
Keyakinan terhadap wujud utama berkumpul dalam suatu lembaga dalam bentuk agama. Mulai dari agama primitif hingga agama yang kompleks dari agama ardhi menuju agama samawi. Keyakinan akan agama membawa warna-warni dalam histori manusia. Agama menjadi suatu hal yang sangat sakral untuk didiskusikan. Dari sekian banyaknya manusia di muka bumi yang memiliki agama, mereka ikut menganut agama yang sama dengan agama turun-menurun yang dimiliki oleh leluhur keluarganya. Hanya sekian persen manusia di bumi yang memilih agamanya sendiri atas kesadaran diri sendiri dengan ketentraman yang didapat dalam agama yang dipilihnya.
Agama memiliki pengertian secara etimologis dan terminologis. Secara etimologis, konsep agama dalam bahasa sanskerta memiliki arti tidak kacau, dalam bahasa latin religere memiliki arti mengembalikan ikatan, dan dalam bahasa arab Din memiliki arti tatanan.
Secara terminologis, konsep agama memiliki arti suatu sistem yang mengatur tatanan keimanan dan peribadatan kepada Tuhan serta tata kaidah yang berkaitan dengan pergaulan antar manusia dan aspek lingkungan. Agama sendiri memiliki 3 unsur yakni keyakinan, peribadatan, dan sistem nilai.
Baca Juga
Menurut Emile Durkheim, agama merupakan suatu sistem kepercayaan dan praktek yang telah digabungkan yang berhubungan dengan hal-hal kudus kepercayaan-kepercayaan serta praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal.
Agama juga merupakan isu yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya merupakan individu yang religius serta agama adalah bagian paling fundamental bagi masyarakat selain dari negara. Bahkan dalam beberapa kasus agama bisa lebih mengontrol masyarakat ketimbang nageara, maka pembahasan mengenai agama ini sangatlah menarik untuk di kaji.
Banyak para pemikir dari diskursus keilmuan yang berbeda menaruh perhatiannya pada konsep agama ini, salah satunya adalah seorang psikoanalisis, Sigmun Freud. Sigmund Freud dilahirkan dikota Freiberg yang kini terletak di Cekoslowakia, ia merupakan anak dari Jacob Freud dan Amalia Freud. Freud juga bisa dikatakan sebagai peletak batu pertama aliran psikoanalisis dalam diskursus psikologi.
Freud mengatakan dalam diri manusia terdapat tiga unsur kepribadian, yaitu id, ego, dan superego. Id dalam diri manusia merupakan hal mendasar yang mempengaruhi kepribadian seseorang. Id ini bisa dikatakan sebagai hasrat atau keinginan mendasar yang harus terpenuhi, seperti makan, minum, dan seks. Id ini mengedepankan kesenangan dalam proses kerjanya.
Apa yang diinginkan manusia harus lah terpenuhi, itu adalah pengaruh dari id ini. Contoh kasus ketika manusia ingin mendapatkan barang mewah, akan timbul keharusan dalam diri manusia untuk mendapatkannya tanpa mempertimbangkan baik dan buruk dalam proses tersebut. Seperti itulah id dalam diri manusia bekerja. Kemudian dalam diri manusia terdapat ego.
Ego merupakan hal berhubungan langsung dengan kenyataan atau realita, ego ini berfungsi untuk mengejawantahkan keinginan dari id. Tugas ego adalah melihat cara seperti apa yang harus ditempuh untuk mewujudkan kengininan dari id dalam diri manusia, tapi hal terdsebut dapat diterima secara sosial. Ego juga yang membatasi atau memberi penjelasan terhadap mungkin atau tidaknya sesuatu itu didapatkan atau terwujud. Dalam proses kerjanya ego akan memberikan stimulus bahwasanya orang lain pun memiliki keinginan dan hak yang sama, sehingga keinginan tersebut dapat ditekan oleh ego.
Struktur yang mempengaruhi kepribadian manusia yang terakhir adalah superego. Superego ini merupakan aspek moral yang diperoleh manusia dari penyerapan dari norma-norma ataupun ajaran-ajaran yang diperolehnya, hal ini didasarkan pada moral dan penilaian benar salah. Superego ini dalam proses kerjanya mempertimbangkan nilai moral.
Ketika ketiga struktur ini tidak seimbang, dalam artian ketika ego tidak mampu mendamaikan antara id dan superego, maka yang terjadi adalah kecemasan. Hal ini merupakan gejala dari neurosis atau kerusakan syaraf diotak pada manusia. Freud beranggapan bahwa agamapun tidak ubahnya gejala neurosis ini, ketika nalar manusia dan kebutuhan keamanan dengan realitas alam semesta tidak seimbang dan manusia mengalami ketakutan akan hidup, agama muncul sebagai sarana yang dipilih oleh manusia. Dalam hal ini agama hanyalah sebuah pelarian dari kegagalan manusia memahami realitas alam semesta serta agama ini tidak lain hanyalah sesuatu yang tercipta dari delusi manusia itu sendiri.
Dalam pandangan Freud, Tuhan merupakan sesuatu yang timbul dari kebutuhan manusia akan pengontrolan impuls instingtual. Karena dalam kenyataan realita manusia akan bersinggungan dengan manusia yang lain, maka dari itu dibutuhakan kontrol terhadap instingtual manusia.
Tapi dalam kenyataannya manusia tidak pernah bisa mengontrol hal tersebut, maka dari itu manusia membutuhkan sesuatu yang dijadikan sebagai bion untuk mengntrol hal itu. Pada akhirnya hadirlah Tuhan sebagai bion yang dianggap mampu memberi kontrol dan perlindungan terhadap diri manusia.
Freud menganalogikan hal ini seperti anak kecil yang masih membutuhkan perlondungan dari orang tua atau bapak. Begitupun ketika manusia berhadapan dengan alam pastilah manusia akan merasa banyak keterbatasan dalam dirinya, Tuhan hadir sebagai sesuatu yang dianggap mampu melindungi manusia dari keterbatasan tersebut, maka Freud beranggapan manusia yang masih membutuhkan konsep Tuhan merupakan manusia yang masih belum dewasa.
Hal ini tak ubahnya sebagai odipus kompleks, dimana manusia membutuhkan figur seorang bapak. Lalu manusia memberikan citra yang melekat pada Tuhan itu sendiri, seperti Tuhan yang mampu menghukum manusia dan melindungi manusia. Ketika manusia berusaha mengharmonikan antara hukuman dan perlindungan Tuhan, ketika itu agama hadir sebagai sesuatu yang menyeimbangkan dua kekuatan Tuhan tersebut. Maka hal ini menjelaskan bahwa Tuhan dan agama hadir atas dasar kebutuhan psikologis manusia terhadap sosok pelindung dan penyeimbang antara hukuman dan perlindungan dari pelindung tersebut.
Dalam oadipus kompleks ini,menggambarkan seorang anak yang memiliki ketertarikan kepada sosok bapak yang gagah dan perkasa, dimana sosok bapak tersebut mampu melindungi sang anak dari marabahaya, bahkan mampu membutuhi kebutuhan hidup si anak. Begitupun Tuhan yang dianggap mampu melindungi manusia serta mampu memenuhi kebutuhan hidup dari manusia tersebut. Maka dari itu konsep Tuhan hadir dalam kehidupan masyarakat.
Dalam hal ini Freud pastilah dipengaruhi pekerjaannya dimana ia selalu menangani orang-orang yang terkena neurosis, maka pandangan Freud terhadap agama pun seperti halnya yang sudah di paparkan diatas. Meskipun hal tersebut terlihat naif, akan tetapi jika kita melihat realita yang ada pada diri manusia saat ini, ketika manusia itu berada dalam posisi yang nyaman dan menyenangkan, maka konsep Tuhan dan agama dalam diri manusia akan hilang. Namun, pada saat manusia mengalami kesedihan dan kegagalan dalam realitas hidupnya, maka konsep Tuhan dan agama ini adalah hal yang paling melekat pada diri manusia.
Ketika ketiga struktur ini tidak seimbang, dalam artian ketika ego tidak mampu mendamaikan antara id dan superego, maka yang terjadi adalah kecemasan. Hal ini merupakan gejala dari neurosis atau kerusakan syaraf diotak pada manusia. Freud beranggapan bahwa agamapun tidak ubahnya gejala neurosis ini, ketika nalar manusia dan kebutuhan keamanan dengan realitas alam semesta tidak seimbang dan manusia mengalami ketakutan akan hidup, agama muncul sebagai sarana yang dipilih oleh manusia. Dalam hal ini agama hanyalah sebuah pelarian dari kegagalan manusia memahami realitas alam semesta serta agama ini tidak lain hanyalah sesuatu yang tercipta dari delusi manusia itu sendiri.
Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan bahwa agama dan tuhan merupakan bentuk imajinasi manusia dalam keadaan tidak berdaya dan membutuhkan perlindungan dari sosok yang lebih agung dan lebih perkasa. Agama menjadi fasilitas manusia dalam mewujudkan konsep tuhan tersebut. Maka menurut Freud manusia yang sudah mapan dan dewasa seharusnya sudah tidak lagi bergantung pada agama, melainkan pada dirinya sendiri. Masyarakat yang maju dalam segala segi kehidupan, lebih cenderung mengenyampingkan agama dan tuhan. Namun, masyarakat yang masing berjuang dalam memapankan kehidupannya akan sangat lekat dengana agama dan tuhan.
*Ditulis oleh : Mohammad Fajar Setiawan.
![]()









