Menyibak Kasus Pembunuhan, Titik Lemah Kepolisian dan Konstruksi Framing Media

Oleh: Eko Supriatno*

SUDAH hampir dua bulan kasus pembunuhan sadis ibu-anak di Subang belum juga terungkap. Bak sinetron, pengungkapan kasus pembunuhan ini mampu membius pemirsa untuk terkesima terhadap pemikiran, sikap, dan perilaku pihak-pihak yang terlibat.

Sebagai tontonan, seluruh fenomena yang terjadi di dalam penyelidikannya, tergolong unik, dan mungkin mengasyikkan. Tetapi, untuk dijadikan sebagai tuntunan, ada beberapa catatan hukum yang patut dikaji seksama.

Kasus pembunuhan sadis ini memang melahirkan sejumlah fenomena. Ada magnet tersendiri. Hingga ada sejumlah stasiun TV yang berlomba menyiarkan secara live dari TKP kejadian.

Masyarakat pun tersihir hiruk pikuk penyelidikan. Ibu-ibu rela meninggalkan channel sinetron. Semua orang pun jadi ahli hukum dadakan dengan analisis hukum sendiri-sendiri hingga persoalan mistis. Bahkan, ada yang bertaruh.

Baca Juga

Menurut penulis, pembuktian kasus pembunuhan ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Apalagi, kasus tersebut mengungkap pembunuh yang punya nyali.

Pembunuhnya merupakan sosok yang tenang dan alot. Selalu bisa berkelit dan beralibi. Seluruh gerak-gerik yang diselidiki bukankah dapat direview dan dianalisis?

Menurut penulis, kalau kukuh dengan pendapat tersebut, hingga kiamat pun kasus itu tidak akan pernah sampai terungkap. Akan menjadi X-file sepanjang zaman.

Menghadapi kasus superpelik tersebut, menurut penulis polisi harus berani menerapkan prinsip beyond reasonable doubt. Teori di batas keraguan. Dalam teori itu, ada seseorang yang bisa menjadi pelaku dan tidak ada yang bisa menggantikan posisinya.

Untuk menentukan orang itu, bisa dilihat kronologi, alibi, maupun bukti-bukti petunjuk yang ada. Artinya, siapa yang paling punya motif serta siapa yang mempunyai gelagat paling aneh, dialah pelakunya.

Itulah yang pernah diterapkan aparat penegak hukum dalam kasus Munir dan Mirna. Pollycarpus dan Jesica-lah yang diketahui punya gelagat paling aneh.

Bagaimana dengan kasus dugaan pembunuhan sadis ibu-anak di Subang? Benarkah Yosef atau Yoris adalah orang yang punya gelagat paling aneh? Kalau iya, berarti belajarlah dari kasus Munir dan Mirna. Semoga aparat penegak hukum semakin yakin terhadap orang yang punya gelagat paling aneh itu sebagai pelakunya.

Titik Lemah Kepolisian

Ragam proses penyelidikan sendiri dilakukan oleh tim gabungan Polres Subang, Polda Jabar dan Bareskrim Mabes Polri. Adapun ragam penyelidikan mulai dari autopsi, tes kebohongan, autopsi ulang hingga terakhir pendalaman aliran dana dilakukan.

Kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang belum kunjung terungkap. Polisi masih tampak kesulitan untuk dapat mengungkap misteri pembunuhan ini. Bisa jadi karena polisi terlalu terburu-buru menyatakan (pelaku) orang dekat. Ada sesuatu kekeliruan dari perkiraan awal, penyidik, analisa bukti, alibi yang ternyata di luar dugaan.

Ternyata selain kasus tersebut, Polres Subang juga belum berhasil mengungkap dua kasus pembunuhan lainnya. Pertama kasus pembunuhan seorang bocah berusia tujuh tahun yang terjadi pada 17 Januari 2021.

Foto: Ilustrasi pembunuhan (Istimewa).

Kasus tersebut juga terjadi di Kecamatan Jalancagak, Subang. Saat itu warga dihebohkan dengan penemuan karung yang menimbulkan bau bangkai. Setelah dibuka ternyata berisi mayat bocah perempuan. Tidak hanya pelaku, identitas korban pun hingga kini belum terungkap.

