spot_img
spot_img

Pesan untuk Kaum Kiri Tangerang: Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan

Foto: Penyerahan piagam penghargaan kepada Khoerun Huda selaku pemantik Kajian Tematik Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Cikupa.

Tantangan pemuda dalam menghadapi perkembangan zaman begitu nyata. Dibutuhkan modal keberanian dan keahlian khusus. Terlebih era transformatif, pemuda harus bisa memberi warna setiap rezim kekuasaan. 

 

Singkatnya, lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan, karena yang terakhir tidak akan menyelesaikan problem yang dihadapi. Pemuda wajib turut serta membangun peradaban.

 

Pemuda hari ini harus memainkan peran dalam setiap leading sector. Tentu sebagai pelopor, bukan pengekor. Karena sejatinya pemuda hadir bukan sebatas pelayan kekuasaan, melainkan mitra.

DEMIKIAN rangkuman diskusi tematik seri kedua. Membaca Ulang Peran Pemuda; Perspektif Kedekatan dengan Kekuasaan. Membincang ihwal sepak terjang kaum muda Tangerang.

Disadari atau tidak, peran pemuda sangat vital terhadap proses nation and character building. Selalu memberikan warna dalam setiap proses pembangunan. Kontribusinya luar biasa nyata. Itu tidak diragukan lagi.

“Sebagai acitvist-intelectual, dulu pemuda mendapat penerimaan luas dari kekuasaan kolonial. Alasananya lantaran kesediaannya mengambil resiko,” ujar Sudjatmoko dalam sebuah memoar.

Baca Juga

Mereka siap meninggalkan kepentingan individu serta kelompok demi terciptanya segera negara Indonesia. Betul-betul memainkan peran. Menepati garda paling utama.

Penulis tidak sedang mengulas romantisme perjuangan pemuda tempo dulu, yang benar-benar mampu mengatasi tantangan menjadi kesadaran kolektif. Tapi sekadar mengingat ulang seputar kilas balik kiprah kaum muda dalam mengambil bagian. Terutama soal memposisikan diri.

Dan, atas dasar kesadaran itu, pemuda hari ini harus tetap menjadi ujung tombak agar terciptanya sebuah kelompok pembaharu. Tentu disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Memainkan peranan penting setiap momentum. Menjadi bagian dari tujuan bernegara: mensejahterakan warganya.

Namun, faktanya, hari ini, pemuda dengan kekuasaan masih saja ada yang saling berhadap-hadapan. Via s vis. Kontra. Padahal sejatinya harus saling mengisi. Bukan menegasi.

Memang peru perubahan paradigma. Kekuasaan tidak lagi menjadikan pemuda sebagai the other. Pihak luar yang ditarik ke dalam untuk sekadar diperbantukan. Idealnya saling memainkan peran. Semacam pola kemitraan. Kolaboratif.

Perubahan itu mutlak adanya. Menjadikan kekuasan sebagai subjek, bukan objek seperti yang saat ini dipertontonkan. Karena, jika sebagai subjek tentu memiliki nilai positif bagi pemuda. Dan ini yang kemudian menjadikan kaum muda terus inklusif.

Pemuda kerap menjadi agent of social control bagi pemerintah oleh sebab tidak adanya peluang untuk saling mengisi. Padahal gagasan membangun bersama bisa lebih efektif dan produktif. Dan, penguasa harus membuka diri.

Akhirnya, activist-intelectual kembali berfungsi bukan melulu perlawanan, tetapi sebagai penopang keberlangsungan pemerintah. Sederhananya sinergitas dengan penguasa untuk tujuan pembangunan. Tentu diawali niat bersama: membangun relasi atau jejaring yang setara dengan pengambil kebijakan. Bukan yang lain.

Kemudian, pemuda pada posisi ini tentu tetap mempertahankan karakter utamanya: kritis tapi transpormatif. Bukan destruktif. Karena dengan prinsip itu, pemuda masih bisa diharapkan sebagai generasi pencerah.

Kemitraan di atas bisa melalui program pemberdayaan. Membantu pemerintah daerah dengan cara mencipta ruang-ruang baru. Melalui inisiasi program. Sehingga daerah, dalam hal ini Kabupaten Tangerang lebih inovatif dan kreatif.

Esensi pemberdayaan harus menjadi pelopor untuk mendorong kreativitas dan inovasi. Berani melakukan terobosan sesuai arah prioritas kebijakan kepala daerah. Pemuda diberikan peran utama, bukan tambahan. Sebagai subjek bukan objek dalam pembangunan.

Saat ini memang hubungan pemuda dan kekuasaan masih seputar kulit. Belum masuk subtansi. Pemuda masih diperankan sebatas pembantu. Tidak diberikan peran penuh untuk mengeksplorasi kemampuan. 

Sekadar contoh, gerakan kaum muda Tangerang agresif jika hanya ketika stimulus dari pemerintah daerah cair. Peran pemuda sebatas menghabiskan uang rakyat yang dikucurkan kepada mereka. Belum pada posisi menyajikan menu alternatif. 

Tanpa hibah, tidak ada agenda dan pergerakan. Pun kegiatan yang dilaksanakan, hanya sebatas seremonial, sisanya soal berebut jaringan, foto-foto selfie demi eksistensi, dan saling olah. Padahal jelas itu adalah sebuah distorsi.

Ingar-bingar eksistensi gerakan pemuda terlihat karena dibantu hibah. Dan sebatas rutinitas biasa. Padahal harusnya pemerintah memberi peran lebih dari itu. Semisal: menginisiasi kepeloporan pembangunan sumber daya manusia berbasis tekhnologi. Dan pemuda sebagai lokomotifnya.

Peran pemuda dalam pembangunan harus dimaknai sebagai aktualisasi dari konsep dialektika. Terus saling mengisi dan menyempurnakan. Di dalam arena. Bukan di luar. 

Sehingga pisau analisis Hegel terkait dengan dialektika masih dipandang relevan jika kedekatan pemuda dengan kekuasaan didefinisikan sebagai sumbang ide dan gagasan, kemudian merealisasikannya. Artinya tetap ada proses dialog dari produk yang dihasilkan oleh kekuasaan yang kemudian coba disempurnakan dan dipertajam oleh kaum pemuda. 

Pemuda Tangerang harus masuk ke dalam, bersama-sama membangun daerah. Memberi kontribusi nyata demi kemajuan. Tentu harus diawali dengan kemampuan. Tanpanya akan sia-sia.

Tulisan ini merupakan resume Kajian Tematik yang diselenggarkaan oleh Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Cikupa.

Oleh: Badroni Tamim, Sekretaris Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Cikupa. Lulusan UIN Ciputat.

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart