spot_img
spot_img

Buku dan Tetirah; Sepenggal Potret Penulis Produktif Eko Supriatno

Foto: Eko Supriatno.

ADA satu dasar argumentasi mengapa kita selalu menyambut baik lahirnya sebuah buku. Sebuah buku adalah sebuah tetirah.

Sebuah fase yang menandai dan merekam sepenggal perjalanan anak manusia. Disitulah potret perjalanan akan digambarkan melalui perspektif dan sudut pandang yang disajikan.

Sebuah buku adalah sebuah gagasan, dan peran gagasan akan mewarnai kemajuan sebuah bangsa.

Buku-buku karya Eko Supriatno mengambil beragam perspektif dan sudut pandang perjalanan mobilitas vertical kemanusiaan yang melintasi zaman. Tentu di dalamnya memuat banyak hal tema dan sudut pandang yang dipotret. Misalnya tentang: Dari Banten, melihat Indonesia, Fir’aun Zaman Now, Gus Muhaimin Gasspolll (Penggerak Kaum Sarungan Menuju Istana), Islam Simpul Cinta Bagi Semesta, Inklusivisme Mathla’ul Anwar, Sekolah Kandang Kambing, Nalar Kewarganegaraan, Kampung Hijau, Menulis Merdeka, UNMA Menatap Perubahan, Membumikan Kampus Hijau, dan Membangun Kebebasan untuk Maju.

Baca Juga

Buku-buku Eko Supriatno, sesungguhnya merupakan kumpulan tulisan diberbagai media massa.

Ada kelebihan dan kelemahan model buku-buku semacam ini. Plus minus tentu ada layaknya sebuah gagasan. Kelebihannya, pembaca agak disodorkan beragam tema sehingga agak banyak ide dan wacana yang disajikan.

Pembaca dapat membaca satu tema dalam satu sruputan kopi. Banyak gagasan yang bisa membuka banyak perspektif dan cakrawala meski tidak mendalam. Dengan itu pula sidang pembaca mampu terbuka cara pandangnya dalam melihat persoalan-persoalan yang ada di dalamnya.

Kekurangannya, seperti disebut di depan, tema-tema yang beragam seperti ini sudah barang tentu punya konsekuensi terkait kedalaman kajian. Gagasan yang diusung mungkin tidak terlalu dalam. Tetapi itu mampu ditutupi dengan keragaman tema yang dalam banyak mungkin pembacan tidak membutuhkan kedaalam sebuah tema tertentu.

Sekali lagi, kita patut mengapresiasi dan menyambut baik terbitnya buku-buku Eko Supriatno yang di dalamnya cukup menggambarkan bagaimana kiprah dan perjalanan kemanusiaan di tengah berbagai tantangan. Perekaman gagasan dalam sebuah buku menjadi penting karena dengan itulah generasi berikutnya bisa banyak belajar pengalaman untuk kemudia mengambil ibrah.

Ada semangat dan konsistensi Eko Supriatno dalam merawat dunia literasi dan juga menjaga budaya akademisnya.

Langkah yang patut diteladani oleh kita semua. Pasalnya tidak banyak orang yang punya komitmen dan konsisten menulis tanpa henti.

Buku-buku ini adalah bukti dan legacy Eko Supriatno untuk keabadiannya.

Eko Supriatno adalah seorang penulis yang telah mengukir reputasi sebagai penulis yang produktif dan berpengaruh.

Ia lahir pada tanggal 04 November di Subang, Jawa Barat. Sejak kecil, Eko sudah menunjukkan minat yang besar dalam membaca dan menulis. Minat tersebut kemudian berkembang menjadi passion yang memandunya dalam mengeksplorasi dunia literatur.

Eko dikenal  sebagai  akademisi  yang  memiliki  integritas, kepedulian  tinggi,  dan  kritis  terhadap  kebijakan  pemerintah,  khususnya pemerintah daerah Provinsi Banten.

Pendidikan menjadi salah satu landasan penting dalam perjalanan Eko sebagai seorang penulis. Pendidikan dasar dan menengahnya ia jalani di Subang. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya.

Selain pendidikan formal, Eko juga mendapatkan pengalaman berharga di lingkungan pesantren. Ia pernah nyantri (menjalani masa pengajian di pesantren) beberapa tahun di Ponpes Sabilul Huda Subang. Pengalaman di pesantren ini turut membentuk pemahaman dan kecintaannya terhadap Islam, yang kemudian tercermin dalam karya-karya tulisnya.

Selain  mengajar  dan  membimbing  mahasiswa,  Eko  Supriatno  dikenal pula  sebagai  senior  dari  para  aktivis  dan  kelompok-kelompok  kritis  di Provinsi Banten.

Selain  sebagai  pengajar,  Eko  Supriatno  juga  menekuni  dunia konsultansi  di  bidang  politik,  kebijakan  publik,  dan  public  relations. Salah satu yang terbaru adalah riset tentang metadata dan penyusunan daftar data prioritas kabupaten Pandeglang (2023).

Sebagai seorang penulis yang produktif, Eko telah menulis lebih dari 20 judul buku.

Buku Terbaru Eko Supriano

Dalam upaya terus menginspirasi dan memberikan karya-karya yang bermanfaat, Eko Supriarno terus melanjutkan perjalanan kreatifnya. Ia saat ini sedang mempersiapkan peluncuran buku-buku terbarunya, diantaranya:

  1. Dari Banten, melihat Indonesia
  2. Fir’aun Zaman Now
  3. Gus Ami Gasspolll
  4. Islam Simpul Cinta Bagi Semesta
  5. Inklusivisme Mathla’ul Anwar
  6. Sekolah Kandang Kambing
  7. Nalar Kewarganegaraan
  8. Kampung Hijau
  9. Menulis Merdeka
  10. Kampus Menatap Perubahan
  11. Membumikan Kampus Hijau
  12. Membangun Kebebasan untuk Maju.

Dengan karya-karya yang ditulisnya, Eko Supriatno telah memberikan kontribusi yang berarti dalam memperkaya dunia literatur.

Buku-bukunya mencerminkan dedikasi dan kontribusi Eko Supriatno dalam melestarikan dan menyebarkan pengetahuan. Karya-karyanya telah menginspirasi banyak orang untuk memahami dan menghargai literasi yang tak ternilai.

Selain  berkutat di dunia  akademisi dan literasi, ia  juga  pandai berkesenian, berpuisi, ber-seni kriya dan melukis. Karena kecintaannya pada senilukis,  ia  sampai-sampai  disela-sela  kesibukannya  terkadang  ia  masih menyempatkan  untuk  menyalurkan  bakat  lukisnya,  yaitu  dengan  membuat karya  lukis  sampai  sekarang. Pameran Seni Rupa Komunitas Bunga Rumput di Bale Budaya Pandeglang 10 – 25 November 2023 bersama 25 Perupa, salahsatunya Maestro Gebar Sasmita. Karyanya Eko Supriatno yang dipamerkan: Perang Israel – Palestina (2023),  King Maker (2023), Tiga Penari  Sufi (2023)  dan  Beban Petani (2023).

Sekali lagi, buku-buku karya Eko Supriatno berawal dari serpihan opini pendek yang sebelumnya ditayangkan di media massa secara rutin. Memuat berbagai topik, isu krusial dan penjelasannya dibangun benang merah satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan pemikiran.

Apa yang tersaji dalam buku-buku Eko Supriantno adalah percikan gagasan dan refleksi pribadinya, tujuannya adalah untuk membagi pengalaman dan menawarkan konsepsi untuk sebuah perubahan.

Ia menyampaikan terimakasih banyak kepada jajaran penerbit karena sudah membantunya dalam menerbitkan buku-bukunya ini.

Rencananya, buku-buku Eko Supriatno akan dicetak sebanyak 10 ribu eksemplar dan setelah dua minggu dari Launching, buku itu dapat diperoleh di Toko Buku Modern seluruh Banten dan bisa belanja melalui Tokopedia, Shopee, dll.

“Haturnuhun pisan (terimakasih banyak) pihak penerbit. Semoga ini bermanfaat bagi semuanya,” pungkasnya. (*)

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart