spot_img
spot_img

Kritik al Ghazali Terhadap Filsafat Barat

Foto: Penulis Yahdiani Hanani.

DALAM lintas sejarah Islam, banyak figur penting yang ikut andil berperan aktif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan pada dunia. Di antara banyaknya tokoh besar muslim, pernah kita dengar tokoh bernama Imam al Ghazali.

Al Ghazali termasuk dalam tokoh-tokoh muslim yang berperan aktif dalam menyebarkan ilmu pengetahuan untuk dunia. Dia bergelut dalam banyak bidang ilmu. Khususnya tasawuf, filsafat, dan teologi. 

Al Ghazali memiliki julukan Hujjatul Islam yang memiliki arti “argumentasi Islam”. Ia merupakan salah satu tokoh terbaik yang ada dalam sejarah Islam. Kecerdasan yang dimilikinya menjadi bukti yang tidak bisa ditolak luasnya keilmuwan yang dimiliki.

Banyak karya keilmuwan yang dilahirkan. 2 karya paling fenomenal yaitu Tahafut al Falasifah dan Ihya Ulumuddin. Keduanya menjadi sumber rujukan utama bagi kalangan cendekiawan juga pelajar muslim dan non-muslim yang ingin mempelajari filsafat dan ilmu tasawuf.

Baca Juga

Awal mulanya Al Ghazali mulai mendalami filsafat adalah tidak lain untuk mencari kesalahan-kesalahan di dalamnya. Terutama yang melenceng dari ajaran agama Islam. 

Dengan adanya tujuan seperti itu, dirinya merasa perlu untuk mengulang kembali pengenalan akan konsep naqli dan aqli dalam permasalahan agama. Tahafuut al Falasifah adalah karyanya yang berisi penuh iktirad (kritik) terhadap pemikiran filsafat barat.

Salah satu iktirad al Ghazali ada pada pendekatan filsafat model metafisika spekulatif karya Ibnu Sina yang sama dengan teori emanasi filsafat barat.

Al Ghazali melihat filsuf dalam 3 golongan besar. Pertama, golongan materialis (dahriyun). Ialah kelompok yang tidak percaya akan adanya sosok Tuhan sebagai pencipta alam semesta.

Kedua, golongan naturalis (thabi’iyun). Golongan ini mempercayai akan keberadaan Tuhan namun tak percaya akan datangnya hari kiamat.

Ketiga, golongan teis (illahiyun). Golongan ini lebih memfokuskan diri terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan. 

Al Ghazali juga memiliki 3 kritik utama terhadap pemikiran filsafat barat yang dianggap bagian dari perbuatan kekafiran, diantaranya:

1. Kepercayaan alam semesta bersifat kadim.

Beberapa filsuf barat menyatakan, alam semesta ini sudah ada sejak dulu bersamaan dengan wujud Tuhan. Mereka menganalogikan permasalahan ini seperti proses emanasi matahari dan sinarnya. Di mana matahari inilah yang mereka klaim sebagai wujud Tuhan, dan sinarnya sebagai makhluk ciptaannya.

Al Ghazali memberikan argumentasinya dengan menyampaikan apabila alam ini bersifat kadim, berarti alam ini tidak diciptakan.

Karna satu-satunya yang tidak bisa diciptakan hanyalah Allah. Dan bila alam tidak diciptakan, maka sifatnya sama dengan Tuhan, itu berarti di dunia ini memiliki 2 Tuhan.

Pemahaman seperti ini merujuk pada kesyirikan. Paham syirik ini disebut sebagai paham politeisme, sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Paham politeisme ini mempercayai Tuhan itu ada 2. Sedangkan Islam mempercayai bahwa Tuhan hanya ada 1, yaitu Allah SWT. Dialah Yang Maha Esa.

Foto: Ilustrasi lukisan al Ghazali (Istimewa).

2. Kepercayaan bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang bersifat juz’iyyat dan partikular.

Beberapa filsuf barat menyatakan Tuhan tidak mengetahui apa-apa yang berkaitan dengan-Nya. Sementara yang lainnya menyatakan Tuhan mengetahui apa-apa yang berkaitan dengan ciptaan-Nya hanya dalam konteks umum. Tanpa hal-hal yang bersifat partikular (khusus).

Al Ghazali membantah pernyataan itu dengan mengatakan, pengetahuan Allah akan hamba-Nya bukan berarti Allah harus mengalami perubahan. Karena sebenarnya, Allah mengetahui tentang hamba-Nya tanpa mengalami perubahan.

Seperti yang sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an yang berulang kali menyatakan bahwa Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu yang dilakukan oleh hamba-Nya. Bahkan Allah tahu apa yang hamba-Nya sembunyikan dalam hatinya meski tanpa seorangpun yang tau.

Menururu, al Ghazali inilah yang menjadi bukti bahwa Alllah mengetahui perkara-perkara juz’iyyat dan partikular yang ada pada hamba-Nya.

3. Penolakan terhadap kebangkitan jasmani (tubuh).

Para filsuf barat dengan tegas menyatakan jiwa hanya akan bertahan ketika berada di alam dunia. Ketika hari kebangkitan terjadi, yang bangkit hanyalah rohaninya saja.

Mereka juga mengatakan bila ada ayat-ayat yang berkenaan dengan kebangkitan jasmani, maka ayat tersebut hanyalah sebagai simbolisasi juga perumpamaan karena terbatasnya pemahaman manusia awam atau jahiliyah tentang hakikat kebangkitan.

Para filsuf barat juga mengatakan apa yang terjadi di hari kebangkitan kelak, baik siksaan atau kesenangan itu hanyalah kegiatan yang bersifat spiritual.

Kita pasti tahu betul bahwa Allah mampu untuk melakukan semua hal yang Dia kehendaki. Membangkitkan tubuh manusia di hari akhir kelak hanya masalah sepele yang bisa Allah lakukan. Karena Dia Maha Kuasa.

Hal itu digunakan al Ghazali untuk membantah setiap pernyatan para filsuf tersebut. Dengan mengatakan tidaklah mungkin kebangkitan fisik terjadi jika jasad manusia yang digunakan dalam kehidupan di dunia sudah hancur tak tersisa tulang belulangnya.

Kritik yang disampaikan oleh al Ghazali membawa dampak besar bagi dunia keilmuwan Islam. Pengaruh pemikirannya tidak hanya mencakup wilayah di Timur Tengah, tetapi juga negara-negara lain termasuk Indonesia dan negara barat lainnya.

Ditulis oleh Yahdiani Hanani. Mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Bandung. 

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart