
Pengetahuan masyarakat kita terhadap negara-negara di benua Afrika, belum terlalu mendalam. Misalnya, di Piala Dunia 2026 ini, kita lebih familiar dengan negara Afrika seperti Maroko, Mesir, Ghana, Pantai Gading, dan Afrika Selatan. Padahal, benua Afrika terdiri dari banyak negara.
Memori kolektif orang Indonesia terhadap orang Afrika, juga masih seputar dunia sepak bola. Sejak puluhan tahun lalu, ribuan pemain asing asal benua Afrika memang silih-berganti menjadi pemain di berbagai klub Liga Indonesia.
Selain itu, stigma negatif juga tak ayal masih banyak terjadi di sebagian masyarakat. Dunia digital seperti saat ini; masifnya media sosial, banyak konten berupa meme yang bernuansa dark jokes dan rasis terhadap orang ‘kulit hitam’.
Baca Juga
- Sigmund Freud : Pandangan Psikoanalisis terhadap Agama
- Rupiah Rp17.300: Saatnya Kembali ke Jalan Berdikari Bung Karno
Pandangan seragam bahwa Afrika sama dengan hitam, dan orang hitam adalah orang Afrika, juga masih menjadi pandangan mayoritas kita. Padahal, masyarakat benua Afrika juga terdiri dari etnis Arab dan Berber, seperti di Afrika Utara (Maroko, Mesir, Tunisia, Libya, Aljazair, Sudan). Serta warga kulit putih keturunan Eropa seperti di (sebagian) Afrika Selatan.
Pada kenyataannya, kita masih cukup ‘buta’ melihat Afrika sepenuhnya.
Hal itu pun terjadi dalam pemahaman sejarah kita terhadap benua dan orang Afrika. Sebagai sejarawan, kajian dan karya sejarah para akademisi sejarah Indonesia, masih banyak yang belum membahas Afrika.
Termasuk, dalam penulisan sejarah hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika. Kita pernah mengalami fase mesra dengan Afrika melalui KAA (Konferensi Asia Afrika).
Penulisan sejarah KAA, dan perjuangan bangsa-bangsa Afrika itu sendiri, seringkali yang dibahas adalah tokoh-tokoh besar dan populer seperti Kwame Nkrumah dari Ghana, Gamal Nasser dari Mesir, atau perjuangan kemerdekaan negara Afrika Utara, serta politik anti-Apharteid Afrika Selatan. Namun, jarang membahas negara di Afrika Timur yang tidak begitu familiar dengan Indonesia, seperti Etiopia.
Beberapa bulan lalu, penulis berkesempatan mengikuti dan melakukan presentasi seminar internasional “the International Conference on The Spirit of Bandung at 71: African Liberation and Anti-Colonial Solidarities”, 21 April 2026 di University of Venda, Afrika Selatan, secara daring (hybrid).
Paper yang dipresentasikan berjudul “Ethiopian delegation in the Bandung Conference 1955: Thoughts and early diplomatic relations with Indonesia”, membedah mengenai pemikiran dan kontribusi para delegasi Etiopia (salah satu negara peserta KAA), dan sejarah awal hubungan diplomatik Etiopia-Indonesia.
Para delegasi Etiopia mewakili Kaisar Haile Selassie I, menjadi contoh prinsip persatuan antarbangsa tanpa memandang bentuk negara dan sistem pemerintahannya. Kaisar Etiopia itu juga, yang kemudian menjadi sahabat karib Presiden Sukarno.
Etiopia, di masa kepimimpinannya, mendukung penuh perjuangan Indonesia tidak hanya di KAA, melainkan juga di GNB (Gerakan Non Blok). Etiopia, pernah sangat setia bersama Indonesia hingga mendukung Indonesia keluar dari PBB dan Perang Konfrontasi (dengan) Malaysia.
Pada intinya, walau Etiopia pernah menjadi negara monarki (kini sudah Republik), tidak menghalangi semangat Pan-Afrika melawan kolonialisme dan imperialisme Barat. Menjadi pengingat juga di tengah geopolitik yang kini semakin memanas, agar para pemimpin dunia sejatinya kembali pada prinsip Dasasila Bandung 1955.
Serta, menjadi pemantik bagi kita untuk mengenal benua Afrika lebih dalam dan banyak negara. Menegaskan bahwa Indonesia pernah sangat dihormati di kancah politik internasional.
Kini, di tangan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Luar Negeri Sugiono, diplomasi Indonesia dengan negara-negara Afrika sejatinya harus diperjelas dan diperbanyak lagi.
Walau beberapa waktu lalu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, mengunjungi Afrika Selatan. Namun rasanya, masih kurang. Hasil pertemuan juga dirasa kurang jelas.
Sementara, Presiden dan Menlu (serta Menhan dan/atau delegasi lainnya), lebih banyak atau sering ke Eropa, Tiongkok dan Amerika Serikat. Seolah melupakan Afrika.
Begitu juga, media sosial dan media massa kita, sudah selayaknya lebih bisa membahas tentang Afrika & Indonesia secara lebih humanis dan bebas rasis.
Dari Etiopia, kita belajar untuk kembali melihat Afrika: benua terluas kedua di dunia.
*Ditulis oleh: Dosen Departemen Sejarah, Universitas Diponegoro, Semarang.
![]()









