Manaqib Kebangsaan Gus Dur

Oleh: Abdul Gofur, S.H., M.H.

PERINGATAN haul ke-11 Almaghfurlah Dr. (H.C.) K.H. Abdurrahman Wahid, Presiden Republik Indonesia ke-4, jatuh pada tanggal 30 Desember 2020. 

Gus Dur wafat pada Rabu, 30 Desember 2009, di RSCM, Jakarta. Setelah dirawat beberapa hari karena sakit, kemudian dimakamkan di komplek Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Wafat dalam usia 69 tahun. Beliau lahir tanggal 4 Agustus 1940 di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

Abdurrahman Wahid adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim, merupakan putra seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Asy’ari. Sedangkan Ibunya, Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri.

Dari perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak. Yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Baca Juga

Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu, juga aktif berkunjung ke perpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun, telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, juga hobi bermain bola, catur, dan musik.

Bahkan, Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lain, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi mendalam di dunia perfilman. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di Pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studi di Mesir.

Sebelum berangkat ke Mesir, paman beliau melamarkan seorang gadis untuknya. Seorang santri bernama Sinta Nuriyah, anak Haji Muhamad Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraan mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebuireng Jombang. Tiga tahun kemudian, menjadi sekretaris Pesantren Tebuireng, dan pada tahun yang sama mulai menjadi penulis.

Gus Dur kembali menekuni bakatnya sebagai penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikirannya mulai mendapat perhatian banyak.

Pada tahun 1974, Gus Dur diminta sang paman, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu Pesantren Tebuireng sebagai sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapat undangan menjadi narasumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan. Baik dalam maupun luar negeri.

Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren. Kemudian mendirikan P3M, dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai Wakil Katib Syuriah PBNU.

Saat itu Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial, dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku, dan disiplin.

Foto: Pernikahan Gus Dur dengan Sinta Nuriyah (Google/Istimewa).

Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap ‘menyimpang’ —dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU— dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1983.

Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986 dan 1987. Sesuatu yang jarang terjadi pada saat itu, bahkan hari ini.

Pada tahun 1984, Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-‘aqdi yang diketuai K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994).

Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari kebanyakan orang.

Gagasan Manaqib Gus Dur

Dalam kamus Munjid atau kamus-kamus bahasa arab lainnya, manaqib merupakan ungkapan kata jama’ yang berasal dari kata manaqiban, artinya ath-Thariqu fil-aljabal (jalan menuju gunung). Di artikan juga dengan sebuah kisah yang berisikan autografi atau sejarah hidup para sahabat Nabi, Waliullah, dan orang sholeh.

Membaca manaqib artinya membaca sejarah hidup, kebaikan amal, dan akhlak yang terpuji sesorang yang dekat dengan Allah. Dengan sebab itu kata-kata manaqib khusus hanya bagi orang-orang baik dan mulia saja.

Manaqib Sayyidina Khadijah al-Kubro, Manaqib Umar ibn Khattab, Manaqib Ali bin Abi Thalib, Manaqib Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Manaqib Sunan Bonang, dan sebagainya merupakan misal dari apa yang disebut di atas.

Dalam sebuah hadis diterangkan keutamaan ketika membaca autobiografi (manaqib) para Wali, Ulama, serta orang-orang shaleh dapat melebur dosa serta mendatangkan rahmat Allah.

”Mengingat para Nabi sebagian dari Ibadah, mengingat para orang shaleh adalah pelebur dosa, mengingat kematian adalah sedekah, dan mengingat neraka adalah jihad.” (HR. ad-Dailamy)”.

Gagasan manaqib Gus Dur diinisiasi oleh ketua umum DPP PKB Muhaimin Iskandar. Manaqib atau pembacaan sejarah pemikiran dan perjuangan Gus Dur melalui testimoni para tokoh.

Foto: Pamflet Haul ke-11 Gus Dur (Google/Istimewa).

Muhaimin Iskandar menilai, membaca kembali manaqib Gus Dur, penting dalam merefleksikan situasi sosial saat ini. Ketika masalah-masalah sosial tentang keberagaman dan pluralisme kembali terusik seperti saat ini, semua pasti rindu kehadiran Gus Dur. Maka, selain berdoa, pembacaan manakib ini jadi upaya meneruskan perjuangan Gus Dur.

Gus Imin atau Cak Imin sapaan akrabnya, adalah keponakan Gus Dur yang mewarisi kepiawaian politik sang paman. Tak ayal selama dari kepulangan dari Jogja, Gus Imin diminta Gus Dur untuk ke Jakarta membantunya dalam berbagai perjuangan membuat forum demokrasi, membela kaum minoritas, bahkan turut andil membidani PKB mendampingi Gus Dur dari kalangan anak muda pada saat itu.

Dari perjalan panjang itulah Cak Imin banyak belajar tentang Gus Dur, menerangkan ada enam pelajaran yang selalu relevan untuk terus diperjuangkan. Yakni: Ketauhidan, keberanian, kemanusiaan, persamaan dan kebersamaan, silaturrahim atau komunikasi, dan perdamaian.

Menurut Muhaimin Iskandar, Ketauhidan Gus Dur itu istilahnya sudah mencapai level ‘tidak ada rasa takut dan tidak ada rasa sedih’. Dan itu diterjemahkan dalam kehidupan sosial.

Salah satu contohnya, Cak Imin mengisahkan, Gus Dur di zaman ORBA sempat dilarang berziarah ke makam Ayahnya, di Jombang. Bahkan, ketika itu semua akses masuk diperintahkan ditutup saat Gus Dur sudah mendekati maqbarah.

Kalau orang biasa, tentu akan marah besar, sebab hak untuk berdoa di makam ayah sendiri, kok dilarang. Tapi Gus Dur tidak marah dan dendam. Dia pun tetap ziarah dan tahlil meski di pinggir jalan dekat makam tersebut.

Gus Dur, Pancasila Fitrah Keragaman

Menurut Gus Dur, dalam bukunya Mengurai Hubungan Agama dan Negara, Pancasila adalah ideologi yang mendukung sistem demokrasi, sehingga sering disebut sebagai demokrasi Pancasila, yaitu demokrasi secara Islam.

Gus Dur berpendapat, Pancasila merupakam hasil dari kompromi-kompromi politik yang ingin menjaga keutuhan negara Indonesia. Sekaligus memungkinkan semua warganya bisa hidup bersama-sama secara harmoni, dengan menerima semua aspek kekayaan tradisi yang sudah ada.

Menurut Presiden RI ke-4, itu merupakan langkah konkret realistis secara politik bila melihat dari pluralitas agama di Indonesia.

Gus Dur pernah menguraikan Pancasila dalam makalah yang dipaparkan di Seoul, pada 25 Agustus 1990 bertajuk Islam and Pancasila: Development of a Religious Political Doctrine in Indonesia. Menurutnya, Pancasila justru merupakan doktrin politik religius yang sesuai dengan Islam. Nilai-nilai agama ini menyinari ruang publik bangsa melalui Pancasila.

Jika dianalogikan, Islam adalah tebu, sedangkan Pancasila merupakan gula sebagai agama yang turun dari Tuhan, Islam adalah sumber, tebu. Namun, jika kita ingin membuat teh manis, haruskah tebu yang digunakan? Tentu saja gula, perasan dari tebu, yang kontesktual dengan kebutuhan.

Dalam kehidupan berbangsa yang memiliki konteksnya tersendiri, Islam menerangi bangsa melalui “saripati manis”-nya, yakni nilai-nilai Pancasila. Dalam pandangan Gus Dur, Pancasila yang bermahkota Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi jalan keluar dari dua kebuntuan. Pada satu sisi, kebuntuan teokrasi yang menghendaki penegakan kedaulatan Allah (hakimiyatullah).

Foto: Buku Mengurai Hubungan Agama dan Negara (Google/Istimewa).

Ikhtiar Gus Dur Untuk Pancasila dan NKRI

Pada awal-awal masa Orde Baru, wacana menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal banyak pertentangan dari berbagai kalangan Islam fudamental, termasuk Gus Dur dan NU.

Gusdur Tampil di depan, memainkan gagasan Islam Kebangsaan dan pancasila melalui Nahdlatul Ulama (NU), sebuah institusi yang telah banyak mewarnai pemikiran Gus Dur, mengingat organisasi terbesar se-Indonesia ini dilahirkan oleh keluarga besarnya kakeknya, Hadratusyeh K.H. Hasyim As’ari beserta jaringan pesantren yang memiliki tradisi kuat tentang keindonesiaan.

Bersama NU, Gus Dur terus mencoba untuk merespons dan menguatkan Pancasila dalam sendi kehidupan masyarakat, tepatnya pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Situbondo, pada 21 Desember 1983. Di sana Gus Dur menampung dan menguatkan hubungan Islam dan Pancasila melalui sebuah deklarasi yang berbentuk penegasan-penegasan tentang perbedaan falsafah kenegaraan dan posisi keagamaan masyarakatnya.

Menurut Nur Syam, dalam NU Pancasila dan Civil Religion, menyebutkan deklarasi tentang hubungan Islam dan Pancasila tersebut secara jelas, NU berikut Gus Dur berusaha untuk menjelaskan bagaimana pandangan Islam terhadap Pancasila yang merupakan falsafah dasar Indonesia, namun sekaligus, penjelasan tersebut tidak semata-mata membuat Islam harus berdiri berseberangan dengan Pancasila.

Sumbangsih Gus Dur menganggap penerimaan Pancasila melalui beberapa pertimbangan penting, antara lain:

Pertama, konsep fitrah. Yang merupakan sangat penting dalam Islam. Fitrah merupakan dorongan yang sudah tertanam di dalam diri manusia untuk menemukan Tuhannya. Dorongan tersebut menyebabkan manusia menyerah diri (Islam) kepada Allah.

Kedua, konsep ketuhanan. NU menilai rumusan yang Maha Esa menurut Pasal 29 Ayat (1) UUD 1945 berbunyi Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menjiwai sila-sila lainnya, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan Islam. “Negara berdasarkan atas ketuhanan Yang Maha Esa” disini yang dinilai oleh NU adalah kedudukan agama dalam negara adalah bersifat rumit dan krusial.

Ketiga, pemahaman sejarah. Maksudnya ialah penerimaan Pancasila diperkuat oleh Mukatamar NU dengan peranan umat Islam menentang penjajahan dan mempertahan kemerdekaan bangsa.

Foto: Gus Dur (Google/Istimewa).

Gus Dur Benteng Pancasila dan Demokrasi

Terdapat beberapa poin kiprah Gus Dur dalam mengawal Pancasila, diantaranya:

Pertama, kelompok penentang Pancasila dapat diimbangi dengan istilah “peminjaman budaya yang selektif”, pernah didengungkan Ki Hajar Dewantoro. Di mana pembaruan harus dilihat dari segenap faedah dan mempertimbangkan nafas lokal Indonesia.

Karena harus benar-benar diakui bahwa kelompok ini merupakan bagian dari reaksi jaringan global, bukan skala lokal, jangan sampai, masa depan Pancasila diberangus oleh istilah pembaruan dan kelompok lainnya tidak dapat berperan karena terperangkap oleh kesan kontra-pembaruan.

Kedua, seperti yang dilakukan oleh Gus Dur, bahwa Pancasila harus dikawal dengan baik oleh pelaku yang baik pula. Bukan Pancasila yang terlampau diagungkan menjadi senjata pamugkas era Orde Baru. Bukan pula dilebur-totalkan melalui penerjemahan pemerintahan sekular.

Pancasila harus menempati posisi semula, sebagai polisi yang adil di antara berbagai kelompok, dan sebagai meja diskusi untuk mendengar masing-masing aspirasinya. Karena fungi-fungsi tersebutlah yang menjadikan Gus Dur berkata, tanpa Pancasila, Indonesia tidak akan ada, atau jika pun ada, Indonesia sekadar raksasa mati dan bukan sebagai negara yang dicita-citakan.

Perjuangan Gus Dur terhadap pengawalan Pancasila, saat Ia menjabat sebagai seorang Presiden. Terkait hubungan Islam dan Pancasila, Gus Dur menerbitkan kepres No. 6 Tahun 2000 yang mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa.

Dalam keputusan tersebut, Gus Dur merasa bahwa Pancasila harus diperankan dalam pengakuan hak-hak sipil penganut Konghucu, semisal memberi keleluasaan untuk merayakan Imlek dan beribadah sesuai dengan keimanannya. Gus Dur jelas menimbang dirinya sebagai seorang tokoh muslim, namun menjalankan prinsip-prinsip bernegara yang menjamin kebebasan beragama adalah suatu keharusan, meskipun harus bertentangan dengan pemerintahan sebelumnya dan satu-dua kelompok Islam yang cenderung menganut dominasi mayoritas.

Foto: Gus Dur saat mengunjungi Papua (Google/Istimewa).

Gus Dur Pembela Kemanusiaan

Gagasan mencabut TAP MPRS Nomor XXV/1966, Presiden kelima Republik Indonesia, K.H. Abdurrahman Wahid, selalu menjadi perhatian sampai saat ini. Selain makna yang sangat dalam, cara pandang Gus Dur soal kehidupan berbangsa dan bernegara diakui memang telah membuka jalan pikiran bagi setiap yang mendengarnya.

Dasar argumentasi yang disampaikan Gus Dur memang tepat dan sesuai dengan kondisi yang terjadi. Meski begitu, saat menjabat sebagai presiden, kebijakan Gus Dur selalu menjadi polemik. Salah satu alasannya karena pemikiran Gus Dur terlampau sudah melesat jauh ke depan dibandingkan dengan tokoh lain yang menolaknya.

Seperti saat Gus Dur mencabut TAP MPRS Nomor XXV/1966 Tentang Pelarangan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ramai-ramai Gus Dur dihujat dan dicaci maki oleh lawan politiknya. Ternyata setelah diungkap, apa yang dilakukan Gus Dur tersebut sudah tepat dan tidak bertentangan dengan konstitusi negara.

Gus Dur mempunyai tiga alasan secara obyektif, mencabut TAP MPRS Nomor XXV/1966. Pertama, konsep-konsep Marxisme telah dipelajari terbuka di lingkungan perguruan tinggi. Kedua, era komunis telah berakhir seiring berakhirnya negara Uni Soviet di ujung babak perang dingin. Ketiga, dendam sejarah masa lalu harus disingkirkan demi menata kehidupan Indonesia yang lebih baik ke depan.

Menurut Gus Dur, Indonesia adalah negara hukum sebagaimana telah dirumuskan oleh para pendiri negara Indonesia. Menetapkan konsep negara hukum dalam pelaksanaan negara, seperti persamaan hak-hak yang diatur berdasarkan ketetapan hukum. Karena, negara Indonesia berdasarkan atas hukum.

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (3) UUD NRI 1945 amandemen ketiga menyatakan, Negara Indonesia adalah negara hukum. Dengan demikian, Negara hukum yang dimaksud ialah negara yang menegakkan supremasi hukum untuk menegakkan kebenaran dan keadilan serta tidak ada kekuasaan yang tidak dipertanggungjawabkan menurut hukum. Akan tetapi, Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri mengenai pandangan tentang negara hukum, yakni negara hukum Pancasila.

Kepulangan Gus Dur menyisakan duka dan kepiluan yang amat mendalam bagi bangsa Indonesia. Karena kehilangan tokoh agama, pejuang demokrasi, pemimpin politik, pembela kaum minoritas, pengusung hak asasi, pahlawan pluralisme, penganjur perdamaian, dan penentang kekerasan.

Semua karya dijalaninya dengan sepenuh hati sebagai panggilan hidup, sekaligus sebagai perwujudan keyakinan dan nuraninya. Dalam memperjuangkan prinsip hidup, Gus Dur tidak pernah ragu-ragu, tegas, tanpa kehilangan rasa humor yang tertinggi. Ia dikenal sebagai sosok yang humoris dan pemberani di semua medan dalam membela kemanusiaan.

*Penulis adalah Dosen Tetap STISNU Nusantara dan Wakil Ketua DPC PKB Kabupaten Serang.

 3,619 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

SERANG | Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Serang sukses menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XXII. Akhmad Muklis Darmawan terpilih sebagai ketua, masa khidmat 2021-2022. Satu...

Oleh: Moh. Bahri, S.Pd.I., S.H.* KALAU di televisi sudah ramai iklan sirup, maka puasa sudah dekat. Jika masjid-masjid dan musala mulai dibersihkan dan didandani lebih rapi,...

TANGERANG | Pengurus Serikat Pedagang Kecil Kabupaten Tangerang bertemu jajaran Bank Tabungan Negara (BTN) Kantor Cabang Karawaci.  Bertempat di Kantor Visi Nusantara, pada Kamis,...

TANGERANG | Seorang bayi asal Kecamatan Kronjo mendapat serangan dari orang gila. Kepalanya disiram kopi panas dari jarak dekat. Kejadiaan nahas tersebut berawal dari salah...

VINUS TV

BERITA TERBARU

Polemik Sertifikat Tanah, Kades Cibugel: Mari Duduk Bersama

TANGERANG | Kepala Desa Cibugel Kecamatan Cisoka Kabupaten Tangerang Haerul Saleh membantah menggelapkan sertifikat tanah. Bantahan ini keluar setelah beredar berita terkait pernyataan Haji...

Perekat Demokrasi Soroti Pelaksanaan Pilkades Serentak

TANGERANG | Peraturan Bupati Tangerang Nomor 16 Tahun 2021 tentang Tata Cara Pemilihan Kepala Desa Serentak Dalam Kondisi Bencana Non Alam Covid-19 telah diterbitkan...

Perempuan Tidak Harus Memilih

Oleh: Hamzah Sutisna* BICARA soal perempuan, tentu akan banyak sekali hal yang bisa disampaikan. Terutama terakit peran yang diembannya.  Namun, jauh dari pada itu, hampir semua...

Kenalan Dengan Kak Irma, Pendongeng Boneka Tangan yang Disukai Anak-Anak

TANGERANG | Kecintaan terhadap anak kecil dan dunia dongeng membawa Kak Irma menjadi seorang Ventrilokuis, atau pendongeng boneka dengan suara perut. Kak Irma kerap menarik...

Aan Angsori: FKBKK Siap Jembatani Lulusan SMK ke Dunia Kerja

TANGERANG | Idealnya para lulusan SMK yang sudah memiliki keahlian atau kemampuan dibidangnya dapat diserap langsung oleh dunia kerja. Namun, para lulusan tersebut dihadapkan...

Ramadan, Momentum Menuju Pribadi Lebih Baik

Oleh: Yani Suryani* BULAN Ramadan sudah tiba. Tahun ini masih dalam situasi keperihatinan. Karena pandemi belum berakhir. Ini merupakan tahun kedua kita menjalankan puasa dalam...

Sah! Akhmad Muklis Darmawan Pimpin PMII Kota Serang

SERANG | Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Serang sukses menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XXII. Akhmad Muklis Darmawan terpilih sebagai ketua, masa khidmat 2021-2022. Satu...

Bayi Diserang Orang Gila, Entus: Pemkab Tangerang Harusnya Lindungi Warga Dengan Baik

TANGERANG | Seorang bayi asal Kecamatan Kronjo mendapat serangan dari orang gila. Kepalanya disiram kopi panas dari jarak dekat. Kejadiaan nahas tersebut berawal dari salah...

Tanda-Tanda Jelang Puasa di Sekitar Kita

Oleh: Moh. Bahri, S.Pd.I., S.H.* KALAU di televisi sudah ramai iklan sirup, maka puasa sudah dekat. Jika masjid-masjid dan musala mulai dibersihkan dan didandani lebih rapi,...

IKLAN

BERITA TERPOPULER

Setelah Didemo Warga Terkait BLT, Kepala Desa Lebak Wangi Gantung Diri

TANGERANG | Kabar duka datang dari Kepala Desa Lebak Wangi Kecamatan Sepatan Timur Kabupaten Tangerang. Setelah sebelumya didemo masyarakat terkait transparansi bantuan Covid-19, Kepala...

Warga Sekitar Kawasan Millenium Butuh Pekerjaan, Pabrik Lebih Memilih Titipan Dinas

TANGERANG | Puluhan warga berunjuk rasa di depan PT Green Source Indonesia (GSI) yang berlokasi Kawasan Industri Millenium Kelurahan Kaduagung Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang. Tidak...

Miris, BLT Pusat Terindikasi Diselewengkan Aparat Kelurahan Sukamulya

TANGERANG | Merasa janggal terkait undangan pencairan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari APBN melalui Kantor Pos, Siti Aminah mempertanyakan bantuan yang hendak...

Ingin Mengajukan Bantuan Presiden Tanpa Antre, Begini Caranya

TANGERANG | Kabar baik bagi para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UMKM). Khususnya yang terdampak pandemi Covid-19. Lantaran pemerintah akan memberikan langsung Bantuan Presiden Produktif...

Digugat LBH Ansor, Alfian Tanjung Tak Punya Nyali Datangi Pengadilan

TANGERANG | Kasus penghinaan oleh Alfian Tanjung terhadap Banser terus berlanjut. Ketua Umum GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qoumas didampingi pengacara LBH Ansor beserta...

Orang Tidak Dikenal Robek Al Qur’an dan Coret Musala di Tangerang

TANGERANG | Sebuah musala di Perumahan Villa Tangerang Elok Kelurahan Kutajaya Kecamatan Pasar Kemis Kabupaten Tangerang penuh dengan coretan. Setidaknya ada empat tulisan di dinding...

Pungli Masuk Sekolah SMPN 1 Jambe Disoal

TANGERANG | Pungutan liar kerap dilakukan di berbagai institusi oleh oknum berwatak korup. Tak terkecuali pada lembaga pendidikan. Terlebih pada proses Penerimaan Peserta Didik...

AGENDA

BERITA TERKAIT

Perempuan Tidak Harus Memilih

Oleh: Hamzah Sutisna* BICARA soal perempuan, tentu akan banyak sekali hal yang bisa disampaikan. Terutama terakit peran yang diembannya.  Namun, jauh dari pada itu, hampir semua...

Ramadan, Momentum Menuju Pribadi Lebih Baik

Oleh: Yani Suryani* BULAN Ramadan sudah tiba. Tahun ini masih dalam situasi keperihatinan. Karena pandemi belum berakhir. Ini merupakan tahun kedua kita menjalankan puasa dalam...

Tanda-Tanda Jelang Puasa di Sekitar Kita

Oleh: Moh. Bahri, S.Pd.I., S.H.* KALAU di televisi sudah ramai iklan sirup, maka puasa sudah dekat. Jika masjid-masjid dan musala mulai dibersihkan dan didandani lebih rapi,...

Abuya Uci Turtusi, Energi Yang Tak Akan Mati

Oleh: Endi Biaro* PUNCAK pencapaian manusia, kata Sastrawan Albert Camus, adalah menjadi: legenda. Di posisi ini, seorang besar yang akan kita perbincangkan, yakni almarhum Abuya Uci...

Kiai Embay dan Inklusivisme Mathla’ul Anwar

Oleh: Eko Supriatno* MUKTAMAR Ke-20 Mathla’ul Anwar (MA) telah berakhir. Kiai Embay Mulya Syarief terpilih sebagai ketua umum periode 2021-2016.  Mathla’ul Anwar adalah salah satu organisasi...

Urgensi Perda Pondok Pesantren di Banten

Oleh: Eko Supriatno* TANGGAPAN Gubernur Banten atas apa yang dibacakan Wakil Gubernur Andika Hazrumy terlihat ‘kurang begitu respek’ terhadap Raperda usulan DPRD Banten. Terkhusus tentang...

Nahdlatul Ulama Sebagai Benteng Kerukunan Umat Beragama

Oleh: Muhammad Aldiansyah* BICARA soal Nahdlatul Ulama (NU), sudah pasti tentang bangsa kita hari ini. Hampir sebagian besar warga Indonesia merupakan nahdliyin. Kita semua tau, peran...

IKLAN

SEPUTAR BANTEN

Sah! Akhmad Muklis Darmawan Pimpin PMII Kota Serang

SERANG | Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Serang sukses menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XXII. Akhmad Muklis Darmawan terpilih sebagai ketua, masa khidmat 2021-2022. Satu...

Optimalisasi Kerja Sama Pengelolaan Pelabuhan, Isbandi Ardiwinata: Kita Awali Hari Ini

SERANG | Kerja sama antara PT Serang Berkah Mandiri (Perseroda) dan PT Inter Trias Abadi Indonesia memasuki babak baru. Setelah hampir satu tahun berjalan...

Terpilih Sebagai Koordinator Banten, BEM Untirta Akan Sampaikan Beberapa Gagasan Kepada Gubernur

BANTEN | Musyawarah Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) ke-14 memilih Untirta sebagai Koordinator Daerah Banten periode 2021-2022. Munas itu digelar dan dihadiri...

Presma Untirta: Tudingan Nasir Terhadap PT Krakatau Steel Tidak Berdasar

SERANG | Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menyikapi tudingan Anggota Komisi VII DPR RI, Muhammad Nasir...

HPN Banten Siap Awali Go Digital Dengan Membentuk Starup

BANTEN | Pengurus Wilayah (PW) Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Provinsi Banten akan mengirim 19 pengusaha untuk mengikuti Digital Business Forum yang akan dilaksanakan di...

Kejati Banten: Kehadiran Media Penting Untuk Mencerdaskan Masyarakat

SERANG | Kehadiran Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) di Provinsi Banten diharapkan dapat mewujudkan informasi yang baik, sehat, dan berimbang. Menjadikan media sebagai alat...

LBH Ansor Akan Selenggarakan Pelatihan Paralegal Santri

BANTEN | Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor terus berupaya agar masyarakat semakin mudah mendapatkan bantuan hukum. Salah satunya dengan memperbanyak paralegal di setiap daerah. Hal...

IKLAN

SEPUTAR DESA

Banyak Kejanggalan, Belasan Warga Cibadak Datangi Kecamatan, Persoalkan Penggunaan Dana Desa

TANGERANG | Penggunaan dana desa sejatinya diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, pemberdayaan, dan penyelenggaraan pemerintahan desa. Transparansi penggunaan Dana Desa mutlak adanya. Agar publik bisa mengetahui....

Refleksi 7 Tahun UU Desa: Ingat, Desa Membangun, Bukan Membangun Desa

TANGERANG | Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa sudah memasuki tahun ketujuh. Sejak disahkan pada 15 Januari 2014. Dalam rangka refleksi 7 tahun terbitnya...

Pemdes Pete Tetapkan 362 Penerima BLT Dana Desa

TANGERANG | Pemerintahan Desa Pete Kecamatan Tigaraksa melakukan Musyawarah Desa. Agenda tersebut membahas validasi, finalisasi, serta penetapan calon penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang...

Realisasi Pembangunan Desa Bantar Panjang Banyak Masalah, Camat Tigaraksa Tetap Rekomendasi Pencairan

TANGERANG | Carut-marut realisasi pembangunan Desa Bantar Panjang Kecamatan Tigaraksa tidak berarti kucuran dana dari pemerintah tersendat. Hal ini terbukti dari terus berlangsung pencairan dana...

Ini Jadwal dan Tahapan Pilkades Serentak Kabupaten Tangerang

TANGERANG | Jadwal tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 77 desa se-Kabupaten Tangerang telah selesai dibahas. Bahkan sudah mulai disosialisasikan oleh dinas terkait. Mulai...

Pengumuman: Pilkades Tangerang Digelar Juli 2021

TANGERANG | Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 77 desa se-Kabupaten Tangerang akan digelar bulan Juli tahun ini. Adapun terkait tahapan dimulai pada...

Soal Potongan Dana BLT, TSW Minta Polres Panggil Kepala Desa Pasanggrahan

TANGERANG | Musibah tidak menjadi pelajaran dan bahan muhasabah bagi Pemerintahan Desa Pasanggrahan Kecamatan Solear. Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai bentuk Jaring Pengaman Sosial (JPS)...