spot_img
spot_img

Refleksi dan Proyeksi Awal Tahun: Setengah Ciri Tangerang yang Hilang

Foto: Proyeksi tahun 2022 (Istimewa).

JUTAAN anak muda kreatif Tangerang hingga hari ini selalu menjadi makmum. Itupun makmum masbuk, di barisan belakang, telat terlambat.

Perbincangan ini tak menggubris soal fikih atau syariah ibadah, melainkan soal prakarsa budaya dan kreativitas anak muda.

Per individu, tak kurang-kurang anak muda Tangerang tampil gemilang.

Mereka yang manggung di multiplatform Medsos. Sebagai selebgram, endorser, youtuber, atau selebriti media sosial lainnya.

Baca Juga

Namun kehadiran mereka acak. Bahkan cenderung autis sosial, tak ada sangkut paut dengan “identitas” ke-Tangerang-an.

Bahwa mereka populer, sukses, jutaan pengikut, dan kaya, itu benar. Tetapi selesai sebagai prestasi mandiri. Tanpa menggiring ide-ide lokal dan prakarsa budaya kita. Hingga itu, nama mereka dikenal sendiri-sendiri. Bukan sebagai anak muda Tangerang.

Memang apakah tak ada warna-warni Tangerang yang unik, menarik, hingga mampu membetot jamaah dunia maya?

Tentu ada dan banyak.

Tangerang kaya dengan berbagai anasir menarik. Sesungguhnya juga sangat bisa atraktif sebagai bahan olahan ide kreatif. Dari sisi apapun, entah wisata, kuliner, petualangan, ziarah sejarah, tetinggalan era klasik, dunia hobi, termasuk aura keislaman.

Bahkan warisan multikultural juga tersedia. Tangerang adalah “the melting pot” alias wadah peleburan sejati.

Kita punya komunitas China Benteng, Jawa Serang, Betawi Ora, Sunda Asli, dan Sunda Banten. Bukankah di jazirah Nusantara cukup jarang sebuah teritori yang komplet seperti ini?

Khasanah sosial budaya yang moncer ini agak mengherankan juga jika hingga detik ini tak menjadi meteor popularitas.

Foto: Endi Biaro.

Anak-anak muda Tangerang berkutat menjadi pengekor. Gagal menjadi trendsetter (pemimpin tren). Seperti tak sanggup mengangkat ikon, tren, dan berbagai keunikan itu. Padahal semua yang tersedia cocok untuk gairah kaum milenial.

Lantas apa yang salah?

Dalam kaidah rekayasa budaya, memang ada unsur yang hilang. Yakni kemampuan para pihak dan pemimpin, dalam merancang identitas unik Tangerang menjadi ikon populer.

Sisi lemahnya, antara lain, program pemerintah melulu pada asepek seremonial formal. Tak menggairahkan anak-anak muda untuk terlibat.

Faktor lain, tidak ada person, komunitas, atau lembaga yang sungguh-sungguh menggali dan memunculkan identitas unik Tangerang, untuk bisa berkibar dan punya nilai ekonomis.

Serta yang paling fatal adalah pelaku budaya itu sendiri. Dari pelbagai sisi, nuansa sosial budaya khas Tangerang adalah modifikasi dari anasir budaya daerah lain. Belum ada yang benar-benar sukses menonjolkan karakter unik Tangerang asli.

Hingga itu wajar jika sampai hari ini kita masih menjadi setengah orang Tangerang. Semoga tahun 2022 tidak demikian. Menjadi juragan di kampung sendiri. Dengan budaya dan karakter khas Tangerang.

Oleh: Endi Biaro. Warga Desa Parahu Kecamatan Sukamulya Kabupaten Tangerang.

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart