
CILEGON | Aksi protes dari dua mahasiswa mewarnai jalannya perayaan Riung Mungpulung yang digelar di Kantor Wali Kota Cilegon, Senin (27/04). Keduanya merupakan perwakilan dari DPD Gerakan Mahasiswa Al-Khairiyah yang menyuarakan kritik terhadap kebijakan Pemerintah Kota Cilegon.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kedua mahasiswa tersebut nekat menerobos masuk ke area acara dan mendekati panggung utama saat Wali Kota Cilegon, Robinsar, tengah menyampaikan pidato. Mereka membawa spanduk berisi kritik serta berteriak menyuarakan aspirasi di hadapan para tamu undangan.
Aksi tersebut langsung mendapat respons dari petugas keamanan. Keduanya kemudian diamankan oleh Satpol PP dan dikeluarkan dari area kegiatan untuk menjaga kondusivitas acara.
Baca Juga
- IMC Soroti Dualisme, Pemkot Cilegon Diminta Tak Cairkan Dana Hibah
- Momentum Kartini, Kohati HMI Cilegon Soroti Tingginya Kekerasan
Salah satu mahasiswa, Bustomi, menyampaikan kritik terkait kebijakan beasiswa yang dinilai semakin terbatas di bawah kepemimpinan saat ini. Ia menilai banyak masyarakat tidak lagi mendapatkan akses pendidikan tinggi akibat berkurangnya kuota dan prosedur yang dinilai semakin rumit.
“Di kepemimpinan sekarang, banyak masyarakat yang tidak mendapatkan beasiswa karena kuotanya menipis dan prosedurnya sulit. Ini menjadi krisis dan kesedihan,” ujarnya.
Ia juga membandingkan dengan periode sebelumnya yang dinilai lebih banyak membuka peluang bagi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sementara itu, mahasiswa lainnya, Raka, menyoroti peningkatan angka pengangguran di Kota Cilegon. Ia menyebut terjadi kenaikan dari 6,08 persen pada 2024 menjadi 7,41 persen pada 2025.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi bagi Cilegon yang dikenal sebagai kota industri. Ia juga mengaitkan persoalan pengangguran dengan akses pendidikan yang semakin terbatas.
“Kalau orang tua menganggur, anaknya juga bisa kesulitan melanjutkan pendidikan. Ini saling berkaitan,” ungkapnya.
Menanggapi aksi tersebut, Wali Kota Cilegon, Robinsar, menyatakan bahwa pemerintah daerah terbuka terhadap kritik yang disampaikan masyarakat.
“Kami tidak anti kritik. Terima kasih atas aspirasinya,” ujarnya singkat dalam pidato.
Aksi ini menjadi sorotan publik dan mencerminkan meningkatnya perhatian mahasiswa terhadap isu pendidikan dan ketenagakerjaan di Kota Cilegon. | Fjr
![]()









