spot_img
spot_img

Marak Keluhan Pinjaman Online, LBH Ansor Buka Posko Pengaduan

Foto: Flyer Posko Pengaduan Pinjaman Online LBH Ansor Jabodetabek.

BANTEN | Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Provinsi Banten angkat bicara terkait maraknya keluhan masyarakat terkait pinjaman online. Terutama yang beberapa hari ini viral di media sosial.

Pihaknya siap mendampingi jika ada masyarakat yang merasa diintimidasi terkait data dan dan pinjaman fiktif. Termasuk tagihan yang tidak sesuai aturan yang berlaku. Dan saat ini LBH Ansor sudah membuka posko pengaduan untuk wilayah Jabodetabek.

Kepada Vinus, Ketua LBH Ansor Provinsi Banten Alfin Putrawan memberi saran kepada siapa saja yang mendapat pesan, baik WhatsApp maupun SMS agar tidak dulu mengambil sikap.

Baca Juga

Kata pria lulusan sekolah demokrasi ini, jika pesan yang diterima berupa teror atau intimidasi atas nama pinjaman online (pinjol), sebaiknya melaporkan ke pihak berwenang.

“Terkait persoalan ini, LBH Ansor siap menerima aduan. Mendampingi jika ingin lanjut ke pihak berwajib,” ujarnya pada Kamis, (27/05).

Selain itu, Alfin mendorong stakeholder untuk melakukan upaya perbaikan sistem dan mekanisme pinjaman online. Pemerintah, DPR, dan OJK harus betul-betul melindungi warga negara dari keresahan yang diakibatkan oleh oknum pinjaman online.

Lebih lanjut, ALCO sebutan lain dari Alfin ini meminta OJK untuk membuka ke publik aplikasi pinjol mana saja yang terdaftar dan boleh beroperasi di Indonesia. Agar masyarakat mengetahui mana yang abal-abal dan yang resmi.

Hal ini penting dilakukan. Karena pengakuan dari banyak warga Banten, ditawari pinjaman online. Setelah mengisi data tiba-tiba pinjaman tidak disetujui. Padahal tawarannya akan cair.

“Kita khawatir ini permainan busuk melalui aplikasi pinjol yang sesungguhnya hanya bertujuan mengambil data. Setelah itu digunakan untuk meneror agar transfer uang. Padahal sesungguhnya tidak memiliki hutang,” ucapnya.

Sementara itu, Vinus mencoba bertanya kepada beberapa warga Banten berkaitan dengan maraknya pinjaman online. Rasna salah satunya, warga Balaraja Kabupaten Tangerang.

Dia menceritakan bagaimana istrinya mencoba melakukan pinjaman oline. Setelah mengisi data, mulai KTP, nomor rekening, dan kontak darurat, tiba-tiba pengajuannya tidak cair.

Tidak selang lama, lanjut Rasna, beberapa nomor telepon masuk. Menawarkan pinjaman serupa dan terkadang melakukan penagihan dengan nada ancaman. Padahal istrinya tidak memiki hutang.

“Apa maksudnya aplikasi pinjol menawarkan pinjaman berkali-kali. Kalau akhirnya tidak disetujui. Sementara data yang sudah diupload kerap dijadikan bahan untuk menakut-nakuti,” sambungnya.

Pria yang memiliki satu anak ini berharap ada tindakan dari pihak berwenang. Pinjaman berbasis aplikasi sudah tidak sehat. Harus ada regulasi lebih jelas, terutama pelindungan terhadap masyarakat. | We

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart