Manaqib Kebangsaan Gus Dur

Oleh: Abdul Gofur, S.H., M.H.

PERINGATAN haul ke-11 Almaghfurlah Dr. (H.C.) K.H. Abdurrahman Wahid, Presiden Republik Indonesia ke-4, jatuh pada tanggal 30 Desember 2020. 

Gus Dur wafat pada Rabu, 30 Desember 2009, di RSCM, Jakarta. Setelah dirawat beberapa hari karena sakit, kemudian dimakamkan di komplek Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Wafat dalam usia 69 tahun. Beliau lahir tanggal 4 Agustus 1940 di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

Abdurrahman Wahid adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim, merupakan putra seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Asy’ari. Sedangkan Ibunya, Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri.

Dari perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak. Yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Baca Juga

Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu, juga aktif berkunjung ke perpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun, telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, juga hobi bermain bola, catur, dan musik.

Bahkan, Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lain, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi mendalam di dunia perfilman. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di Pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studi di Mesir.

Sebelum berangkat ke Mesir, paman beliau melamarkan seorang gadis untuknya. Seorang santri bernama Sinta Nuriyah, anak Haji Muhamad Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraan mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebuireng Jombang. Tiga tahun kemudian, menjadi sekretaris Pesantren Tebuireng, dan pada tahun yang sama mulai menjadi penulis.

Gus Dur kembali menekuni bakatnya sebagai penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikirannya mulai mendapat perhatian banyak.

Pada tahun 1974, Gus Dur diminta sang paman, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu Pesantren Tebuireng sebagai sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapat undangan menjadi narasumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan. Baik dalam maupun luar negeri.

Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren. Kemudian mendirikan P3M, dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai Wakil Katib Syuriah PBNU.

Saat itu Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial, dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku, dan disiplin.

Foto: Pernikahan Gus Dur dengan Sinta Nuriyah (Google/Istimewa).

Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap ‘menyimpang’ —dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU— dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1983.

Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986 dan 1987. Sesuatu yang jarang terjadi pada saat itu, bahkan hari ini.

Pada tahun 1984, Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-‘aqdi yang diketuai K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994).

Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari kebanyakan orang.

Gagasan Manaqib Gus Dur

Dalam kamus Munjid atau kamus-kamus bahasa arab lainnya, manaqib merupakan ungkapan kata jama’ yang berasal dari kata manaqiban, artinya ath-Thariqu fil-aljabal (jalan menuju gunung). Di artikan juga dengan sebuah kisah yang berisikan autografi atau sejarah hidup para sahabat Nabi, Waliullah, dan orang sholeh.

Membaca manaqib artinya membaca sejarah hidup, kebaikan amal, dan akhlak yang terpuji sesorang yang dekat dengan Allah. Dengan sebab itu kata-kata manaqib khusus hanya bagi orang-orang baik dan mulia saja.

Manaqib Sayyidina Khadijah al-Kubro, Manaqib Umar ibn Khattab, Manaqib Ali bin Abi Thalib, Manaqib Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Manaqib Sunan Bonang, dan sebagainya merupakan misal dari apa yang disebut di atas.

Dalam sebuah hadis diterangkan keutamaan ketika membaca autobiografi (manaqib) para Wali, Ulama, serta orang-orang shaleh dapat melebur dosa serta mendatangkan rahmat Allah.

”Mengingat para Nabi sebagian dari Ibadah, mengingat para orang shaleh adalah pelebur dosa, mengingat kematian adalah sedekah, dan mengingat neraka adalah jihad.” (HR. ad-Dailamy)”.

Gagasan manaqib Gus Dur diinisiasi oleh ketua umum DPP PKB Muhaimin Iskandar. Manaqib atau pembacaan sejarah pemikiran dan perjuangan Gus Dur melalui testimoni para tokoh.

Foto: Pamflet Haul ke-11 Gus Dur (Google/Istimewa).

Muhaimin Iskandar menilai, membaca kembali manaqib Gus Dur, penting dalam merefleksikan situasi sosial saat ini. Ketika masalah-masalah sosial tentang keberagaman dan pluralisme kembali terusik seperti saat ini, semua pasti rindu kehadiran Gus Dur. Maka, selain berdoa, pembacaan manakib ini jadi upaya meneruskan perjuangan Gus Dur.

Gus Imin atau Cak Imin sapaan akrabnya, adalah keponakan Gus Dur yang mewarisi kepiawaian politik sang paman. Tak ayal selama dari kepulangan dari Jogja, Gus Imin diminta Gus Dur untuk ke Jakarta membantunya dalam berbagai perjuangan membuat forum demokrasi, membela kaum minoritas, bahkan turut andil membidani PKB mendampingi Gus Dur dari kalangan anak muda pada saat itu.

Dari perjalan panjang itulah Cak Imin banyak belajar tentang Gus Dur, menerangkan ada enam pelajaran yang selalu relevan untuk terus diperjuangkan. Yakni: Ketauhidan, keberanian, kemanusiaan, persamaan dan kebersamaan, silaturrahim atau komunikasi, dan perdamaian.

Menurut Muhaimin Iskandar, Ketauhidan Gus Dur itu istilahnya sudah mencapai level ‘tidak ada rasa takut dan tidak ada rasa sedih’. Dan itu diterjemahkan dalam kehidupan sosial.

Salah satu contohnya, Cak Imin mengisahkan, Gus Dur di zaman ORBA sempat dilarang berziarah ke makam Ayahnya, di Jombang. Bahkan, ketika itu semua akses masuk diperintahkan ditutup saat Gus Dur sudah mendekati maqbarah.

Kalau orang biasa, tentu akan marah besar, sebab hak untuk berdoa di makam ayah sendiri, kok dilarang. Tapi Gus Dur tidak marah dan dendam. Dia pun tetap ziarah dan tahlil meski di pinggir jalan dekat makam tersebut.

Gus Dur, Pancasila Fitrah Keragaman

Menurut Gus Dur, dalam bukunya Mengurai Hubungan Agama dan Negara, Pancasila adalah ideologi yang mendukung sistem demokrasi, sehingga sering disebut sebagai demokrasi Pancasila, yaitu demokrasi secara Islam.

Gus Dur berpendapat, Pancasila merupakam hasil dari kompromi-kompromi politik yang ingin menjaga keutuhan negara Indonesia. Sekaligus memungkinkan semua warganya bisa hidup bersama-sama secara harmoni, dengan menerima semua aspek kekayaan tradisi yang sudah ada.

Menurut Presiden RI ke-4, itu merupakan langkah konkret realistis secara politik bila melihat dari pluralitas agama di Indonesia.

Gus Dur pernah menguraikan Pancasila dalam makalah yang dipaparkan di Seoul, pada 25 Agustus 1990 bertajuk Islam and Pancasila: Development of a Religious Political Doctrine in Indonesia. Menurutnya, Pancasila justru merupakan doktrin politik religius yang sesuai dengan Islam. Nilai-nilai agama ini menyinari ruang publik bangsa melalui Pancasila.

Jika dianalogikan, Islam adalah tebu, sedangkan Pancasila merupakan gula sebagai agama yang turun dari Tuhan, Islam adalah sumber, tebu. Namun, jika kita ingin membuat teh manis, haruskah tebu yang digunakan? Tentu saja gula, perasan dari tebu, yang kontesktual dengan kebutuhan.

Dalam kehidupan berbangsa yang memiliki konteksnya tersendiri, Islam menerangi bangsa melalui “saripati manis”-nya, yakni nilai-nilai Pancasila. Dalam pandangan Gus Dur, Pancasila yang bermahkota Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi jalan keluar dari dua kebuntuan. Pada satu sisi, kebuntuan teokrasi yang menghendaki penegakan kedaulatan Allah (hakimiyatullah).

Foto: Buku Mengurai Hubungan Agama dan Negara (Google/Istimewa).

Ikhtiar Gus Dur Untuk Pancasila dan NKRI

Pada awal-awal masa Orde Baru, wacana menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal banyak pertentangan dari berbagai kalangan Islam fudamental, termasuk Gus Dur dan NU.

Gusdur Tampil di depan, memainkan gagasan Islam Kebangsaan dan pancasila melalui Nahdlatul Ulama (NU), sebuah institusi yang telah banyak mewarnai pemikiran Gus Dur, mengingat organisasi terbesar se-Indonesia ini dilahirkan oleh keluarga besarnya kakeknya, Hadratusyeh K.H. Hasyim As’ari beserta jaringan pesantren yang memiliki tradisi kuat tentang keindonesiaan.

Bersama NU, Gus Dur terus mencoba untuk merespons dan menguatkan Pancasila dalam sendi kehidupan masyarakat, tepatnya pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Situbondo, pada 21 Desember 1983. Di sana Gus Dur menampung dan menguatkan hubungan Islam dan Pancasila melalui sebuah deklarasi yang berbentuk penegasan-penegasan tentang perbedaan falsafah kenegaraan dan posisi keagamaan masyarakatnya.

Menurut Nur Syam, dalam NU Pancasila dan Civil Religion, menyebutkan deklarasi tentang hubungan Islam dan Pancasila tersebut secara jelas, NU berikut Gus Dur berusaha untuk menjelaskan bagaimana pandangan Islam terhadap Pancasila yang merupakan falsafah dasar Indonesia, namun sekaligus, penjelasan tersebut tidak semata-mata membuat Islam harus berdiri berseberangan dengan Pancasila.

Sumbangsih Gus Dur menganggap penerimaan Pancasila melalui beberapa pertimbangan penting, antara lain:

Pertama, konsep fitrah. Yang merupakan sangat penting dalam Islam. Fitrah merupakan dorongan yang sudah tertanam di dalam diri manusia untuk menemukan Tuhannya. Dorongan tersebut menyebabkan manusia menyerah diri (Islam) kepada Allah.

Kedua, konsep ketuhanan. NU menilai rumusan yang Maha Esa menurut Pasal 29 Ayat (1) UUD 1945 berbunyi Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menjiwai sila-sila lainnya, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan Islam. “Negara berdasarkan atas ketuhanan Yang Maha Esa” disini yang dinilai oleh NU adalah kedudukan agama dalam negara adalah bersifat rumit dan krusial.

Ketiga, pemahaman sejarah. Maksudnya ialah penerimaan Pancasila diperkuat oleh Mukatamar NU dengan peranan umat Islam menentang penjajahan dan mempertahan kemerdekaan bangsa.

Foto: Gus Dur (Google/Istimewa).

Gus Dur Benteng Pancasila dan Demokrasi

Terdapat beberapa poin kiprah Gus Dur dalam mengawal Pancasila, diantaranya:

Pertama, kelompok penentang Pancasila dapat diimbangi dengan istilah “peminjaman budaya yang selektif”, pernah didengungkan Ki Hajar Dewantoro. Di mana pembaruan harus dilihat dari segenap faedah dan mempertimbangkan nafas lokal Indonesia.

Karena harus benar-benar diakui bahwa kelompok ini merupakan bagian dari reaksi jaringan global, bukan skala lokal, jangan sampai, masa depan Pancasila diberangus oleh istilah pembaruan dan kelompok lainnya tidak dapat berperan karena terperangkap oleh kesan kontra-pembaruan.

Kedua, seperti yang dilakukan oleh Gus Dur, bahwa Pancasila harus dikawal dengan baik oleh pelaku yang baik pula. Bukan Pancasila yang terlampau diagungkan menjadi senjata pamugkas era Orde Baru. Bukan pula dilebur-totalkan melalui penerjemahan pemerintahan sekular.

Pancasila harus menempati posisi semula, sebagai polisi yang adil di antara berbagai kelompok, dan sebagai meja diskusi untuk mendengar masing-masing aspirasinya. Karena fungi-fungsi tersebutlah yang menjadikan Gus Dur berkata, tanpa Pancasila, Indonesia tidak akan ada, atau jika pun ada, Indonesia sekadar raksasa mati dan bukan sebagai negara yang dicita-citakan.

Perjuangan Gus Dur terhadap pengawalan Pancasila, saat Ia menjabat sebagai seorang Presiden. Terkait hubungan Islam dan Pancasila, Gus Dur menerbitkan kepres No. 6 Tahun 2000 yang mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa.

Dalam keputusan tersebut, Gus Dur merasa bahwa Pancasila harus diperankan dalam pengakuan hak-hak sipil penganut Konghucu, semisal memberi keleluasaan untuk merayakan Imlek dan beribadah sesuai dengan keimanannya. Gus Dur jelas menimbang dirinya sebagai seorang tokoh muslim, namun menjalankan prinsip-prinsip bernegara yang menjamin kebebasan beragama adalah suatu keharusan, meskipun harus bertentangan dengan pemerintahan sebelumnya dan satu-dua kelompok Islam yang cenderung menganut dominasi mayoritas.

Foto: Gus Dur saat mengunjungi Papua (Google/Istimewa).

Gus Dur Pembela Kemanusiaan

Gagasan mencabut TAP MPRS Nomor XXV/1966, Presiden kelima Republik Indonesia, K.H. Abdurrahman Wahid, selalu menjadi perhatian sampai saat ini. Selain makna yang sangat dalam, cara pandang Gus Dur soal kehidupan berbangsa dan bernegara diakui memang telah membuka jalan pikiran bagi setiap yang mendengarnya.

Dasar argumentasi yang disampaikan Gus Dur memang tepat dan sesuai dengan kondisi yang terjadi. Meski begitu, saat menjabat sebagai presiden, kebijakan Gus Dur selalu menjadi polemik. Salah satu alasannya karena pemikiran Gus Dur terlampau sudah melesat jauh ke depan dibandingkan dengan tokoh lain yang menolaknya.

Seperti saat Gus Dur mencabut TAP MPRS Nomor XXV/1966 Tentang Pelarangan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ramai-ramai Gus Dur dihujat dan dicaci maki oleh lawan politiknya. Ternyata setelah diungkap, apa yang dilakukan Gus Dur tersebut sudah tepat dan tidak bertentangan dengan konstitusi negara.

Gus Dur mempunyai tiga alasan secara obyektif, mencabut TAP MPRS Nomor XXV/1966. Pertama, konsep-konsep Marxisme telah dipelajari terbuka di lingkungan perguruan tinggi. Kedua, era komunis telah berakhir seiring berakhirnya negara Uni Soviet di ujung babak perang dingin. Ketiga, dendam sejarah masa lalu harus disingkirkan demi menata kehidupan Indonesia yang lebih baik ke depan.

Menurut Gus Dur, Indonesia adalah negara hukum sebagaimana telah dirumuskan oleh para pendiri negara Indonesia. Menetapkan konsep negara hukum dalam pelaksanaan negara, seperti persamaan hak-hak yang diatur berdasarkan ketetapan hukum. Karena, negara Indonesia berdasarkan atas hukum.

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (3) UUD NRI 1945 amandemen ketiga menyatakan, Negara Indonesia adalah negara hukum. Dengan demikian, Negara hukum yang dimaksud ialah negara yang menegakkan supremasi hukum untuk menegakkan kebenaran dan keadilan serta tidak ada kekuasaan yang tidak dipertanggungjawabkan menurut hukum. Akan tetapi, Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri mengenai pandangan tentang negara hukum, yakni negara hukum Pancasila.

Kepulangan Gus Dur menyisakan duka dan kepiluan yang amat mendalam bagi bangsa Indonesia. Karena kehilangan tokoh agama, pejuang demokrasi, pemimpin politik, pembela kaum minoritas, pengusung hak asasi, pahlawan pluralisme, penganjur perdamaian, dan penentang kekerasan.

Semua karya dijalaninya dengan sepenuh hati sebagai panggilan hidup, sekaligus sebagai perwujudan keyakinan dan nuraninya. Dalam memperjuangkan prinsip hidup, Gus Dur tidak pernah ragu-ragu, tegas, tanpa kehilangan rasa humor yang tertinggi. Ia dikenal sebagai sosok yang humoris dan pemberani di semua medan dalam membela kemanusiaan.

*Penulis adalah Dosen Tetap STISNU Nusantara dan Wakil Ketua DPC PKB Kabupaten Serang.

 4,070 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

TANGERANG | Paradigma Indonesia baru-baru ini merilis hasil survei. Potret suara publik terkait beberapa tokoh yang layak menjadi Gubernur Banten. Survei Menuju Pilgub 2024 ini...

LEBAK | AU, mantan Kepala Desa Pasindangan (49), Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak diduga telah menggelapkan uang Bantuan Langsung Tunai (BLT) milik warganya. Informasi yang dihimpun,...

TANGERANG | Warga Desa Pasir Bolang Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang mendatangi Gudang Alfamart. Menyampaikan tuntutan pengelolaan limbah kardus. Kedatangan puluhan warga diduga kuat karena kepentingan...

Oleh: Aditya Hidayatulloh* BELAKANGAN, buruh Tangerang sedang disibukkan dengan tuntutan kenaikan UMR (Upah Minimum Regional), yang kini telah resmi diganti menjadi UMP (Upah Minimum Provinsi)...

VINUS TV

BERITA TERBARU

Rano Karno Masih Paling Populer di Banten, Ungguli Seluruh Kepala Daerah

BANTEN | Temuan hasil survei jelang Pilgub Banten 2024 oleh Paradigma Indonesia menunjukan Rano Karno berada di posisi teratas. Baik tingkat keterkenalan maupun kesukaan. Hal...

Menuju Pilgub Banten, Dua Tokoh Tangerang Masuk Radar Cagub

TANGERANG | Paradigma Indonesia baru-baru ini merilis hasil survei. Potret suara publik terkait beberapa tokoh yang layak menjadi Gubernur Banten. Survei Menuju Pilgub 2024 ini...

Kisah Rizki, Anak Tukang Kue Berhasil Lolos Tes Polisi

BANTEN | Meski terlahir dari keluarga kurang mampu, tak menyurutkan niat Rizki untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang anggota polisi. Hal itu terungkap saat tim Humas...

Job Fair dan Kinerja Disnaker, Seremoni Minus Inovasi

Oleh: Aditya Hidayatulloh* BELAKANGAN, buruh Tangerang sedang disibukkan dengan tuntutan kenaikan UMR (Upah Minimum Regional), yang kini telah resmi diganti menjadi UMP (Upah Minimum Provinsi)...

Ada Kotak Uang di Toilet SPBU Bugel, Katanya Kencing Rp2000

  TANGERANG | Warga Tigaraksa mengeluh, masuk toilet SPBU Bugel Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang harus mengeluarkan uang. Untuk kencing saja Rp2000. Keluhan itu salah satunya datang...

Indikasi Gelapkan Uang BLT, Mantan Kepala Desa Ini Terancam Penjara Seumur Hidup

LEBAK | AU, mantan Kepala Desa Pasindangan (49), Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak diduga telah menggelapkan uang Bantuan Langsung Tunai (BLT) milik warganya. Informasi yang dihimpun,...

Refleksi Hari Guru Nasional 2021: Ujung Tombak Menuju Generasi Emas

Oleh: Teti Surtikah* 25 November 2021, Indonesia kembali memperingati Hari Guru Nasional (HGN). Momentum sakral ini selalu kita rayakan bersama oleh setiap para Pendidik dan...

Bikin Malu! Rebutan Limbah, Kades Pasir Bolang Kerahkan Warga Demo Perusahaan

TANGERANG | Warga Desa Pasir Bolang Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang mendatangi Gudang Alfamart. Menyampaikan tuntutan pengelolaan limbah kardus. Kedatangan puluhan warga diduga kuat karena kepentingan...

Terkait Staf Baru Desa Pasanggrahan, BPD: Belum Sah Secara Hukum

TANGERANG | Perangkat Desa Pasanggrahan Kecamatan Solear sampai saat ini belum mengantongi Surat Keputusan (SK) sebagai pegawai. Hal ini disampaikan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pasanggrahan....

IKLAN

BERITA TERPOPULER

Bendera Negara Asing Berkibar di Klinik Milik PNS, Warga Minta Aparat Bertindak Tegas

TANGERANG | Pemandangan kurang pantas terjadi di Perumahan Villa Tangerang Elok Kelurahan Kuta Jaya Kecamatan Pasar Kemis Kabupaten Tangerang. Berkibar bendera Palestina tanpa berdampingan...

