spot_img
spot_img

Membaca Ulang Konsep Nasakom Soekarno

Foto: Penulis Ahmad Sahlul Mafakhir Kaffa El Farazdaq.

PAHAM komunis awal mula tercipta karena bentuk protes Karl Marx terhadap kaum kapitalis. Kala itu, ia memperjuangakan kaum buruh yang bekerja berjam-jam dengan upah sangat minim.

Ajaran Karl Marx tersebut meluas sampai ke penjuru dunia. Tak terkecuali Indonesia. Dibawa oleh Henk Sneevliet.

Sementara Soekarno, awal mula jatuh cinta pada marxisme atau komunisme ketika umur 19 tahun. Ia mengenal marxisme dari C. Hartogh, seorang sosialis demokrat.

Selain itu, Soekarno mengenal marxisme pula karena D.M.G Koch, seorang juru bicara ISDP yang sering meminjamkan buku marxisme padanya saat mengenyam pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool) di Surabaya.

Baca Juga

Sejak saat itu Soekarno menjadikan ajaran marxisme sebagai pisau analisis dalam mengurai pandangan sosialnya. Usai lulus HBS tahun 1920, ia melanjutkan studi ke THS (Technische Hoogeschool), atau yang saat ini kita sebut kampus ITB.

Tiga bulan setelah Soekarno muda lulus kuliah, dia menulis rangkaian artikel berjudul nasionalisme, islamisme, dan marxisme dalam sebuah terbitan milik PIM (Pemuda Indonesia Muda).

Yang menarik perhatian kaum pelajar kala itu, ia mengusulkan dan menekankan pentingnya persatuan kaum nasionalis, marxis, dan islamis dalam satu front untuk melawan perlawanan tanpa kompromi (non-kooperatif) terhadap Belanda.

Dalam rangka menyatukan itu semua dan menangkal ideologi komunis yang bertentangan dengan agama, maka pada 1926, Soekarno membuat satu ideologi pokok pemikiran yang dinamakan NASAKOM, kependekan dari Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Namun, komunis yang dimaksud Soekarno ialah lebih kepada sosialis.

Kemudian disusul pada 1927, Soekarno merumuskan ajaran marhaenismenya dan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Dengan tujuan agar terciptanya negara Indonesia yang merdeka.

Akibatnya, karena tindakan tersebut pada tahun 1929, Soekarno dimasukkan ke penjara Sukamiskin oleh Belanda. Delapan bulan setelah dipenjara barulah kemudian ia disidangkan.

Alih-alih menyerah setelah dipenjara 8 bulan, Soekarno malah melakukan pembelaan dan menunjukkan ‘kemurtadannya’ pada Negeri Kincir Angin tersebut. Melalui pembelaanya yang berjudul Indonesia Menggugat.

Pembelaan Soekarno itu membuat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda semakin panas kuping dan marah. Akibatnya pada 1930 PNI dibubarkan dan 1931 Soekarno dibebaskan.

Foto: Ilustrasi Nasakom (Istimewa).

Soekarno ingin marxisme bersatu dalam NKRI, tetapi tidak dengan ideologi komunis yang tidak demokrasi dan tidak mengenal Tuhan. Salah satu bukti bahwa gagasan Soekarno yang berbau kiri ialah sila ke 5, berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Dengan begitu, lantas apakah Soekarno seorang komunis? Bukan. Soekarno ialah seorang pemikir yang menyatukan berbagai ideologi komunis, nasionalis, demokratis, dan agamais dalam satu kalimat yang kita kenal: Pancasila.

Soekarno merupakan pejuang dengan mata dan batin yang menyala-nyala. Manusia yang berani menunjukkan cintanya pada bangsanya sendiri. Sehingga dia tidak akan mengikuti ideologi bangsa lain. Baik blok sekutu atau pun blok sentral.

Lalu mengapa Soekarno dituduh komunis? Semenjak tahun 1923 PKI mendukung demonstrasi dan pemogokan pegawai kereta api. Mengakibatkan pendiri PKI yaitu Semaun dibuang ke luar negeri. Kemudian aksi PKI dilanjutkan dengan aksi-aksi demonstrasi yang lebih radikal dan frontal dari sebelumnya.

Pada dasarnya Soekarno dan PKI punya tujuan dasar yang sama, yaitu antikolonialisme dan antikapitalisme. Akan tetapi ibarat minyak dan air, walaupun api gagasan marhaenisme dan Nasakomnya Soekarno adalah berawal dari marxisme, tetapi ia tidak sepenuhnya setuju dengan ideologi komunis tersebut. Bahkan Soekarno pernah berkata

“Orang komunis menginginkan satu bangsa di dunia. Mereka justru menandakan nasionalisme untuk menghadirkan internasionalisme”.

Soekarno ialah seorang nasionalis revolusioner. Seorang ultranasionalis, seorang supranasionalis. Dan yang pasti jelas ia bukanlah seorang komunis.

Singkat cerita, Presiden Soekarno berhasil dikudeta melalui peristiwa politik yang dimainkan Soeharto dengan isu G30S/PKI. Tak hanya itu, organisasi KAMI (Kalangan Aksi Mahasiswa Indonesia) ingin dibubarkan oleh Soekarno karna diduga antek-anteknya Soeharto.

Dalam buku Menyibak Tabir Orde Baru, Soeharto menerima beberapa pentolan KAMI di kediamaannya. Mereka mempertanyakan mengapa Soeharto membiarkan Soekarno membubarkan organisasi KAMI. Jawaban Soeharto sangat tegas: “Kalau kalian ingin saya memimpin, ikuti cara saya”. Begitulah ucapan yang terdengar dari Bapak Pembangunan ini.

Soeharto saat itu sedang menyiapkan langkah demi langkah untuk menggulingkan Presiden Soekarno. Karena ia sadar, pada saat itu Soekarno masih kuat nan perkasa di kalangan militer. Kharismanya masih memikat hati rakyat. Maka dari itu Soeharto memerlukan mahasiswa turun ke jalan dengan isu pembubaran PKI.

Foto: Presiden Sukarno dan Soeharto (Istimewa).

Mereka dapat diandalkan sebagai kekuatan ‘pendobrak’. Akhir cerita dengan Supersemar dan isu G30S/PKI, Soeharto berhasil menumbangkan Presiden Soekarno.

Tidak puas hanya sampai di puncak kekuasaannya sebagai presiden, Soeharto pun memenjarakan Soekarno sebagai tahanan politik pada saat itu. Kemudian guna membersihkan dan menciptakan nama Soeharto sebagai pahlawan Indonesia dari komunis, ia melakukan de-Soekarnoisasi dan mendoktrin seluruh rakyat Indonesia, bahwa komunis ialah ideologi yang mengerikan.

Padahal, jika saja pada saat Soekarno masih berkuasa nan gagah, ia ingin menghajar Soeharto yang saat itu sudah ada gelagat membangkang, pastilah sudah hilang bak tertelan bumi.

Bahkan pada saat gejolak panas politik tersebut melanda Jakarta, pasukan KKO, Auri, dan Brimob sangat berharap agar mendapat instruksi dari Soekarno untuk terjadinya pertumpahan darah kepada Soeharto dan simpatisannya.

Namun, begitulah Soekarno. Ia seorang pemimpin berjiwa besar, tegar dan tidak ingin adanya pertumpahan darah antara bangsanya sendiri. Begitu besarnya jasa Bung Karno untuk bangsa ini, beliau rela dicaci maki, difitnah, dipropaganda, asal bangsanya selamat.

Terakhir, untuk Soekarno dan Soeharto, lahuma al faatihah.

*Ditulis oleh: Ahmad Sahlul Mafakhir Kaffa El Farazdaq. Asal Kabupaten Tangerang.

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart