spot_img
spot_img

TOA, Antara Alat Bantu dan Alat Ganggu

Foto: TOA masjid (Istimewa).

SAAT awal radio masuk ke Arab Saudi, lahir kontroversi. Kaum ulama menolak sengit, ini barang setan! 

Karena ada benda mengeluarkan suara. Tapi segera reda, tak lama setelah suara di “kotak audio” itu mengumandangkan azan.

Anekdot ini terselip di halaman buku Islam, Doktrin, dan Peradaban, karya Nurcholis Madjid.

Cak Nur di buku itu tak hendak melucu. Melainkan mengungkap fakta, bahwa setiap muncul teknologi baru selalu diiringi dengan geger budaya, alias kegaduhan.

Baca Juga

Lebih-lebih bila barang baru ini berasal dari “pihak luar”.

Di Indonesia misalnya, awal-awal memakai kemeja dan dasi disebut kafir, londo ireng, dan ikut Nasrani. Intinya, kekagetan penerimaan awal (terhadap benda teknologi), selalu muncul.

Pun di Eropa, di saat mereka sudah masuk zaman pencerahan. Dulu di Eropa muncul teori, bahwa kecepatan mobil tak mungkin bisa sampai 150 KM per jam. Karena katanya fisik manusia tak akan kuat berada di kecepatan itu. Hari ini, Bugati, Ferrari, bahkan sudah melesat  di kecepatan 300 KM.

Lalu apakah masalah selesai, saat barang-barang rekayasa sains itu sudah lazim digunakan, alias diterima di mana-mana?

Justru di sini anehnya. Nyaris tiap benda kini berdampak melebar jauh dari fungsi inti. Handphone yang sejatinya penyambung komunikasi antar sesama, kini malah jadi alat yang memusingkan orang tua, karena lebih sering dipakai sebagai mainan, pembunuh waktu.

Dan inilah yang disebut eskalasi multifungsi. Karena setiap barang teknologi nyatanya bukan saja menjadi alat bantu, tapi juga bisa dimainkan sebagai alat ganggu. Termasuk, tentu saja, pengeras suara bernama TOA.

TOA jelas menjadi alat bantu untuk mengumumkan wafatnya amarhum, informasi jadwal Posyandu, mengundang bapak-bapak datang ke pengajian, peringatan Pak RT agar warga waspada ancaman maling, demo buruh, atau pemancing perhatian Shodaqoh jariah di jalanan. Dulu, sebelum era orgen tunggal, TOA menjadi wahana utama orang kawinan.

Nah, daftar panjang fungsi TOA ini, patut kita ulik. Guna memastikan bahwa alat temuan Tsunetaro Nakatani di tahun 1930an ini, bukan benda suci, sakral, dan haram diatur.

Seratus persen, TOA adalah barang material. Boleh diatur, dikendalikan, dibuat nyaman. Agar benar-benar menjadi “alat bantu” dan bukan “alat ganggu”.

Kata-kata dalam tanda petik barusan, “alat ganggu”, harus kita telisik hati-hati.

Foto: Ilustrasi suara TOA (Istimewa).

Mekanisme teknis dalam TOA adalah netral, dia butuh listrik, ampli, dan input suara. Di sini, tak ada pihak yang terganggu atau terbantu. Justru tatkala dia dibunyikan, akan ada sejumlah efek.

Efek teknis, yaitu kalau kekuatan desibel terlalu kuat. Membuat pekak. Dan warung sebelah yang sakit gigi menjadi kelojotan. 

Efek psikologis juga ada. Saat berbunyi berbarengan, dari tiap pojok, berdekatan, pasti tak nyaman. Ingat, TOA bukan hanya nyaring dari menara masjid (yang kadang lebih dari satu biji), tapi juga di musala, majelis, dan Ponpes. 

Berikut efek praktis. Fakta kerap terjadi, saking mudah digunakan, maka anak-anak belajar selawatan, saat magrib masih jauh. Namanya anak-anak, kadang sambil tertawa dan bercanda. Juga misalnya, ibu-ibu pengajian Sabtu pagi, yang sejak matahari terbit, sudah bersuara.

Tambahan lain, di luar agenda ibadah wajib yang lazim, kerap TOA digunakan terlampau bersemangat. Bulan Ramadan menyuarakan al Quran dari Youtube sampai larut, padahal di situ hanya ada satu dua jamaah. Pun di kampung, ekspresi nyaris histeris melantunkan marhabaan (Barzanji), padahal warga sekitar butuh ketenangan. 

Uraian di atas, sengaja menghindari poin kewajiban kita untuk menerima suara TOA untuk kumandang azan. Soal ini, sudahlah, memang sangat bisa kita terima.

Tapi yang lain-lain, sebaiknya memang diatur. Agar orang tak terlampau bersemangat, dan mengeluarkan ekspresi keagamaannya di depan microphone. Sebab bisa jadi mereka kurang ilmu, tak merdu, lalu mengganggu.

Dengan agak enggan, Saya mohon maaf, ingin mengatakan, bahwa faktanya, dari berbagai aspek, ada sisi gelap penggunaan TOA yang berlebihan. Makanya gagasan pengaturan TOA, mestinya menjadi sisi terang.

Kalaupun tak setuju dengan rencana Pak Menteri, baiknya memakai nalar bijak. Tidak asal melakukan perlawanan dan pembangkangan. Begitu.

*Ditulis oleh: Endi Biaro. Pegiat literasi.

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart