepala desa pada ajang Pilkades serentak (Istimewa).

Oleh: Suryadi*

HIRUK pikuk pengundian nomor urut dan penetapan calon kepala desa se-Kabupaten Tangerang usai dilaksanakan. Sebanyak 77 desa akan menggelar Pilkades serentak pada 04 Juli 2021 mendatang.

Hari ini, para calon kepala desa sudah mulai berlomba-lomba mencari panggung. Intens menjalin kedekatan dengan warga. Persis seperti anak muda yang sedang kasmaran: umbar janji manis, curi-curi kesempatan, sok perhatian. Seteleh menang, hilang begitu saja.

Ya, hilang. Kalau istilah populer saat ini disebut ghosting. 

Sebelumnya begitu sopan, ramah, santun, plus dermawan. Sampai banyak yang menduga dus curiga: jangan-jangan ada maksud.

Ghosting sendiri merupakan istilah kekinian yang mendadak viral, setelah beredar kabar beberapa waktu lalu putusnya hubungan anak presiden dengan seorang gadis yang sudah 5 tahun dipacarinya.

Baca Juga

Sedangkan, jika merujuk pada laman Verywell Mind, ghosting merupakan istilah dalam dunia percintaan. Mengacu pada sikap memutuskan kabar secara tiba-tiba dengan seseorang tanpa memberikan peringatan atau penjelasan apapun sebelumnya. Sakit, bukan?

Dari istilah umum itu, fenomena ghosting tentu sangat releven jika dikaitkan dengan momentum Pilkades. Terutama pasca pemilihan. Awalnya merakyat, setelah jadi, lupa rakyat.

Biasanya, sebelum pemilihan berlangsung, para calon kepala desa mendadak menjadi seorang yang paling perhatian terhadap lingkungan sekitar. Semua orang dianggap seperti keluarga sendiri. Seperti hari ini.

Seolah suara masyarakat bisa dibeli dengan cara-cara tersebut. Atau yang biasa dijumpai pada momen-momen Pilkades sebelumnya, seperti serangan fajar atau money politic.

Hemat penulis, hanya calon kepala desa tidak percaya dirilah, yang melakukan praktik money politic. Mereka biasanya tidak mempunyai program, tapi ingin menang.

Padahal, banyak cara yang bisa dilakukan calon kepala desa dalam upaya menjalin pendekatan dengan warga. Sebab, kampanye tidak melulu uang.

Foto: Suryadi (Doc. Pribadi).

Misal, berpikir out of the box, mencari cara-cara baru untuk meyakinkan masyarakat, berani melakukan sesuatu yang berbeda, kreatif, inovatif, dan konkret.

Bisa juga dengan terjun langsung hadir di tengah masyarakat. Menyampaikan program-program yang digagas secara persuasif sesuai backgroundnya masing-masing.

Bakal calon kepala desa yang memiliki background wirausaha contohnya, bisa melakukan pendekatan melalui memberi pelatihan kepada para pelaku UMKM. Tentang bagaimana merintis usaha, sehingga tumbuh jiwa-jiwa wirausaha baru dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya.

Meskipun nantinya calon Kades terebut tidak menang, paling tidak pernah meninggalkan bekas. Bakal lahir calon-calon pengusaha tingkat lokal. Tentu cara ini lebih mulia.

Di sisi lain, jika sudah terpilih menjadi kepala desa, mesti mampu menepati janji kampanyenya. Kemenangan dalam kontes pemilihan, merupakan awal dari pengabdian diri yang mengemban harapan warga.

Sebab, masyarakat berharap mempunyai pemimpin yang bisa mengayomi warganya. Tanpa pandang bulu, meski mereka tidak memilihnya.

Namun, lagi-lagi fakta di lapangan berbanding terbalik. Tidak sesuai harapan. Ketika salah satu calon kepala desa keluar sebagai pemenang dalam kontes pemilihan, seketika itu juga hilang ingatan. Lupa, dengan siapa dulu berjuang. Warga yang dulu dibuat nyaman, dicampakkan begitu saja. Habis manis, sepah dibuang.

Baca Juga

Masyarakat sudah mulai terbiasa dengan polarisasi kampanye yang monoton. Maksudnya, praktik kampanye yang penuh dengan obral janji, namun sampai masa jabatanya berakhir pun belum ada bukti. Hal ini tentu akan berdampak kepada partisipasi masyarakat dalam berdemokrasi.

Fakta lain, pesta demokrasi kerap berdampak pada perpecahan antar masyarakat, apapun kontes pemilihanya. Termasuk pemilihan kepala desa.

Yang diperlukan saat ini ialah kedewasaan dalam berpolitik, jangan mudah tersinggung. Kedepankan sikap toleransi, saling menghargai, dan kedamaian.

Jangan mudah disuap, kita mulai benahi proses berpolitik dari diri kita sendiri. Standarisasi untuk memilih bukan dilihat dari siapa yang memberi lebih besar pada saat serangan fajar.

Mulai sekarang, masyarakat jangan mudah baper, kenali betul sosok calonnya. Bagaimana dengan latar belakang kepribadianya? Kira-kira memiliki kepedulian sosial atau tidak? Masyarakat mesti lebih kritis menilai visi dan misi seorang calon kepala desa sebelum menentukan pilihan.

Karena kita ingin desa milik kita bersama, bukan milik Kades pemenang kontes dan juga para koleganya. Masyarakat ingin pemimpin yang berpikir visioner, mampu memaksimalkan desa sebagai subjek pembangunan untuk kesejahteraan bersama.

Kini, masyarakat harus lebih jeli dan cerdas sebelum pelaksanaan Pilkades. Sebab, tentu kita tidak mau kena ghosting oleh calon kepala desa terpilih nanti, bukan?

* Penulis adalah Kader Himpunan Mahasiswa Tangerang Barat (HIMATANGBAR).

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart