spot_img
spot_img

Sebuah Novel untuk Para Perindu Banten

Foto: Novel Dari Banten Kusebut Namamu.

SEBUAH novel yang renyah, tetapi mengusung ambisi kuat. Sang penulis, KH. Imaduddin Utsman Al Bantani, mendedahkan begitu banyak nuansa.

Terkhusus tentang keagungan sejarah Banten. Dengan latar kekokohan budaya dan adat bernapas Islam.

Menariknya semua diurai ringan. Via kisah asmara dua pasang anak manusia, bernama Naila dan Farid.

Mengusung judul: Dari Banten Kusebut Namamu, novel ini dimulai dengan kemunculan dua tokoh utama yang disebut di atas.

Baca Juga

Mereka terpaut api kasih sayang. Namun bertubrukan dengan rangkaian tragedi.

Meski Farid dan Naila sama-sama sosok ideal: cerdas, mapan, berakhlak bagus, namun terhadang problem berat. Paling menyulitkan adalah posisi keluarga Naila, yang serius merawat garis keturunan —dari trah Kesultanan Banten.

Tantangan lanjutan, sejumlah peristiwa nahas, yang menimpa dua sejoli ini. Sang dara harus berurusan dengan polisi, lantaran memukul tiga orang preman yang mengganggu seorang Santriwati.

Sementara Farid, kesulitan meyakinkan keluarga kekasihnya, untuk menerima lamarannya.

Jika hanya sebegitu, maka cerita menjadi dangkal.

Justru kekuatannya adalah pada sketsa Novel yang laksana mozaik.

Banyak tuturan konflik yang muncul tak terduga. Plot yang naik turun. Gaya penceritaan yang menyisipkan moralitas Islam. Taburan petikan kisah Banten masa silam. Hingga pengenalan para tokoh Ulama Banten yang berjuang dengan gigih melawan penindasan.

Pembaca akan larut dalam gulungan kesedihan.

Semisal Santriwati aktivis mahasiswi yang dibunuh mafia politik. Tentang Farid yang terlunta-lunta, gila, karena ditinggalkan oleh Naila. Hingga pertarungan politik di Banten, yang tak lepas dari gurita kekuasaan pusat.

Foto: KH. Imaduddin Utsman Al Bantani penulis Novel Dari Banten Kusebut Namamu.

Warna lain yang memperkuat sisi khas Novel ini adalah kemampuan penulisnya dalam mengisahkan metode ta’aruf (perkenalan) antara pria dan wanita, melalui petikan ayat-ayat Qur’an.

Saat Farid mengirim pesan via HP ke Naila, maka dijawab dengan nomor Surat dan nomor ayat Al Qur’an. Begitu juga sebaliknya.

Bahkan, sang penulis, yang merupakan Kyai Intelektual, pemimpin Ponpes di Kresek, mampu menyisipkan pesan ketauhidan yang menggetarkan.

Farid, yang imannya goncang, lantaran sudah berdoa di depan Ka’bah dan yakin Naila akan menjadi isterinya, di ujung kisah memang berhasil memperoleh yang diinginkan. Namun dengan jalan (teramat) nelangsa.

Para pembaca akan tersentuh kesadarannya, bahwa ketentuan Allah SWT (qodar), pasti terewujud, dengan cara apapun atau berapa lama pun.

Ulasan akhir, publik Banten pantas meletakan fungsi novel ini sebagai pelecut semangat zaman. Para intelektual Banten dan anak-anak muda, hari ini mulai sadar tentang identitasnya.

Kebanggaan pada masa lalu Banten bukan semacam fosil batu, melainkan hidup dalam sumur ilmu.

Banten bertabur berbagai karya intelektual, yang layak kita gali kembali.

Last but not least, sisi lemah Novel ini adalah terlampau landai di bagian awal. Kurang menohok. Pembaca yang tak sabaran, pasti segera berhenti menikmati. Kelemahan lain: kurang greget dalam melukiskan karakter para tokohnya.

 

Judul Buku: Dari Banten Kusebut Namamu
Penulis: KH. Imaduddin Utsman Al Bantani
Peresensi: Endi Biaro

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

Resensi Buku Karya Aktivis Muda Tangerang

Resensi Kitab Karya Ulama Muda Banten

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart