spot_img
spot_img

Pemuda Tangerang, Antitesis atau Dayang Kekuasaan

Foto: Kajian Tematik Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Cikupa.

Tulisan ini resume Kajian Tematik mingguan Gerakan Pemuda Ansor. Tema: Membaca Ulang Peran Pemuda Tangerang.

MEMBINCANG pemuda, mungkin klasik bagi sebagian orang. Tema ini terkesan monoton lantaran pembahasannya pasti berputar di situ-situ saja. Tak jauh, sebatas gerakan kaum muda terdahulu, dari mulai Budi Oetomo sampai Reformasi ’98.

Konon, bicara pemuda hanya serupa romantisme sejarah masa silam an sich. Tentang patriotisme, heroik, dan segala macam narasi menjenuhkan. Mungkin bagi sebagian orang membosankan karena hal itu sudah berulang sejak di bangku sekolah. Melalui pelajaran sejarah.

Namun, ada yang perlu digarisbawahi. Pemuda era terdahulu senyatanya mampu berkontemplasi terkait situasi yang dialami. Kaum muda masa lalu bisa menangkap realitas yang ada. Minimal tentang situasi yang dihadapi.

Pemuda era 1908, 1928, dan 1945, misalnya, mampu mengkonversi realitas yang tidak diinginkan menjadi kesadaran kolektif perlawanan. Selanjutnya teraktualisasikan lewat sebuah perjuangan. Dan hasilnya begitu terasa. Sampai saat ini.

Baca Juga

Mereka bisa bergerak bersama. Menuju visi tunggal. Oleh sebab adanya istilah yang biasa disebut common sense: penjajahan. Atau investor bagi pergerakan kaum muda 1974. Peristiwa Malari.

Musuh bersama adalah kata kunci bagi pemuda terdahulu. Angkatan ’28 memiliki musuh kolonialisme dan penjajahan. Angkatan ’45 juga demikian. Pergolakan melawan penjajah. Belanda dan Jepang. 

Sementara angkatan ’66 memiliki musuh orde lama. Untuk angkatan ’74 musuhnya geliat investasi asing ke Indonesia. Terakhir angkatan ’98, menajdikan rezim orde baru, di bawah kendali Soeharto sebagai musuh bersama.

Terlepas dari perdebatan yang mengiringinya, kelompok pemuda pada saat itu menempatkan diri sebagai kaum oposan. Berhadap-hadapan langsung dengan kekuasaan. Mereka begitu berpihak pada kaum lemah. Tidak melulu di menara gading. Dekat dengan kekuasaan.

Penulis tidak sedang bicara musuh dalam arti sebenarnya. Lawan yang dimaksud adalah antitesis dari tesis yang disampaikan oleh penguasa. Setiap kebijakan harus dimaknai sebagai tesis, dan perlawanan terhadap itu terus dilakukan. Tentu oleh golongan muda.

Meminjam pisau analisa Hegel tentang dialektika. Filsuf berkebangsaan Jerman ini kerap menyebutkan bahwa dialektika merupakan proses berpikir untuk mencapai kesempurnaan, di mana setiap tesis harus dicounter oleh antitesis agar kemudian menjadi sintesis sebagai penyempurnaan, begitu seterusnya.

Konteks kekinian, penulis hendak mengatakan bahwa idealnya pemuda harus menjadi antitesis dari tesis yang disajikan oleh kekuasaan. Tentu agar kemudian menjadi sintesis, dan terus berulang mengikuti pergerakan zaman. Karena itu juga yang dilakukan pemuda pendahulu kita.

Lantas, bagaimana dengan pemuda hari ini? Zaman di mana penjajahan kolonialisme sudah tidak ada lagi. Era keterbukaan dalam sistem demokrasi begitu bebas. Apakah memang harus berselingkuh dengan kekuasaan? Atau tetap menjadi penjaga nalar kritis masyarakat? Jawabannya tergantung dari sudut mana kita berangkat.

Orang besar yang lahir pada zamannya adalah mereka yang melulu menjadi antitesis dari kekuasaan. Sementara pemuda yang ikut dengan penguasa tak lebih hanya pemain latar dari drama yang sedang dimainkan kekuasaan. Hanya sebagai pengekor, bukan pelopor.

Contoh paling baik ada pada figur Gus Dur. Abdurrahman Wahid menjadi antitesis dari orde baru. Itu konsisten dilakukan. Cucu pendiri NU ini berada di luar garis kekuasaan. Bahkan bersebrangan. Berani puasa begitu lama. Menjadi oposan.

Posisi saat itu tidak mudah, bahkan saat Mukhtamar Cipasung, intimidasi kekuasaan begitu jelas. Namun Gus Dur bisa melewatinya. Sampai akhirnya berhasil memegang puncak kekuasaan, setelah sekian lama berada di jalur “kiri”. Antitesis Soeharto.

Tamsil di atas bisa dikatakan bahwa prototipe pemuda terdahulu adalah tipe petarung. Melawan arus. Tidak menjilat. Apakah tipe pemuda terdahulu beda dengan pemuda hari ini, lantaran situasi zaman yang terus berubah?

Terkait pertanyaan tersebut ada kisah menarik dari mitologi Yunani tentang seorang pemuda. Zaman kuno. Tentu sebelulum masehi.

“Dahulu kala ada seorang rupawan bernama Narcissus keturunan dewa sungai. Meski ia digandrungi para wanita, Narcissus lebih memilih melihat bayangan wajahnya di air yang jernih, dan akhirnya ia jatuh cinta terhadap bayangannya sendiri. Ia menjadi tinggi hati dan membanggakan keindahan yang dimilikinya. Pun di ujung kisah, ia harus mati dalam keputusasaan”.

Semoga itu hanya terjadi dalam mitologi Yunani. Bukan fenomena hari ini. Walaupun membaca perkembangan, sepertinya sedang menjurus ke arah itu. Lantas bagaimana dengan pemuda di Kabupaten Tangerang?

Sudahlah, lain kali saja kita bahas dengan mitologi yang lebih unik dan menggemaskan. Kurang elok menilai gerakan kaum muda Tangerang dengan hanya satu contoh. Perlu sekira dua atau tiga pertemuan lagi.

Tidak perlu disimpulkan hari ini. Lagi pula ini baru diskusi pembuka. Tak elok tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Toh pada kenyataannya, pemuda Tangerang memang lebih senang dekat kekuasaan, dari pada menyampaikan antitesis. Barangkali itu juga. Bukan kesimpulan.

*Ditulis oleh: Ahmad Nurholis. Biasa dipanggil Demank. Warga Desa Talaga Kecamatan Cikupa. Aktif di Gerakan Pemuda Ansor.

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart