Mengenang Ideologi Soekarno Muda

Oleh: Teguh Santosa*

SEKARANG rakyat Indonesia sedang mengenang Hari Pancasila, 1 Juni, yang tentu saja akan mengenang pencetusnya yakni Bung Karno (BK). Pada saat bersamaan situasi politik kaum Soekarnois terbelah memanas karena terkesan rivalitas pewaris ideologi Marhaenisme menuai kecemasan publik, antara Puan Maharani dan Ganjar Pranowo.

Klaim Marhaenisme ini baru-baru ini disematkan Dhaniel Dhakidae, ahli politik, pada PDIP sebagai pewaris sah Marhaenisme sampai saat ini. Apakah ideologi Marhaenisme itu?

Apakah Puan Maharani versus Ganjar melakukan rivalitas karena pertarungan tafsir baru ideologi Marhaenisme? Apakah pengikut Puan dan Ganjar terbelah secara ideologis seperti pengikut Stalinism versus Trotskyism dulu di Rusia? Atau keterbelahan pengikut Tan Malaka versus Bung Karno diawal Revolusi Kemerdekaan kita?

Meninjau pikiran Soukarno untuk melihat ideologi Bung Karno sangat penting kita lakukan, karena bagaimanapun, selain kontribusi pikiran ideologi Bung Karno sangat besar bagi kemerdekaan dan perjalanan bangsa, suksesi ideologis via PDIP ke depan juga sangat penting diketahui rakyat. Pikiran-pikiran Bung Karno berkembang dalam dua tahapan, yakni Bung Karno muda dan tua.

Baca Juga

Bung Karno muda adalah fase sebelum dia menjadi presiden, sedangkan Bung Karno tua setelah dia menjadi presiden. Pembagian seperti ini untuk menyederhanakan saja, bahwa pikiran Bung Karno muda lebih sebagai pergolakan pemikiran, original dan unique. Sedangkan Bung Karno tua sudah bercampur dengan pragmatisme kekuasaan, seperti akomodasi politik dan lainnya.

Pada masa Sukarno muda, tiga fase penting mengantarkan dirinya sebagai pemikir ideologis. Pertama adalah interaksinya dengan Tjokroaminoto, kedua adalah pemenjaraan di Sukamiskin, serta ketiga adalah di masa pembuangan di Ende dan Bengkulu. Kita akan melihat fase-fase ini, setidaknya sebagai sebuah refleksi ketika pikiran-pikiran si Bung masih murni, masih perawan.

Dalam fase ini ada tiga naskah besar yang cukup untuk mewakilinya, yakni pertama esai Bung Karno tahun 1926 Nasionalisme, Marxisme dan Islamisme. Kedua pledoi Sukarno di pengadilan Bandung tahun 1930, Indonesia Menggugat, dan ketiga esai Bung Karno tentang Islam Sontoloyo. Cukup artinya untuk melihat utuh pemikiran Bung Karno ketika muda tersebut. Marilah kita lihat ideologi BK.

Nasionalisme

Persentuhan politik Sukarno di awal kehidupan remajanya menghasilkan pluralisme keyakinan politiknya. Pluralisme bukan pluralistik. Arfandi Cenne dalam Pemikiran Politik Soekarno Tentang Nasakom (2016) mengatakan itu sebagai eklektik, tapi saya lebih memilih pluralisme.

Pluralisme artinya Sukarno benar-benar percaya bahwa ada tiga “isme” yang mampu bersatu membebaskan Indonesia, yakni Islamisme, Marxisme, dan Nasionalisme.

Islamisme tentu merupakan isme awal interkasi Sukarno dengan Tjokroaminoto, guru politik pertama dan mertuanya diusia belia. Tjokro mengajar Islam sebagai alat pembebasan atas penderitaan rakyat dan perjuangan pembebasan itu bersifat internasional.

Bersamaan dengan Islamisme, Si Bung berinteraksi dengan senior-senior anak kos di kediaman Tjokroaminoto, di Surabaya, yang tumbuh kemudian dalam isme lain, yakni Sosialisme.

Tokoh-tokoh utama Sosialisme adalah, Muso, Sneevliet, Alimin, Tan Malaka, dan Samaun, yang gigih menggerakkan massa buruh pelabuhan, kereta api, dan perkebunan saat itu, sebagai aktifis Sarekat Islam (SI).

Dalam tubuh SI saat itu ada tokoh-tokoh yang hanya memanfaatkan SI sebagai “kuda Troya” untuk memasarkan Sosialisme yang dibawa Henk Sneevliet sebagai ideologi penggerak. Namun ada juga yang meyakini Sosialisme itu sama dengan Islamisme, seperti Haji Misbach di Sarekat Islam Solo. Di sisi lainnya, Tan Malaka yang komunis, meminta sinergitas politik Islam dan Komunisme terjadi.

Foto: Sukarno muda (Istimewa).

Soekarno ketika mahasiswa di Bandung berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang juga beragam. Selain tokoh-tokoh Islam, seperti A. Hassan, Persis, bertemu juga tokoh2 nasionalis, seperti pendiri Indische Partij, Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara.

Tentang nasionalisme ini juga mungkin karena bersentuhan dengan organisasi Budi Utomo, Jong Java, dan situasi dunia paska perang dunia pertama. Untuk yang terakhir ini, kekalahan Dinasti Ustmaniyah Ottoman, telah membuat negara-negara Islam di Arab dan Asia terbagi dalam satuan negara berbasis nasional maupun tanah air. Istilah cinta tanah air menjadi gerakan di mana-mana melawan penjajah.

Nasionalisme bagi Bung Karno sesungguhnya kurang memiliki batas yang jelas. Di satu sisi Bung Karno merujuk pada Ernest Renan bahwa nasionalisme terjadi karena kesamaan sejarah dan kesamaan cita-cita. Dalam terminologi Ben Anderson atau Ernest Gellner, merujuk pada teori modernitas, kebangsaan itu hanyalah produk modernisasi atau industrialisasi. Namun, ketika Sukarno menulis Naar Het Bruine Front di tahun 1927, ia merujuk pada pembedaan warna kulit, kulit putih (asing) versus kulit cokelat (pribumi).

Hal ini merujuk pada teori biologi atau sosio-biologi. Hitler dulu menggunakan teori biologi ras, yang menerangkan usul bangsa Jerman sebagai ras Aria, untuk membangun nasionalisme Jerman. Namun, menurut Bung Karno nasionalisme Hitler adalah fasis dan Jingoisme, yang dia tidak sepakat.

Nasionalisme digunakan Sukarno untuk mengikat kelompok ideologis lainnya, dalam persatuan perjuangan. Namun, dalam versi lain berimpit sebagai Marhaenisme.

Marhaenisme

Marhaenisme adalah nasionalisme versi Bung Karno. Dalam sebuah versi, Marhaenisme ini menjelaskan tentang konsep self-reliance (kemandirian), tentang sosok yang mengkonsumsi apa yang diproduksinya. Namun, versi lain, seperti dalam Indonesia Menggugat Marhaenisme juga merujuk pada buruh perkebunan gula yang tertindas. Kadangkala Sukarno menggunakan istilah Kromo dan Marhaen sebagai substitusi, kadang keduanya eksis.

Marhaenisme dalam komparasi perjuangan kaum buruh di Eropa, dalam pisau bedah Sosialisme ataupun Marxisme tidak berimpit. Namun Sukarno memaksakan agar bisa diterima sebagai sebuah tesis. Memang kala itu Sosialisme di luar eropa, seperti di Rusia, apalagi di negara-negara jajahan, yang agraris, kesulitan merekonstruksi dialektika sejarah materialisme berbasis petani kecil (bukan buruh) versus kapitalis.

Dalam Indonesia Menggugat, dengan sekitar 70 pemikir Barat sebagai referensi, yang digunakan Bung Karno menjawab pertanyaan mengapa dia berjuang dan untuk siapa dia berjuang. Dia menunjukkan vis a vis rakyat tertindas melawan kapitalisme dan imperialisme tidak menggunakan pisau analisa Marhaenisme.

Mayoritas pisau analisa yang digunakan adalah Sosialisme dan Marxisme. Namun, ketika menjelaskan kaum Marhaen harus bergerak melawan penjajah secara radikal dan revolusioner. Bung Karno secara self-proclaimed coba mensejajarkan atau mengkomparasi perjuangan kaum buruh di Belanda dengan kaum Marhaen di Indonesia saat itu.

Misalnya, ketika Sukarno menjelaskan soal upah, ia menunjukkan struktur Kapitalisme dan Imperialisme yang meletakkan buruh hanya sebagai penyedia tenaga kerja murah dan sebagai pasar/penyerap kelebihan pasar produk-produk Belanda.

Dalam struktur Kapitalistik, investasi/modal, dan infrastruktur tidak dimaksudkan untuk mensejahterakan rakyat, melainkan hanya berfungsi untuk mempercepat eksploitasi sumber daya alam saja.

Sukarno memperlihatkan 70 persen hasil kekayaan penjajahan di bawa ke Belanda. Sebaliknya, upah buruh pabrik gula per hari saat itu 0,45 gulden untuk lelaki, 0,35 gulden perempuan dan harga beras 0,07 gulden per kg, artinya upah buruh setara dengan 6 kg beras.

Kejahatan imperialisme (tua dan modern) itu, selain soal akumulasi kapital, penindasan buruh dan pencarian pasar bagi over supply produk-produk di Belanda maupun negara barat, juga menghancurkan budaya rakyat.

Bung Karno mengatakan Imperialisme memporak-porandakan seluruh sistem sosial. Dan kemudian dijustifikasi oleh ahli-ahli sosial barat, maupun kaum agamawan mereka bahwa sudah sepantasnya penjajahan itu diterima sebagai bagian mendidik bangsa rendahan seperti Indonesia.

Sukarno menolak persepsi “kasta rendah” yang coba dibentuk kaum penjajah terhadap rakyat Indonesia.

Dalam perspektif teori post-kolonial, intelektual Barat memang dibiayai oleh kapitalis penjajah untuk melakukan stigmatisasi dan stereotifikasi bangsa kita sebagai bangsa inferior, kasta rendah, kanibal, tahayul, pemalas dan lainnya.

Sukarno, sebagaiman kemudian hari Edward Said, ahli teori postkolonial, menuduh argumen ahli barat itu, bahwa stigmatisasi itu memang diperlukan mereka untuk menciptakan ketergantungan permanen, dan kerusakan total budaya bangsa harus terus menerus dipelihara agar harga diri kita musnah dan kemandirian, apalagi rasa ingin merdeka, tidak pernah terpikirkan lagi.

Baca Juga

Dari konstruksi di atas, di mana Sosialisme dipakai sebagai pisau analisa sedangkan Marhaenisme digunakan sebagai isme pemersatu rakyat kecil terjajah. Maka Marhaenisme kemudian berkembang sebagai mixed atau bercampur antara Nasionalisme dan Sosialisme.

Anti Kapitalisme dan Oligarki

Bung Karno, meminjam pikiran Multatuli, telah menunjukkan bagaimana beda imperialisme tua dan modern. Imperialisme tua bagaikan penghisapan di hilir, ketika semua kekayaan terkumpul dari ranting dan cabang-cabang pada pusatnya.

Sedangkan imperialisme modern, mesin penghisap itu mempunyai pipa-pipa penghisap langsung ke cabang-cabang dan ranting-rantingnya, sehingga tidak ada yang tersisa.

Era tua meliputi VOC dan culturstelsel telah melumpahkan dan melumatkan bangsa kita, termasuk kaum feodal, yang sebelumnya cukup mewakili kaum menengah pribumi. Namun, imperialisme modern, jaman open policy, di mana modal dan investasi menjadi kata kunci, kehancuran bangsa kita semakin babak belur lagi.

Pada 1870, era kapitalisme modern, ditandai dengan liberalisasi modal. Negara tidak berhak lagi mengatur siapa yang mengontrol eksploitasi di bumi kita ini.

Sehabis era kulturstelsel, melalui UU Agraria (Agrarische Wet) dan UU Perkebunan Gula (Suikerwet), pemilik modal Belanda dan Eropa bebas berinvestasi. Pada fase ini negara sudah mulai didikte oleh kaum Oligarki Belanda dan Eropa. Gubernur Jenderal sudah mulai diatur pemilik modal dalam skenario return to capital yang memanjakan investor.

Jika di Belanda dan Eropa, era ini ditandai dengan demokrasi, akibat meletusnya Revolusi Prancis, 1879, yang mendorong kebebasan rakyat berserikat dan berkumpul, sebaliknya tidak terjadi di negeri jajahan.

Pada pledoinya, Bung Karno menunjukkan Kapitalisme/Imperialisme modern ini harus dihancurkan. Ia ketakutan jika Kapitalisme ini terus berlanjut, suatu waktu akhirnya hanya menyisakan sampah. Indonesia sudah tidak punya kekayaan lagi.

Sebab, dalam analisa Marxian, akumulasi modal terus menerus dikuasai pemodal, karena surplus kapital (value added) dari produksi serta hubungan produksi (relations of production) tidak dikontrol oleh kaum buruh. Dalam penjajahan, kaum Marhaen tidak mengontrol surplus ekonomi yang dieksploitasi negara dan swasta asing itu.

Menyetir perbandingan gerakan kaum buruh SDAP Belanda, yang ingin mensejahterakan buruh melalui perebutan kekuasaan negara, secara legal, Bung Karno juga ingin mensejahterakan rakyat melalui perebutan kekuasaan secara legal, yakni melalui Indonesia merdeka.

Namun, di Belanda legal yang dimaksud adalah adanya demokrasi, yang mana buruh bebas mengorganisasikan permusuhan dengan kaum Oligarki dan Kapitalis, termasuk di luar parlemen. Menurut Bung Karno adalah hak kaum Marhaen pula memusuhi penjajah dan penjajahan. Namun, pikiran Sukarno ini menyebabkan dia divonis empat tahun penjara di Bandung.

Foto: Bung Karno (Istimewa).

Sikap terhadap Islamisme

Bung Karno muda adalah seorang arsitek yang mampu meletakkan komponen bangsa yang harus terdesain bersatu. Tentu dia juga arsitek benaran, alumni ITB.

Islamisme dipercaya Bung Karno mempunyai jawaban untuk melawan penindasan. Namun, ia lebih percaya pada Sosialisme. Tentu saja ini keniscayaan, karena Islamisme mengalami kemerosotan, setelah kekalahan Khalifah Ustmaniyah, dalam perang dunia pertama. Sebaliknya, Sosialisme mulai berjaya, khususnya setelah keberhasilan Revolusi Bolshevik, di Rusia.

Baik di dalam esai Nasionalisme, Marxisme dan Islamisme, 1926, Pledoi Indonesia Menggugat, 1930 maupun surat-surat atau tulisan tentang Islam dari Ende dan Bengkulu, menunjukkan Sukarano percaya kemampuan ideologi Islam tersebut, sebagai sebuah “worldview”.

Misalnya, PSI (Partai Sariket Islam), sebuah partai yang didirikan Tjokroaminoto, sebagai kelangsungan Syerikat Islam (SI), sering dikutip Bung Karno dalam pledoinya sebagai Islam yang revolusioner, yang ditiru PNI. Sebaliknya, kritik Sukarno terkait masyarakat Islam, dan ulamanya, memang acapkali dilontarkannya, terkait yang terpasung dengan Islam sebagai ajaran ritual semata, yang kurang menggali Islam sebagai ajaran revolusioner.

Persatuan Nasional yang Temporer

Sukarno yang memproklamasikan dirinya dan PNI radikal serta revolusioner di dalam pledoi Indonesia Menggugat, faktanya belum mempunyai basis massa yang jelas. Sebab, PNI baru saja akan berkembang saat itu untuk menjadi gerakan massa rakyat, meniru metoda Komunis dan Sarekat Islam. Belanda sendiri menuduh Sukarno dan PNI nya merupakan kelanjutan PKI (Partai Komunis Indonesia), yang baru saja dibubarkan Belanda, karena memberontak (1926).

Namun, kehadiran PNI tentu penting untuk mengkonsolidasikan kekuatan massa aksi di luar penggalangan berbasis Komunisme dan Islamisme. Hal ini pula yang menjadi kekuatan posisi tawar Bung Karno menggalang kekuatan perlawanan terhadap imperialisme Belanda.

Massa aksi yang dibayangkan BK tentunya bukan massa aksi kaum proletar yang dilukiskan Karl Marx di Eropa. Tesis Sosialisme atas perebutan kekuasaan akan terjadi sendirinya dengan bersatunya kaum buruh dan merebut kekuasaan dari kaum kapitalis, pada fase Kapitalisme yang matang. Atau juga tidak sama dengan yang dianjurkan Trotskyism untuk kerjasama buruh (dominan) dengan massa petani, dalam konsep permanent revolution, di negara model Rusia atau negara lainnya yang belum berada pada fase industrialisasi.

Jadi, karena jalan revolusi yang dibayangkan Bung Karno harus melalui perebutan kekuasaan atau merdeka dengan pemerintahan sendiri, semua kekuatan revolusioner atau radikal tidak boleh saling melemahkan. Ini adalah strategi dua langkah (two stage revolution) yakni bersatu padu merebut kemerdekaan, lalu, langkah selanjutnya, berkompetisi mendominasi arah revolusi kemerdekaan. Jadi persatuan antara ideologis ini bersifat sementara.

Lima hal uraian di atas, Nasionalisme, Marhaenisme, Anti Kapitalisme dan Oligarki, Sikap Terhadap Islamisme dan Persatuan Nasional Yang Temporer merupakan fenomena ideologi Bung Karno muda yang dapat kita rekam.

Dari paparan di atas, diperlihatkan apa yang perlu diteladani dan apa yang menjadi critical issue dari fenomena ideologi Bung Karno tersebut. Kita perlu meneladani perjuangannya terhadap kaum buruh dan rakyat miskin. Kita perlu meneladani perlawanannya pada Kapitalisme dan Oligarki.

Kita perlu meneladani kegigihannya meletakkan ruang bersama bagi kepentingan atau misi perjuangan dari kelompok ideologis yang bertentangan. Kita perlu mengapresiasi kemampuannya menganalisis problematika persoalan bangsa dan ketertindasan. Namun, kita perlu mewaspadai beban historis yang berat untuk menyatukan kepentingan kelompok ideologis yang selalu ada di Indonesia.

Lalu apakah ideologi Sukarno muda ini masih relevan dengan nasib dan arah Marhaenisme dan kaum Marhaen ke depan?

Apakah tafsir pertarungan Puan Maharani versus Ganjar Pranowo terwakili dalam fenomena nasib kaum buruh, tani dan nelayan yang semakin miskin di era pandemi? Apakah bangsa ini paham tentang perjuangan Sukarno muda?

* Penulis adalah mantan Wakil Rektor Universitas Bung Karno (UBK).*

 971 kali dilihat,  5 kali dilihat hari ini

TANGERANG | Pesta demokrasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2021 tinggal menghitung hari. Sementara anggaran yang masuk rekening desa baru sekitar 40 persen. Hal...

TANGERANG | Galian tanah di Desa Bantar Panjang Kecamatan Tigaraksa Kabupten Tangerang kembali beroperasi. Padahal sebelumnya sudah beberapa kali ditutup. Hal ini membuat warga heran....

Oleh: Endi Biaro* JIKA ingin tahu mainan politik para Sultan Desa, crazy rich kelas lokal, kaum borjuis kampung, dan para bandar Kabupaten Tangerang, maka lihatlah...

TANGERANG | Seorang pencinta alam mengkritisi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang lantaran mengorbankan lingkungan demi pembangunan. Upaya pemerintah dalam membangun daerah tentu harus diapresiasi. Namun jika...

VINUS TV

BERITA TERBARU

Para Sultan Main Cuan di Pilkades Tangerang

Oleh: Endi Biaro* JIKA ingin tahu mainan politik para Sultan Desa, crazy rich kelas lokal, kaum borjuis kampung, dan para bandar Kabupaten Tangerang, maka lihatlah...

Gelar HUT ke-12, TeRuci Chapter Banten Perkuat Silaturahmi

SERANG | Perayaan hari jadi ke-12, Terios Rush Club Indonesia (TeRuci) Chapter Banten digelar cukup meriah. Bertempat di Pokel Garden Resto Kecamatan Kasemen Kota...

Sekolah Dikenakan PPN, Direktur LAPENMI HMI Serang: Biaya Pendidikan Akan Tinggi

SERANG | Pemerintah berencana mengenakan Pajak Pertumbuhan Nilai (PPN) pada jasa pendidikan atau sekolah. Tertuang dalam revisi Undang-undang nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan...

Kabar Bahagia! Populasi Badak Jawa Bertambah Dua Ekor

PANDEGLANG | Kabar bahagia datang dari Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Pasalnya dua anak Badak Jawa (Rhenoceros Sondaicus) kembali terlihat pada kamera video trap. Melalui...

Pembelajaran Daring dan Generasi TikTok

Oleh: Yani Suryani* SUDAH hampir dua tahun pembelajaran daring dilakukan. Sebagai metode yang dilakukan di masa pandemi. Menggunakan sekaligus memanfaatkan jaringan internet dalam pelaksanaannya. Dalam Kamus...

Permatara Minta Kejari Transparan Soal Kasus Dana Hibah KONI Tangsel

TANGERANG | Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Tangerang Raya (Permatara) menggelar aksi di Kejaksaan Negeri (Kejari) Tangerang Selatan, pada, Jum’at (11/06). Massa aksi...

Panitia Pilkades Resah, Anggaran Tak Kunjung Cair Sepenuhnya

TANGERANG | Pesta demokrasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2021 tinggal menghitung hari. Sementara anggaran yang masuk rekening desa baru sekitar 40 persen. Hal...

Lapor Pak Bupati: Galian Tanah di Tigaraksa Kembali Beroperasi

TANGERANG | Galian tanah di Desa Bantar Panjang Kecamatan Tigaraksa Kabupten Tangerang kembali beroperasi. Padahal sebelumnya sudah beberapa kali ditutup. Hal ini membuat warga heran....

Perkuat Pelaku UMKM, Pemuda Muhammadiyah Banten Gandeng Pegadaian

BANTEN | Dalam rangka memperkuat ekonomi keumatan dan pemberdayaan ekonomi mikro di akar rumput, Pimpinan Wilayah (PW) Pemuda Muhammadiyah Provinsi Banten menandatangani Nota Kesepahaman...

IKLAN

BERITA TERPOPULER

Setelah Didemo Warga Terkait BLT, Kepala Desa Lebak Wangi Gantung Diri

TANGERANG | Kabar duka datang dari Kepala Desa Lebak Wangi Kecamatan Sepatan Timur Kabupaten Tangerang. Setelah sebelumya didemo masyarakat terkait transparansi bantuan Covid-19, Kepala...

Warga Sekitar Kawasan Millenium Butuh Pekerjaan, Pabrik Lebih Memilih Titipan Dinas

TANGERANG | Puluhan warga berunjuk rasa di depan PT Green Source Indonesia (GSI) yang berlokasi Kawasan Industri Millenium Kelurahan Kaduagung Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang. Tidak...

Miris, BLT Pusat Terindikasi Diselewengkan Aparat Kelurahan Sukamulya

TANGERANG | Merasa janggal terkait undangan pencairan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari APBN melalui Kantor Pos, Siti Aminah mempertanyakan bantuan yang hendak...

Ingin Mengajukan Bantuan Presiden Tanpa Antre, Begini Caranya

TANGERANG | Kabar baik bagi para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UMKM). Khususnya yang terdampak pandemi Covid-19. Lantaran pemerintah akan memberikan langsung Bantuan Presiden Produktif...

Digugat LBH Ansor, Alfian Tanjung Tak Punya Nyali Datangi Pengadilan

TANGERANG | Kasus penghinaan oleh Alfian Tanjung terhadap Banser terus berlanjut. Ketua Umum GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qoumas didampingi pengacara LBH Ansor beserta...

Orang Tidak Dikenal Robek Al Qur’an dan Coret Musala di Tangerang

TANGERANG | Sebuah musala di Perumahan Villa Tangerang Elok Kelurahan Kutajaya Kecamatan Pasar Kemis Kabupaten Tangerang penuh dengan coretan. Setidaknya ada empat tulisan di dinding...

Warga Persoalkan Sekcam Balaraja Terkait Postingan “Negeri Para Bedebah!!!”

TANGERANG | Unggahan salah satu ASN Kabupaten Tangerang di media sosial mendapat perhatian serius dari warga. Bahkan dinilai meresahkan. Selain mempersoalkan independensi, materi postingan bersifat...

AGENDA

BERITA TERKAIT

Para Sultan Main Cuan di Pilkades Tangerang

Oleh: Endi Biaro* JIKA ingin tahu mainan politik para Sultan Desa, crazy rich kelas lokal, kaum borjuis kampung, dan para bandar Kabupaten Tangerang, maka lihatlah...

Pembelajaran Daring dan Generasi TikTok

Oleh: Yani Suryani* SUDAH hampir dua tahun pembelajaran daring dilakukan. Sebagai metode yang dilakukan di masa pandemi. Menggunakan sekaligus memanfaatkan jaringan internet dalam pelaksanaannya. Dalam Kamus...

Syekh Nawawi, Cermin Bening Sang Pelita

Oleh: Endi Biaro* KERINGKAN airnya, lalu tangkap ikannya! Atau racuni airnya, ikan akan menggelepar mampus. Begitulah seloka (perumpamaan) ringkas untuk "menaklukan" umat Islam. Keringkan! Jauhkan umat...

Potret Toleransi Beragama di Indonesia

Oleh: Apipudin* TOLERANSI dapat menjadikan perdamaian bagi masyarakat, khususnya di Indonesia. Secara terminologi, toleransi adalah suatu sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok...

Refleksi 108 Tahun Mathla’ul Anwar: Mengabdi Untuk Negeri

Oleh: Ahmad Syafa'at* Sore hari pulang ke rumah Langsung tidur capek sekali Cari ilmu tak hanya di sekolah Tapi juga di kehidupan sehari-hari PANTUN jenaka ini memberikan makna tersirat kepada...

Anda Sopan Kami Curiga, Jangan-Jangan Calon Kepala Desa

Oleh: Suryadi* HIRUK pikuk pengundian nomor urut dan penetapan calon kepala desa se-Kabupaten Tangerang usai dilaksanakan. Sebanyak 77 desa akan menggelar Pilkades serentak pada 04...

Menuju Labuan Mandiri, Melalui Diskusi dan Ngopi

Oleh: Eko Supriatno* LABUAN dari yang semula hanya sebuah kota kecil di pesisir pantai selat sunda, kini telah berkembang menjadi sebuah kota besar yang tentunya...

IKLAN

SEPUTAR BANTEN

Gelar HUT ke-12, TeRuci Chapter Banten Perkuat Silaturahmi

SERANG | Perayaan hari jadi ke-12, Terios Rush Club Indonesia (TeRuci) Chapter Banten digelar cukup meriah. Bertempat di Pokel Garden Resto Kecamatan Kasemen Kota...

Sekolah Dikenakan PPN, Direktur LAPENMI HMI Serang: Biaya Pendidikan Akan Tinggi

SERANG | Pemerintah berencana mengenakan Pajak Pertumbuhan Nilai (PPN) pada jasa pendidikan atau sekolah. Tertuang dalam revisi Undang-undang nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan...

Kabar Bahagia! Populasi Badak Jawa Bertambah Dua Ekor

PANDEGLANG | Kabar bahagia datang dari Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Pasalnya dua anak Badak Jawa (Rhenoceros Sondaicus) kembali terlihat pada kamera video trap. Melalui...

Perkuat Pelaku UMKM, Pemuda Muhammadiyah Banten Gandeng Pegadaian

BANTEN | Dalam rangka memperkuat ekonomi keumatan dan pemberdayaan ekonomi mikro di akar rumput, Pimpinan Wilayah (PW) Pemuda Muhammadiyah Provinsi Banten menandatangani Nota Kesepahaman...

Komunitas Baraya Labuan Gagas Diskusi Publik Bulanan

PANDEGLANG | Komunitas Baraya Labuan menggagas Diskusi Publik Bulanan sebagai media pengembangan nalar dan pengetahuan. Diskusi Publik Bulanan tersebut memiliki fungsi sebagai tempat berkumpul, silaturrahmi,...

Dukung Penegakan Hukum, Abuya Muhtadi Datangi Kejati Banten

BANTEN | Sejumlah ulama mendatangi Kejaksaan Tinggi Banten untuk menyatakan dukungan terkait penanganan dugaan korupsi dana hibah pondok pesantren, pada Selasa, (08/06). Para ulama datang...

Dindikbud Banten Acam Pidanakan Penghalang Pembangunan, Mulyadi: Jalani Dulu Prosesnya Dengan Benar

BANTEN | Salah satu orang tua siswa SMAN 30 Kabupaten Tangerang menanggapi pernyataan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten terkait nada ancaman pidana. Pria...

IKLAN

SEPUTAR DESA

Ini Jadwal dan Tahapan Pilkades Serentak Kabupaten Tangerang

TANGERANG | Jadwal tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 77 desa se-Kabupaten Tangerang telah selesai dibahas. Bahkan sudah mulai disosialisasikan oleh dinas terkait. Mulai...

Banyak Kejanggalan, Belasan Warga Cibadak Datangi Kecamatan, Persoalkan Penggunaan Dana Desa

TANGERANG | Penggunaan dana desa sejatinya diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, pemberdayaan, dan penyelenggaraan pemerintahan desa. Transparansi penggunaan Dana Desa mutlak adanya. Agar publik bisa mengetahui....

Refleksi 7 Tahun UU Desa: Ingat, Desa Membangun, Bukan Membangun Desa

TANGERANG | Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa sudah memasuki tahun ketujuh. Sejak disahkan pada 15 Januari 2014. Dalam rangka refleksi 7 tahun terbitnya...

Pemdes Pete Tetapkan 362 Penerima BLT Dana Desa

TANGERANG | Pemerintahan Desa Pete Kecamatan Tigaraksa melakukan Musyawarah Desa. Agenda tersebut membahas validasi, finalisasi, serta penetapan calon penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang...

Realisasi Pembangunan Desa Bantar Panjang Banyak Masalah, Camat Tigaraksa Tetap Rekomendasi Pencairan

TANGERANG | Carut-marut realisasi pembangunan Desa Bantar Panjang Kecamatan Tigaraksa tidak berarti kucuran dana dari pemerintah tersendat. Hal ini terbukti dari terus berlangsung pencairan dana...

Pengumuman: Pilkades Tangerang Digelar Juli 2021

TANGERANG | Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 77 desa se-Kabupaten Tangerang akan digelar bulan Juli tahun ini. Adapun terkait tahapan dimulai pada...

Soal Potongan Dana BLT, TSW Minta Polres Panggil Kepala Desa Pasanggrahan

TANGERANG | Musibah tidak menjadi pelajaran dan bahan muhasabah bagi Pemerintahan Desa Pasanggrahan Kecamatan Solear. Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai bentuk Jaring Pengaman Sosial (JPS)...