
SERANG | Kongres Rakyat Banten V menyoroti kesenjangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan, pengangguran, serta optimalisasi potensi sejarah dan kemaritiman. Sejumlah persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam seminar publik bertajuk “Dari Banten Lama ke Banten Masa Depan: Menemukan Kembali Identitas dan Arah Perjalanan Banten” di Gedung Rektorat Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Kampus Sindangsari, Sabtu (24/10).
Seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian Kongres Rakyat Banten V yang meliputi aksi peduli lingkungan, bakti sosial kesehatan, seminar publik, dan kongres. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan Provinsi Banten dan menghimpun masukan bagi pembangunan daerah.
Ketua Panitia Kongres Rakyat Banten V, Makmun Muzzaki, mengatakan kongres tidak hanya menjadi ajang mengenang perjuangan pembentukan Provinsi Banten, tetapi juga wadah untuk menyampaikan aspirasi dan merumuskan rekomendasi pembangunan.
“Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga cita-cita para pendiri Banten agar kemajuan yang dicapai benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujar Makmun.
Ia menjelaskan, kepedulian terhadap Banten juga diwujudkan melalui kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan, termasuk penanaman mangrove di kawasan pesisir. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjaga ekosistem pantai sekaligus membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurut Makmun, upaya pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Sejarah Banten Jadi Pijakan Pembangunan
Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum UNTIRTA, Asep Ridwan, menekankan pentingnya menjadikan sejarah dan kearifan lokal sebagai pijakan dalam menentukan arah pembangunan Banten.
Menurutnya, warisan sejarah bukan hanya membentuk identitas daerah, tetapi juga menyimpan potensi yang dapat dikembangkan untuk menjawab tantangan pembangunan saat ini.
Asep turut menjelaskan nilai JAWARA yang menjadi landasan karakter UNTIRTA, yakni jujur, adil, wibawa, amanah, religius, dan akuntabel. Nilai tersebut menjadi pedoman dalam membangun karakter, menjaga integritas, serta menjalankan tata kelola yang bertanggung jawab.
Ia juga menyoroti kejayaan Kesultanan Banten sebagai pusat perdagangan dan kekuatan maritim pada masa lalu. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan melalui revitalisasi kawasan bersejarah dan penguatan sektor kemaritiman.
“Banten memiliki warisan sejarah, potensi kemaritiman, dan kekuatan industri yang besar. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dapat dikelola secara optimal dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” ungkap Asep.
Di sisi lain, Banten masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pengangguran, kesenjangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan, hingga ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri.
Karena itu, Asep mendorong pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sinergi tersebut diperlukan agar lulusan pendidikan memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja.
“Diperlukan sinergi antara pemerintah, dunia industri, dan lembaga pendidikan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pembangunan juga harus memperhatikan pemerataan agar masyarakat di wilayah utara maupun selatan Banten memperoleh kesempatan yang setara,” katanya.
Kongres Diharapkan Salurkan Aspirasi Masyarakat
Presidium Kongres Rakyat Banten, Embay Mulya Syarief, mengajak masyarakat kembali memahami sejarah perjuangan pembentukan Provinsi Banten dan peran para tokoh yang memperjuangkannya.
Menurut Embay, sejarah harus menjadi bahan pembelajaran untuk menentukan arah pembangunan, bukan sekadar dikenang sebagai bagian dari masa lalu. Kejayaan Kesultanan Banten sebagai kekuatan maritim dan pusat perdagangan juga dinilai dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan potensi ekonomi daerah.
Ia menegaskan, Kongres Rakyat Banten memiliki peran penting dalam menampung aspirasi masyarakat, menyampaikan masukan, serta mengingatkan pemerintah terhadap persoalan yang membutuhkan penyelesaian.
“Sejarah perjuangan pembentukan Provinsi Banten harus menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah perlu terus dikawal. Kongres ini menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi dan rekomendasi kepada pemerintah agar cita-cita meningkatkan kesejahteraan masyarakat tetap menjadi prioritas,” tutur Embay.
Ia berharap hasil diskusi dan seminar dapat disampaikan kepada DPRD dan Pemerintah Provinsi Banten sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pembangunan.
Embay juga menyoroti kesenjangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan Banten. Ia mendorong pemerintah mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah selatan agar masyarakat memperoleh akses yang lebih baik terhadap layanan publik, lapangan kerja, dan peluang usaha.
“Pembangunan Banten harus dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk mereka yang berada di wilayah selatan dan masih menghadapi keterbatasan akses serta kesempatan ekonomi. Kita perlu mendorong pemerataan agar tidak ada wilayah yang tertinggal dari kemajuan daerah,” tambahnya.
Selain pemerataan pembangunan, Embay mengingatkan pentingnya integritas dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ia mengajak para pemangku kepentingan mengutamakan pelayanan publik, menjalankan amanah dengan baik, dan menjauhi perilaku koruptif.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keberagaman sebagai bagian dari identitas Banten. Perbedaan latar belakang, budaya, dan komunitas, menurutnya, harus dirawat sebagai kekuatan untuk membangun daerah yang harmonis dan inklusif.
Hadirkan Akademisi dan Pemangku Kepentingan
Seminar publik Kongres Rakyat Banten V menghadirkan tiga narasumber, yakni Mufti Ali, Guru Besar UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten; Wawan Wahyudin, Ketua BAZNAS Provinsi Banten; serta Septo Kalnadi, Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten.
Ketiganya membahas identitas sejarah, kondisi sosial masyarakat, dan tantangan pembangunan Banten dari berbagai perspektif. Diskusi tersebut diharapkan memperkaya pemahaman mengenai potensi daerah sekaligus menghasilkan masukan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui seminar tersebut, sejarah Banten menjadi pijakan untuk memahami identitas dan potensi daerah. Sementara itu, persoalan pengangguran, kesenjangan wilayah, dan pemerataan kesejahteraan menjadi bahan evaluasi dalam menentukan prioritas pembangunan.
Penyelenggaraan Kongres Rakyat Banten V di lingkungan UNTIRTA juga menegaskan peran perguruan tinggi sebagai ruang dialog publik dan pengembangan pemikiran. Forum tersebut diharapkan memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan untuk mendorong kemajuan Banten. | Fjr
![]()