Kasus kedua yaitu pembunuhan seorang perempuan paruh baya di Kecamatan Pamanukan, terjadi pada tiga tahun silam tepatnya 10 Agustus 2018. Hingga kini kasus tersebut belum berhasil diungkap oleh Satreskrim Polres Subang. Bahkan untuk kasus pembunuhan ibu dan anak, Polres Subang dibantu oleh Polda Jabar dan Bareskrim Polri.

Mandeknya sebuah kasus pembunuhan adalah menunjukkan titik lemah kepolisian. Ini memang penyakit di kepolisian: Menghadapi cold cases (kasus mandek) dengan gaya biasa.

Kalau kita bicara pengalaman-pengalaman negara luar negeri, Eropa terutama, maka kasus-kasus yang tidak bisa diungkap dimasukkan ke dalam kelompok cold cases, yang cara penanganannya juga beda dengan kasus-kasus yang datang ke kepolisian dan asumsinya dapat dipecahkan dengan mudah.

Kasus-kasus mangkrak itu idealnya dikerjakan di direktorat khusus tanpa mengejar kecepatan dan tanpa batasan biaya. Dengan begitu, harapannya, kasus yang mulanya beku (cold) dapat kembali menghangat (hot) sehingga lambat-laun dapat terkuak.

Kepolisian kita memperlakukan semua kasus cold dan hot cases sama. Akibatnya, kasus-kasus sulit seperti pembunuhan Subang, yang tempat kejadian perkaranya (TKP) saja rusak, akan terus ada di tumpukan bawah, tertimbun kasus-kasus yang lebih mudah dipecahkan.

Dengan sistem kinerja yang berlaku di kepolisian, misalnya sebagai anggota Polri di bidang serse, tentu mereka ingin mencari poin, maka yang kemudian yang harus mereka urus adalah kasus-kasus yang bisa mendatangkan poin, yang mudah, jelas buktinya, jelas saksinya, jelas pasalnya, TKP-nya tidak rusak.

Cold cases makin ada di tumpukan bawah dari kasus-kasus yang bisa diselesaikan, yang bisa menjanjikan kinerja, dan ketika ditarik anggaran dapat dipertanggungjawabkan dengan mudah karena output-nya jelas.

Penulis menyarankan, kasus pembunuhan di Subang ini dilimpahkan ke Mabes Polri dan diserahkan kepada para ahli yang konsen di sana. Bagaimanapun, Polres Subang dianggap terlalu kecil untuk bisa mengurai kasus serumit itu.

Apalagi, sudah lama tak kunjung terungkap, pengungkapan kasus juga makin susah sebab saksi-saksi sudah terpencar dan memori mereka boleh jadi telah luntur. Jangankan yang bersifat penanganan khusus, yang untuk biasa-biasa saja SDM-nya kurang.

Konstruksi Framing Media

Dalam dua bulan terakhir, media massa seperti tidak habis-habisnya membahas sangkaan pembunuhan dalam kasus ini. Hal yang menarik bagi penulis justru bukan pada mengapa dan bagaimana pembunuhan itu terjadi, tetapi pada bagaimana kasus itu diberitakan atau diperbincangkan.

Berbagai penelitian memperlihatkan, pembunuhan adalah bentuk kejahatan yang paling menarik perhatian media massa. Bad news is good news, mungkin begitulah pembunuhan dilihat dalam konteks nilai berita.

Baca Juga

Pembunuhan adalah bentuk kejahatan kekerasan yang cenderung disebabkan oleh persoalan interpersonal. Sederhananya, pembunuhan terjadi karena adanya sengketa personal di antara pelaku dan korban, seperti dendam karena hinaan, masalah hutang piutang, perebutan harta, perselisihan dalam pekerjaan, hingga masalah percintaan.

Kejahatan ini masuk dalam kategori yang serius karena menghilangkan sesuatu yang dinilai paling berharga bagi diri manusia, yaitu kehidupannya. Pembunuhan pun turut memberikan dampak terhadap keluarga atau masyarakat.

Kedua hal ini pulalah yang semakin membuat pembunuhan sangat menarik untuk diberitakan. Namun demikian, memberitakan pembunuhan tidak sama dengan menjelaskannya secara mendalam dalam sebuah penelitian ilmiah.

Bila penelitian disusun dengan keharusan metodologis yang jelas dan handal, tidak demikian dengan pemberitaan. Pemberitaan cenderung merubah fenomena empiris menjadi fenomena yang sangat berbeda di dalam teks, audio, visual, dan audio visual. Sulit untuk menerima berita sebagai realitas empiris.

Framing terjadi secara tidak proporsional, maka publik akan dihadapkan pada beberapa dampak.

Pertama, pemberitaan dapat menciptakan perbedaan makna kejahatan di masyarakat. Media dapat menganggap suatu kejahatan masuk dalam kategori sangat serius sementara masyarakat atau bahkan penegak hukum menilai sebaliknya.

Fiona Brookman dalam bukunya Understanding Homicide (2005) menjelaskan bahwa pembunuhan adalah sebuah kejahatan yang maknanya dikonstruksi secara sosial.

Dalam hal ini juga dilakukan oleh media. Barry Mitchell (1998) juga menjelaskan hal serupa. Menurutnya, persepsi publik yang keliru terhadap pemberitaan pembunuhan di media terjadi karena media tidak memberikan informasi yang cukup dan bahkan tidak tepat tentang peristiwanya.

Kedua, amplifikasi kejahatan di media massa dapat berdampak pada munculnya ketakutan akan kejahatan (fear of crime). Di satu sisi, fear of crime dapat bermakna rasional ketika ketakutan akan membentuk kewaspadaan. Namun di sisi lain, ketakutan merupakan respons yang tidak beralasan, dan ini terbentuk dari pemberitaan yang tidak proporsional dari media massa.

Ketiga, media dapat mendramatisasi kejahatan menjadi sesuatu layaknya sinetron atau telenovela. Kasus Pembunuhan di Subang dalam pandangan penulis sedang berhadapan dengan dampak yang ketiga ini, dengan berbagai spekulasi yang muncul di seputaran kasus ini.

Peran media tidak mendidik atau memberikan informasi secara akurat, namun lebih untuk menjual medianya agar laku. Hal ini menjelaskan mengapa memberitakan pembunuhan, berikut dramanya, adalah sesuatu yang sangat menjual.

Sementara di lain pihak, media merupakan kontributor yang kuat terhadap pengetahuan dan kesadaran publik mengenai kejahatan. Dapat dibayangkan, kemungkinan terjadinya pemahaman yang salah tentang apa sebenarnya pembunuhan itu dari sisi keilmuan (baik psikologi maupun kriminologis).

Foto: Ilustrasi pembunuhan (Istimewa).

Masih mengenai dramatisasi pembunuhan, Lizzie Seal, menambahkan melodrama adalah frame pilihan media dalam membentuk cerita, yang cenderung memainkan emosi. Pemberitaan justru mengajak publik untuk larut dalam amarah atau kebencian. Hal mana menjadi masalah bila ternyata yang dituduh membunuh bukan pelaku sebenarnya.

Media massa adalah bisnis, sehingga aspek dramatis dari sebuah peristiwa akan dilihat sebagai sesuatu yang juga penting selain substansinya. Kemasan juga penting dalam hal ini. Bila tidak dikemas menarik, siapa yang akan tertarik membaca atau menonton.

Perubahan ke arah online media turut mendorong pemikiran ke arah tidak hanya pentingnya kemasan, tetapu juga soal kecepatan. Sejatinya, peran media massa adalah agen sosialisasi sekunder, namun di saat yang sama juga merupakan bisnis yang berorientasi pada keuntungan.

Dalam konteks pembunuhan, pemberitaan media mungkin tidak memberi manfaat sama sekali dalam konteks pencegahan mengingat sifat interpersonal dari kejahatan kekerasan ini. Namun media perlu menyadari bahwa pemberitaan dapat membentuk persepsi yang tidak proporsional di publik tentang pembunuhan.

Terlepas dari bagaimana kegeraman publik terhadap sangkaan pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat dalam kasus pembunuhan di Subang, media massa seharusnya memahami batas dari pemberitaan, seperti tidak justru masuk ke dalam berbagai spekulasi diseputar kasus.

Hal ini penting disadari karena benar atau tidaknya pembunuhan tersebut dilakukan oleh orang-orang terdekat tersebut.

Dari sisi penegakan hukum, pemberitaan secara positif dapat berperan sebagai kekuatan pendorong agar dilakukannya pencegahan atau penegakan hukum. Masyarakat awam, pemirsa televisi menyaksikan betapa sibuk aparat penegak hukum memutar otak, bersilat-lidah, berargumentasi, sekalian mencocokkannya dengan ketentuan hukum yang relevan.

Mereka seolah operator-operator hukum yang sedang memasukan data ke dalam “komputer hukum” agar keluar hasil akurat seperti diinginkan. Kerja mereka sangat teknologis. Terkait dengan catatan hukum di atas, patut dipahami bahwa penyelidikan sebagai institusi moral mestinya menampung harapan dan cita-cita moral masyarakat yakni terwujud keadilan substantif.

Kemampuan segenap penegak hukum dalam memenuhi harapan masyarakat tersebut berpengaruh terhadap tingkat kepercayaannya kepada proses penyelidikan. Konkretnya, pengungkapan tersangka dapat dipastikan memunculkan pro dan kontra.

Kepercayaan masyarakat terbelah. Artinya, hukum tidak dapat dipercayai sepenuhnya sebagai rumah keadilan, apalagi institusi pemersatu bangsa. Bila masyarakat dan pengadilan masing-masing mengklaim pada kebenaran pendapatnya, sangat dikhawatirkan wibawa aparat penegak hukum semakin merosot. Gangguan terhadap netralitas aparat sebagai institusi moral terindikasikan sedemikian besar dan kompleks.

Banyak keanehan terjadi. Sering pula ada logika dipaksakan, jauh dari akal sehat masyarakat awam. Proses penyidikan menjadi esoterik. Betapa pun sulit membuktikan, jiwa sosial berbisik bahwa proses penyidikan telah teracuni kepentingan ekonomi, sosial, politik, budaya, dan sebagainya.

Dalam perspektif sosiologis dan moralitas hukum, masyarakat sulit meyakini bahwa para operator hukum jujur menegakkan hukum demi keadilan substantif. Masyarakat tak tahu persis apa yang ingin diraihnya dalam peran masing-masing.

Diduga, ada “udang di balik batu”. Dugaan demikian itu wajar dan rasional. Mengapa? Karena, hukum merupakan instrumen strategis bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Jangan lupa, hukum dapat digunakan sebagai alat memperkaya diri sendiri, atau alat memenjarakan orang lain, atau menutupi kesalahan seseorang, dan sebagainya.

Bila pengamatan ini valid, dalam kerangka reformasi hukum, dibutuhkan pembenahan sistem penegakan hukum, utamanya tertuju pada hukumnya, kualitas sumber daya manusianya, dan budaya hukumnya.

Ke depan para aparat penegak hukum diharapkan tidak lagi berhadap-hadapan, bertempur, dan saling mendiskreditkan, melainkan menjadi satu skuadron pemberantas kejahatan dan pelayan pencari keadilan yang visioner, berintegritas, dan profesional. Wallahualam.

*Penulisn merupakan Dosen Fakultas Hukum dan Sosial UNMA Banten, Pembina Future Leader for Anti Corruption (FLAC) Regional Banten.

 1,790 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini

TANGERANG | Paradigma Indonesia baru-baru ini merilis hasil survei. Potret suara publik terkait beberapa tokoh yang layak menjadi Gubernur Banten. Survei Menuju Pilgub 2024 ini...

LEBAK | AU, mantan Kepala Desa Pasindangan (49), Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak diduga telah menggelapkan uang Bantuan Langsung Tunai (BLT) milik warganya. Informasi yang dihimpun,...

TANGERANG | Warga Desa Pasir Bolang Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang mendatangi Gudang Alfamart. Menyampaikan tuntutan pengelolaan limbah kardus. Kedatangan puluhan warga diduga kuat karena kepentingan...

Oleh: Aditya Hidayatulloh* BELAKANGAN, buruh Tangerang sedang disibukkan dengan tuntutan kenaikan UMR (Upah Minimum Regional), yang kini telah resmi diganti menjadi UMP (Upah Minimum Provinsi)...

VINUS TV

BERITA TERBARU

Rano Karno Masih Paling Populer di Banten, Ungguli Seluruh Kepala Daerah

BANTEN | Temuan hasil survei jelang Pilgub Banten 2024 oleh Paradigma Indonesia menunjukan Rano Karno berada di posisi teratas. Baik tingkat keterkenalan maupun kesukaan. Hal...

Menuju Pilgub Banten, Dua Tokoh Tangerang Masuk Radar Cagub

TANGERANG | Paradigma Indonesia baru-baru ini merilis hasil survei. Potret suara publik terkait beberapa tokoh yang layak menjadi Gubernur Banten. Survei Menuju Pilgub 2024 ini...

Kisah Rizki, Anak Tukang Kue Berhasil Lolos Tes Polisi

BANTEN | Meski terlahir dari keluarga kurang mampu, tak menyurutkan niat Rizki untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang anggota polisi. Hal itu terungkap saat tim Humas...

Job Fair dan Kinerja Disnaker, Seremoni Minus Inovasi

Oleh: Aditya Hidayatulloh* BELAKANGAN, buruh Tangerang sedang disibukkan dengan tuntutan kenaikan UMR (Upah Minimum Regional), yang kini telah resmi diganti menjadi UMP (Upah Minimum Provinsi)...

Ada Kotak Uang di Toilet SPBU Bugel, Katanya Kencing Rp2000

  TANGERANG | Warga Tigaraksa mengeluh, masuk toilet SPBU Bugel Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang harus mengeluarkan uang. Untuk kencing saja Rp2000. Keluhan itu salah satunya datang...

Indikasi Gelapkan Uang BLT, Mantan Kepala Desa Ini Terancam Penjara Seumur Hidup

LEBAK | AU, mantan Kepala Desa Pasindangan (49), Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak diduga telah menggelapkan uang Bantuan Langsung Tunai (BLT) milik warganya. Informasi yang dihimpun,...

Refleksi Hari Guru Nasional 2021: Ujung Tombak Menuju Generasi Emas

Oleh: Teti Surtikah* 25 November 2021, Indonesia kembali memperingati Hari Guru Nasional (HGN). Momentum sakral ini selalu kita rayakan bersama oleh setiap para Pendidik dan...

Bikin Malu! Rebutan Limbah, Kades Pasir Bolang Kerahkan Warga Demo Perusahaan

TANGERANG | Warga Desa Pasir Bolang Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang mendatangi Gudang Alfamart. Menyampaikan tuntutan pengelolaan limbah kardus. Kedatangan puluhan warga diduga kuat karena kepentingan...

Terkait Staf Baru Desa Pasanggrahan, BPD: Belum Sah Secara Hukum

TANGERANG | Perangkat Desa Pasanggrahan Kecamatan Solear sampai saat ini belum mengantongi Surat Keputusan (SK) sebagai pegawai. Hal ini disampaikan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pasanggrahan....

IKLAN

BERITA TERPOPULER

Bendera Negara Asing Berkibar di Klinik Milik PNS, Warga Minta Aparat Bertindak Tegas

TANGERANG | Pemandangan kurang pantas terjadi di Perumahan Villa Tangerang Elok Kelurahan Kuta Jaya Kecamatan Pasar Kemis Kabupaten Tangerang. Berkibar bendera Palestina tanpa berdampingan...

Setelah Didemo Warga Terkait BLT, Kepala Desa Lebak Wangi Gantung Diri

TANGERANG | Kabar duka datang dari Kepala Desa Lebak Wangi Kecamatan Sepatan Timur Kabupaten Tangerang. Setelah sebelumya didemo masyarakat terkait transparansi bantuan Covid-19, Kepala...

Warga Sekitar Kawasan Millenium Butuh Pekerjaan, Pabrik Lebih Memilih Titipan Dinas

TANGERANG | Puluhan warga berunjuk rasa di depan PT Green Source Indonesia (GSI) yang berlokasi Kawasan Industri Millenium Kelurahan Kaduagung Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang. Tidak...

Banten Berduka, Abuya Uci Cilongok Tutup Usia

TANGERANG | Kabar duka, Pengasuh Pondok Pesantren Al Istiqlaliyah Cilongok Kecamatan Pasar Kemis Kabupaten Tangerang, Abuya Uci Cilongok tutup usia. Informasi yang dihimpun Vinus, Abuya...

Banten Berduka, Qori Internasional Hawasyi Nawawi Tutup Usia

TANGERANG | Kabar duka datang dari Qori Internasional sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Quran Annawawiyah, KH. Hawasyi Nawawi. Kepastian kabar duka itu dibagikan keluarga besar, santri,...

Miris, BLT Pusat Terindikasi Diselewengkan Aparat Kelurahan Sukamulya

TANGERANG | Merasa janggal terkait undangan pencairan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari APBN melalui Kantor Pos, Siti Aminah mempertanyakan bantuan yang hendak...

Dampak Covid-19, Ratusan Pekerja PT Universal Luggage Indonesia Diberhentikan

TANGERANG | Di tengah pandemi Covid-19, sebanyak 300 lebih tenaga kerja kontrak diberhentikan sepihak oleh PT Universal Luggage Indonesia. Perusahaan yang berlokasi di Desa...

AGENDA

BERITA TERKAIT

Job Fair dan Kinerja Disnaker, Seremoni Minus Inovasi

Oleh: Aditya Hidayatulloh* BELAKANGAN, buruh Tangerang sedang disibukkan dengan tuntutan kenaikan UMR (Upah Minimum Regional), yang kini telah resmi diganti menjadi UMP (Upah Minimum Provinsi)...

Refleksi Hari Guru Nasional 2021: Ujung Tombak Menuju Generasi Emas

Oleh: Teti Surtikah* 25 November 2021, Indonesia kembali memperingati Hari Guru Nasional (HGN). Momentum sakral ini selalu kita rayakan bersama oleh setiap para Pendidik dan...

Konsep Sosiologi Islam dan Ideologi Dunia, Sebuah Telaah Kritis

Oleh: M. Harikal Ramadhan Pohan* PEMBAHASAN mengenai sosiologi Islam dan ideologi dunia, pada prinsipanya bukan sesuatu yang baru. Kaum terdidik sudah lama mendalaminya. Namun, sampai...

Memahami Analisis Stilistika, Sebuah Pendekatan Gaya Bahasa Puisi

Oleh: Jatmiko* DALAM sebuah bentuk karya sastra, sudah menjadi kewajiban bagi penulis untuk membuat sesuatu yang sulit untuk diterka. Ini salah satu cara agar pembaca...

Wanita Itu Tulang Rusuk, Bukan Tulang Punggung

Oleh: Erna Ummu Aqilah* RASULULLAH saw. bersabda: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah." (HR. Muslim). Hadis di atas menjelaskan bagaimana mulianya...

Pergeseran Budaya Arab: Antara Tradisi dan Modernisasi

Oleh : Abdul Haris* SEBAGAI umat beragama di bawah naungan panji Islam, kita semua tetap memberikan perhatian khusus terkait berbagai fenomena yang melibatkan kebudayaan Islam....

Memaknai Hari Santri Nasional

Oleh: Muhdi Perdiansyah* SANTRI, ketika mendengar kata ini apa yang terlitas di pikiran ? Ya, mungkin jawabannya ialah kaum sarungan, berkopiah, atau pun yang mengkaji...

IKLAN

SEPUTAR BANTEN

Kisah Rizki, Anak Tukang Kue Berhasil Lolos Tes Polisi

BANTEN | Meski terlahir dari keluarga kurang mampu, tak menyurutkan niat Rizki untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang anggota polisi. Hal itu terungkap saat tim Humas...

Indikasi Gelapkan Uang BLT, Mantan Kepala Desa Ini Terancam Penjara Seumur Hidup

LEBAK | AU, mantan Kepala Desa Pasindangan (49), Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak diduga telah menggelapkan uang Bantuan Langsung Tunai (BLT) milik warganya. Informasi yang dihimpun,...

Tol Serang-Rangkas Diresmikan, Gubernur Banten: Saya Bangga

BANTEN | Jalan Tol Serang-Panimbang, Seksi I Serang-Rangkasbitung akhirnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Berlangsung di Gerbang Tol Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, pada Selasa, (16/11). Peresmian...

Perhatian! Mulai Besok Polisi Lakukan Operasi Zebra

  TANGERANG | Selama dua pekan, Direktorat Lalu lintas (Ditlantas) Polda Banten dan jajaran akan menggelar operasi Zebra Maung 2021. Mulai Senin, 15 hingga 28...

Gubernur Banten Dukung Kehadiran JMSI Banten 

SERANG | Gubernur Banten Wahidin Halim mendukung kehadiran organisasi Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) tingkat Provinsi di wilayahnya.  Wahidin Halim mengatakan, di Banten ini banyak...

Petugas Hotel Pandeglang Raya Temukan Mayat Tak Berbusana

BANTEN | Petugas hotel di Pandeglang menemukan seorang pria tak bernyawa. Terbujur kaku dan tidak berbusana. Belakang diketahui pria tersebut berasal dari Lebak. Pria berusia...

HMB Minta BKD Banten Bersih Dari Praktik Jual Beli Jabatan

BANTEN | Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Banten harus memperhatikan beberapa dasar saat melakukan pengisian jabatan birokrasi. Seperti kualifikasi, kompetensi, kualitas kinerja, dan rekam...

IKLAN

SEPUTAR DESA

Ini Jadwal dan Tahapan Pilkades Serentak Kabupaten Tangerang

TANGERANG | Jadwal tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 77 desa se-Kabupaten Tangerang telah selesai dibahas. Bahkan sudah mulai disosialisasikan oleh dinas terkait. Mulai...

Banyak Kejanggalan, Belasan Warga Cibadak Datangi Kecamatan, Persoalkan Penggunaan Dana Desa

TANGERANG | Penggunaan dana desa sejatinya diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, pemberdayaan, dan penyelenggaraan pemerintahan desa. Transparansi penggunaan Dana Desa mutlak adanya. Agar publik bisa mengetahui....

Realisasi Pembangunan Desa Bantar Panjang Banyak Masalah, Camat Tigaraksa Tetap Rekomendasi Pencairan

TANGERANG | Carut-marut realisasi pembangunan Desa Bantar Panjang Kecamatan Tigaraksa tidak berarti kucuran dana dari pemerintah tersendat. Hal ini terbukti dari terus berlangsung pencairan dana...

Refleksi 7 Tahun UU Desa: Ingat, Desa Membangun, Bukan Membangun Desa

TANGERANG | Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa sudah memasuki tahun ketujuh. Sejak disahkan pada 15 Januari 2014. Dalam rangka refleksi 7 tahun terbitnya...

Pengumuman: Pilkades Tangerang Digelar Juli 2021

TANGERANG | Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 77 desa se-Kabupaten Tangerang akan digelar bulan Juli tahun ini. Adapun terkait tahapan dimulai pada...

Pemdes Pete Tetapkan 362 Penerima BLT Dana Desa

TANGERANG | Pemerintahan Desa Pete Kecamatan Tigaraksa melakukan Musyawarah Desa. Agenda tersebut membahas validasi, finalisasi, serta penetapan calon penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang...

Serdang Wetan Wakili Banten Dalam Ajang Pemilihan Desa Brilian Bacth 1 Tingkat Nasional

TANGERANG | Penghargaan tingkat nasional diberikan kepada 10 desa pada program Desa Brilian Bacth 1 tahun 2021 oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI). Salah satunya...