Setelah Didemo Warga Terkait BLT, Kepala Desa Lebak Wangi Gantung Diri

TANGERANG | Kabar duka datang dari Kepala Desa Lebak Wangi Kecamatan Sepatan Timur Kabupaten Tangerang. Setelah sebelumya didemo masyarakat terkait transparansi bantuan Covid-19, Kepala...

Warga Sekitar Kawasan Millenium Butuh Pekerjaan, Pabrik Lebih Memilih Titipan Dinas

TANGERANG | Puluhan warga berunjuk rasa di depan PT Green Source Indonesia (GSI) yang berlokasi Kawasan Industri Millenium Kelurahan Kaduagung Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang. Tidak...

Banten Berduka, Abuya Uci Cilongok Tutup Usia

TANGERANG | Kabar duka, Pengasuh Pondok Pesantren Al Istiqlaliyah Cilongok Kecamatan Pasar Kemis Kabupaten Tangerang, Abuya Uci Cilongok tutup usia. Informasi yang dihimpun Vinus, Abuya...

Banten Berduka, Qori Internasional Hawasyi Nawawi Tutup Usia

TANGERANG | Kabar duka datang dari Qori Internasional sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Quran Annawawiyah, KH. Hawasyi Nawawi. Kepastian kabar duka itu dibagikan keluarga besar, santri,...

Miris, BLT Pusat Terindikasi Diselewengkan Aparat Kelurahan Sukamulya

TANGERANG | Merasa janggal terkait undangan pencairan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari APBN melalui Kantor Pos, Siti Aminah mempertanyakan bantuan yang hendak...

Dampak Covid-19, Ratusan Pekerja PT Universal Luggage Indonesia Diberhentikan

TANGERANG | Di tengah pandemi Covid-19, sebanyak 300 lebih tenaga kerja kontrak diberhentikan sepihak oleh PT Universal Luggage Indonesia. Perusahaan yang berlokasi di Desa...

AGENDA

BERITA TERKAIT

Job Fair dan Kinerja Disnaker, Seremoni Minus Inovasi

Oleh: Aditya Hidayatulloh* BELAKANGAN, buruh Tangerang sedang disibukkan dengan tuntutan kenaikan UMR (Upah Minimum Regional), yang kini telah resmi diganti menjadi UMP (Upah Minimum Provinsi)...

Refleksi Hari Guru Nasional 2021: Ujung Tombak Menuju Generasi Emas

Oleh: Teti Surtikah* 25 November 2021, Indonesia kembali memperingati Hari Guru Nasional (HGN). Momentum sakral ini selalu kita rayakan bersama oleh setiap para Pendidik dan...

Konsep Sosiologi Islam dan Ideologi Dunia, Sebuah Telaah Kritis

Oleh: M. Harikal Ramadhan Pohan* PEMBAHASAN mengenai sosiologi Islam dan ideologi dunia, pada prinsipanya bukan sesuatu yang baru. Kaum terdidik sudah lama mendalaminya. Namun, sampai...

Memahami Analisis Stilistika, Sebuah Pendekatan Gaya Bahasa Puisi

Oleh: Jatmiko* DALAM sebuah bentuk karya sastra, sudah menjadi kewajiban bagi penulis untuk membuat sesuatu yang sulit untuk diterka. Ini salah satu cara agar pembaca...

Wanita Itu Tulang Rusuk, Bukan Tulang Punggung

Oleh: Erna Ummu Aqilah* RASULULLAH saw. bersabda: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah." (HR. Muslim). Hadis di atas menjelaskan bagaimana mulianya...

Menyibak Kasus Pembunuhan, Titik Lemah Kepolisian dan Konstruksi Framing Media

Oleh: Eko Supriatno* SUDAH hampir dua bulan kasus pembunuhan sadis ibu-anak di Subang belum juga terungkap. Bak sinetron, pengungkapan kasus pembunuhan ini mampu membius pemirsa...

Pergeseran Budaya Arab: Antara Tradisi dan Modernisasi

Oleh : Abdul Haris* SEBAGAI umat beragama di bawah naungan panji Islam, kita semua tetap memberikan perhatian khusus terkait berbagai fenomena yang melibatkan kebudayaan Islam....

IKLAN

SEPUTAR BANTEN

Kisah Rizki, Anak Tukang Kue Berhasil Lolos Tes Polisi

BANTEN | Meski terlahir dari keluarga kurang mampu, tak menyurutkan niat Rizki untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang anggota polisi. Hal itu terungkap saat tim Humas...

Indikasi Gelapkan Uang BLT, Mantan Kepala Desa Ini Terancam Penjara Seumur Hidup

LEBAK | AU, mantan Kepala Desa Pasindangan (49), Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak diduga telah menggelapkan uang Bantuan Langsung Tunai (BLT) milik warganya. Informasi yang dihimpun,...

Tol Serang-Rangkas Diresmikan, Gubernur Banten: Saya Bangga

BANTEN | Jalan Tol Serang-Panimbang, Seksi I Serang-Rangkasbitung akhirnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Berlangsung di Gerbang Tol Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, pada Selasa, (16/11). Peresmian...

Perhatian! Mulai Besok Polisi Lakukan Operasi Zebra

  TANGERANG | Selama dua pekan, Direktorat Lalu lintas (Ditlantas) Polda Banten dan jajaran akan menggelar operasi Zebra Maung 2021. Mulai Senin, 15 hingga 28...

Gubernur Banten Dukung Kehadiran JMSI Banten 

SERANG | Gubernur Banten Wahidin Halim mendukung kehadiran organisasi Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) tingkat Provinsi di wilayahnya.  Wahidin Halim mengatakan, di Banten ini banyak...

Petugas Hotel Pandeglang Raya Temukan Mayat Tak Berbusana

BANTEN | Petugas hotel di Pandeglang menemukan seorang pria tak bernyawa. Terbujur kaku dan tidak berbusana. Belakang diketahui pria tersebut berasal dari Lebak. Pria berusia...

HMB Minta BKD Banten Bersih Dari Praktik Jual Beli Jabatan

BANTEN | Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Banten harus memperhatikan beberapa dasar saat melakukan pengisian jabatan birokrasi. Seperti kualifikasi, kompetensi, kualitas kinerja, dan rekam...

IKLAN

SEPUTAR DESA

Ini Jadwal dan Tahapan Pilkades Serentak Kabupaten Tangerang

TANGERANG | Jadwal tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 77 desa se-Kabupaten Tangerang telah selesai dibahas. Bahkan sudah mulai disosialisasikan oleh dinas terkait. Mulai...

Banyak Kejanggalan, Belasan Warga Cibadak Datangi Kecamatan, Persoalkan Penggunaan Dana Desa

TANGERANG | Penggunaan dana desa sejatinya diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, pemberdayaan, dan penyelenggaraan pemerintahan desa. Transparansi penggunaan Dana Desa mutlak adanya. Agar publik bisa mengetahui....

Realisasi Pembangunan Desa Bantar Panjang Banyak Masalah, Camat Tigaraksa Tetap Rekomendasi Pencairan

TANGERANG | Carut-marut realisasi pembangunan Desa Bantar Panjang Kecamatan Tigaraksa tidak berarti kucuran dana dari pemerintah tersendat. Hal ini terbukti dari terus berlangsung pencairan dana...

Refleksi 7 Tahun UU Desa: Ingat, Desa Membangun, Bukan Membangun Desa

TANGERANG | Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa sudah memasuki tahun ketujuh. Sejak disahkan pada 15 Januari 2014. Dalam rangka refleksi 7 tahun terbitnya...

Pengumuman: Pilkades Tangerang Digelar Juli 2021

TANGERANG | Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 77 desa se-Kabupaten Tangerang akan digelar bulan Juli tahun ini. Adapun terkait tahapan dimulai pada...

Pemdes Pete Tetapkan 362 Penerima BLT Dana Desa

TANGERANG | Pemerintahan Desa Pete Kecamatan Tigaraksa melakukan Musyawarah Desa. Agenda tersebut membahas validasi, finalisasi, serta penetapan calon penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang...

Serdang Wetan Wakili Banten Dalam Ajang Pemilihan Desa Brilian Bacth 1 Tingkat Nasional

TANGERANG | Penghargaan tingkat nasional diberikan kepada 10 desa pada program Desa Brilian Bacth 1 tahun 2021 oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI). Salah satunya...