spot_img
spot_img

Kurikulum Prototipe, Quo Vadis Arah Pendidikan Sebenarnya?

Foto: Ilustrasi kurikulum prototipe (Istimewa).

PERALIHAN metode pembelajaran dari tatap muka ke daring selama kurun waktu dua tahun menimbulkan banyak masalah. Baik yang dialami siswa, guru, maupun orang tua. Dampak Covid-19.

Tak hanya itu, pandemi juga memunculkan learning loss. Suatu istilah yang digunakan sebagai sebuah kondisi hilangnya pengetahuan dan keterampilan. Baik itu secara umum maupun spesifik. Atau terjadinya kemunduran proses akademik karena faktor tertentu.

Kurikulum yang diberlakukan saat ini: Kurikulum 2013. Cirinya, belajar tuntas, penilaian autentik, penilaian berkesinambungan, menggunakaan teknik yang bervariasi berdasarkan acuan kriteria.

Sementara dari karakteristiknya, kurikulum 2013 yang ingin dikembangan ialah keseimbangan antara sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, ktreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.

Baca Juga

Penyusunan kurikulum 2013 telah menghabiskan dana yang tak sedikit. Namun faktanya, tetap saja tak lepas dari kritikan. Padahal dengan besaran dana yang digelontorkan seharusnya ada upaya untuk memperkecil kritikan yang ada di lapangan.

Akibat dari kondisi pandemi dan adanya kritikan terhadap kurikulum 2013 inilah yang melatarbelakamgi kurikulum 2022 dikeluarkan. Atau disebut sebagai kurikulum prototipe.

Jika dihitung dari tahun 1975 negara ini telah lebih dari 10 kali mengganti dan memperbaharui kurikulumnya. Perubahan tersebut memang bukan tidak bertujuan.  Demikian pun dengan dikeluarkannya kurikulum prototipe ini. Sebagian ada yang sangat menyambut positif, tetapi banyak pula yang memepertanyakan kebijakan kurikulum ini.

Bahkan ada kekhawatiran akan ada kesenjangan pendidikan dan hanya sekolah-sekolah yang bagus saja yang dapat menerapkan kurikulum prototipe.

Kurikulum memang penting dalam pendidikan. Hal itu sangat mempengaruhi pada mutu pendidikan. Tapi jika kurikulum sering berganti -ganti bagaimana mungkin tujuan dari kurikulum tersebut dapat terwujud. Bukankah untuk mengukur keberhasilan sebuah kurikulum pasti memerlukan waktu?

Foto: Ilustrasi kurikulum 2013 (Istimewa).

Apalagi negara ini sangat luas dan sangat variatif secara geografis, menambah deret panjang masalah yang dialami negara ini.

Jika keinginan akan adanya kemajuan bidang pendidikan, sebagai pendidik kami setuju. Namun setidaknya pemerintah harus tetap memperhatikan kondisi lapangan dan komponen lain di luar kurikulum.

Kesederhanaan pembelajaran dalam Islam telah membuktikan bagaimana kurikulumnya telah berhasil. Keberhasilan itu diantarnya ialah banyaknya ilmuwan yang benar-benar ahli ilmu dan dan keimanan serta keshalehannya sungguh luar biasa.

Seperti Ibnu Sina, Ibnu Kholdun, Zahrawi Rawi, Al-Farabi, Al-Khawarizmi, Jabir Ibnu Hayyan, dan banyak para ilmuwan yang karyanya tak tertandingi  hingga sekarang.

Tujuan pendidikan yang tertulis di dalam UU Sisdiknas seharusnya dapat dijadikan perenungan yang mendalam bagi semua komponen yang berhubungan dengan pendidkian. Kata beriman, bertakwa, dan mandiri merupakan kata yang sangat mulia. Harusnya muara pendidikan berujung pada itu semua.

Pembaharuan dan pergantian memang harus dilakukan. Namun jika ketidaksiapan dari komponen terkait pembaharuan itu, seharusnya dijadikan pertimbangan.

Oleh: Yani Suryani. Tenaga pendidik. Tinggal di Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang.

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart