
TANGERANG | Himpunan Mahasiswa Tangerang Barat (Himatangbar) menggelar Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di Taman Aspirasi Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Minggu malam, (10/05).
Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi mahasiswa untuk membedah persoalan agraria, lingkungan, dan hak masyarakat adat di Papua.
Film dokumenter karya Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono itu menyoroti dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan, termasuk persoalan perampasan tanah adat, pembabatan hutan, serta keterlibatan aparat keamanan dalam proyek industri.
Baca Juga
- HIMATANGBAR Gelar Kenduri Ramadan, Wabup Tangerang Apresiasi Peran Mahasiswa
- Soma Atmaja Tekankan Bonus Demografi di Perekat Himatangbar
Dalam diskusi tersebut, Firmansyah yang menjadi pemantik menyebut film tersebut memperlihatkan relasi antara kekuasaan, bisnis, dan operasi keamanan yang dinilai berdampak terhadap masyarakat adat Papua.
“Film ini menunjukkan secara benderang relasi antara kuasa, bisnis, dan operasi keamanan. Apa yang terjadi di Papua adalah peringatan bagi kita semua agar tidak kehilangan daya kritis,” ujarnya.
Menurutnya, istilah “Pesta Babi” dalam film tersebut menjadi metafora tentang eksploitasi sumber daya alam Papua oleh kepentingan modal, sementara masyarakat lokal justru mengalami marginalisasi di tanahnya sendiri.
Sementara itu, Ketua Umum Himatangbar, Nawa Sarip mengatakan, kegiatan nobar tersebut bukan sekadar agenda hiburan, tetapi juga bagian dari upaya membangun kepekaan sosial mahasiswa terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan.

“Kami ingin mahasiswa tidak abai terhadap apa yang terjadi di Papua. Pembangunan yang diklaim demi kesejahteraan tidak boleh mengorbankan masyarakat adat,” katanya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan peserta terkait posisi mahasiswa dalam merespons persoalan ketidakadilan sosial dan agraria di Indonesia.
Melalui kegiatan tersebut, Himatangbar bersama Benteng Society berharap dapat memperkuat solidaritas terhadap masyarakat Papua sekaligus mendorong tumbuhnya literasi visual di kalangan mahasiswa.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan komitmen untuk terus mengawal isu agraria serta hak asasi manusia melalui ruang-ruang diskusi lanjutan. | Fjr
![]()









