
KOTA TANGERANG | Nasib malang menimpa eks mesin gol Persikota, Sirvi Arvani. Bukannya mendapat penghargaan, ia justru harus menanggung derita setelah cedera parah kala membela tim melawan Nusantara FC, 11 Februari 2025 lalu.
Lutut Sirvi divonis harus dioperasi berdasarkan hasil MRI. Meski biaya operasi dan terapi ditanggung BPJS, kebutuhan transportasi dari Serang ke Bintaro dan beban lain tetap jadi persoalan yang menghimpitnya.
Bukannya hadir memberi solusi, manajemen Persikota malah memutus kontraknya secara sepihak setelah tim turun kasta ke Liga 3. Lebih dari enam bulan Sirvi menunggu kepastian, namun suara pemain seakan dibungkam oleh klub yang dulu ia bela habis-habisan.
Baca Juga
- Kopri PMII Kota Tangerang Soroti Tunjangan dari Sisi Gender dan Sosial
- Pengamat Tata Kota: Drainase Amburadul Sebabkan Banjir di Tangerang Raya
“Operasi dan terapi ditanggung BPJS, tapi biaya transportasi dari Serang ke Bintaro plus kebutuhan lain jadi beban tersendiri,” ungkap Sirvi, dengan nada kecewa.
Pahitnya lagi, setelah kontrak diputus, tak ada sepeserpun kompensasi yang diberikan. Padahal secara aturan, pemain yang cedera saat masih terikat kontrak berhak mendapat hak finansial sampai masa kontrak selesai. Tapi Persikota memilih diam seakan lupa dengan jasa pemainnya sendiri.
Kekecewaan Sirvi pun pecah di kolom komentar Instagram Persikota usai uji coba melawan Persikotas Tasikmalaya, pada Jumat, (12/9).
“Klub dzalim kepada pemain ini Persikota 1994,” tulisnya.
Tak berhenti di situ, Sirvi juga menyinggung persoalan lain.

“Banyak banget masalahnya, mulai dari DP pemain pun belum. Semoga sadar manajemen,” tambahnya.
Komentar itu sontak disambut warganet. Akun @zak\_akbar bahkan mempertegas.
“Kalau DP pemain kami masih diam, tapi kalau ini pemain udah sakit demi tim, tolong manajemen sedikit peduli.” tegasnya.
Dukungan pun terus mengalir. Tagar #KamiBersamaSirvi ramai digaungkan netizen, menuntut manajemen klub membuka mata dan mengingatkan kewajibannya.
Sebab, bukan hanya soal moralitas, kontrak dan undang-undang pun jelas mengikat: klub wajib membayar gaji pemain sesuai kesepakatan hingga kontrak berakhir.
Persikota boleh saja terjerembab ke Liga 3. Tapi ketika manajemen menutup mata atas penderitaan pemainnya sendiri, itulah titik jatuh sejati: kebangkrutan moral. Klub yang menelantarkan pejuangnya hanyalah klub dzalim berkedok sejarah. | Fjr
![]()









