
NAMA Yuval Noah Harari selama ini menempati posisi penting dalam lanskap intelektual global. Melalui karya-karyanya, terutama dalam Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, ia tidak hanya membahas sejarah dan masa depan umat manusia, tetapi juga mengajak para pembaca untuk mempertanyakan fondasi berpikir yang selama ini dianggap mapan. Salah satu tesis penting Harari adalah manusia hidup dalam jejaring narasi mengenai cerita kolektif yang diciptakan, dipercaya, dan kemudian dijadikan dasar untuk mengambil keputusan (Harari, 2016).
Gagasan ini, bagi saya, bukan sekadar refleksi filosofis. Ia memiliki relevansi praktis, terutama dalam konteks kerja-kerja pengawasan demokrasi yang saya jalani. Dalam praktiknya, saya sering menemukan bagaimana narasi dibangun untuk membenarkan tindakan-tindakan tertentu, mulai dari yang bersifat administratif hingga yang berdampak langsung pada keadilan publik. Dalam konteks ini, pemikiran Harari memberikan kerangka yang membantu: bahwa tidak semua yang diyakini sebagai kebenaran adalah benar-benar berdiri di atas realitas objektif.
Namun, kekuatan pemikiran tersebut justru diuji ketika berhadapan dengan realitas yang lebih kompleks, yakni konflik bersenjata pada hari ini. Perang Iran VS Israel–AS yang mengemuka sejak 28 Februari 2026 merupakan salah satu contoh paling konkret dari bagaimana keputusan politik dan militer dapat memicu eskalasi yang luas. Serangan yang terjadi pada tanggal tersebut, yang kemudian diikuti oleh respons militer dari pihak Iran menandai babak baru dalam konflik terbuka di kawasan. Dalam kajian konflik, momen semacam ini penting, karena menunjukkan adanya tindakan awal yang dapat ditelusuri secara kronologis sebagai pemicu eskalasi.
Baca Juga
Sebagai seseorang yang terbiasa bekerja dengan logika, kronologi dan pembuktian, saya memandang bahwa memahami konflik tidak cukup hanya dengan melihat pola besar atau narasi yang melatarbelakanginya. Perlu juga ada keberanian untuk mengidentifikasi tindakan konkret, aktor yang terlibat, serta konsekuensi langsung yang ditimbulkannya. Tanpa itu, analisis berisiko akan kehilangan pijakan empirisnya.
Di sinilah saya melihat adanya ketegangan dalam posisi Harari sebagai figur intelektual. Alih-alih menyoroti dimensi konkret tersebut, Harari cenderung tetap berada dalam kerangka analisis makro: konflik sebagai benturan narasi, sebagai produk ketakutan kolektif, atau sebagai manifestasi dari identitas yang saling berhadapan.
Pendekatan ini tentu tidak keliru. Bahkan, ia merupakan kontribusi penting dalam memahami akar konflik jangka panjang. Namun demikian, ketika pendekatan tersebut tidak diimbangi dengan kejelasan dalam membaca fakta konkret, maka ia berpotensi menjadi problematik.
Dalam Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, Harari secara tegas menyatakan bahwa manusia kerap menciptakan narasi untuk membenarkan tindakan mereka, bahkan ketika tindakan tersebut memiliki konsekuensi destruktif (Harari, 2016). Narasi tentang ancaman, keamanan, atau eksistensi sering kali menjadi legitimasi bagi keputusan politik yang pada dasarnya bersifat strategis.
Jika demikian, maka dalam konteks konflik Iran VS Israel–AS, justru penting untuk mengidentifikasi narasi apa yang bekerja di balik tindakan militer tersebut, serta bagaimana narasi itu digunakan untuk melegitimasi kekerasan. Namun yang tampak adalah kecenderungan untuk berhenti pada tahap penjelasan, tanpa melangkah ke tahap evaluasi. Di titik inilah kritik menjadi relevan. Menjelaskan konflik sebagai hasil dari ketakutan kolektif tidak serta-merta membebaskan aktor dari tanggung jawab moral. Sebab pada akhirnya, keputusan untuk melakukan serangan tetap diambil oleh individu atau institusi tertentu dalam struktur kekuasaan. Dengan kata lain, ada perbedaan mendasar antara memahami sebab dan menilai tindakan.
Lebih jauh lagi, dalam 21 Lessons for the 21st Century, Harari menekankan pentingnya kejelasan berpikir di tengah dunia yang dipenuhi oleh disinformasi dan manipulasi (Harari, 2018). Ia mengingatkan bahwa tantangan utama abad ke-21 bukan hanya pada ketersediaan informasi, tetapi pada kemampuan manusia untuk membedakan antara fakta dan fiksi. Namun dalam konteks ini, justru muncul pertanyaan: bagaimana mungkin kejelasan tersebut dapat terwujud jika fakta konkret tidak diartikulasikan secara tegas?
Sebagai praktisi yang terbiasa membedakan antara pelanggaran yang bersifat etik, administratif dan pelanggaran yang berdampak langsung terhadap keadilan (pidana), saya melihat adanya prinsip yang paralel dalam konflik ini. Tidak semua tindakan dapat diposisikan secara setara. Ada tindakan yang secara faktual memiliki dampak lebih besar dalam memicu eskalasi, dan oleh karena itu memerlukan penilaian yang lebih tegas. Netralitas, dalam pengertian tertentu, memang penting untuk menjaga objektivitas. Namun dalam situasi konflik yang melibatkan kekerasan nyata, netralitas yang tidak disertai dengan kejelasan moral dapat berujung pada relativisme di mana semua tindakan dipandang setara, tanpa mempertimbangkan konteks dan konsekuensinya.
Saya menyadari bahwa posisi Harari sebagai warga Israel menempatkannya dalam dilema yang tidak sederhana. Kritik terhadap kebijakan negaranya sendiri, terutama dalam situasi konflik bersenjata, tentu memiliki implikasi sosial dan politik. Namun demikian, justru dalam situasi semacam inilah integritas intelektual diuji. Seorang intelektual tidak hanya diharapkan mampu menjelaskan dunia, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengambil sikap ketika berhadapan dengan realitas yang menuntut kejelasan. Tanpa keberanian tersebut, intelektualitas berisiko tereduksi menjadi sekadar analisis yang steril, tajam secara konseptual, tetapi tumpul secara moral.
Dalam konteks ini, saya melihat adanya jarak antara apa yang selama ini dikemukakan Harari dan sikap yang ia tampilkan dalam merespons konflik yang sedang berlangsung. Jarak ini bukan sekadar persoalan perbedaan perspektif, tetapi menyentuh pada konsistensi antara gagasan dan praktik. Oleh karena itu, kritik ini tidak dimaksudkan untuk menegasikan kontribusi intelektual Harari secara keseluruhan. Sebaliknya, kritik ini justru berangkat dari penghargaan terhadap pemikirannya. Justru karena pemikirannya begitu kuat, maka ekspektasi terhadap konsistensi moralnya menjadi lebih tinggi.
Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar tentang posisi Harari dalam konflik ini, melainkan tentang makna keberanian intelektual itu sendiri. Apakah keberanian tersebut hanya berlaku ketika membongkar narasi masa lalu, atau juga ketika harus menghadapi realitas masa kini yang lebih kompleks dan penuh risiko?
Jika seorang intelektual tidak mampu menjembatani antara gagasan dan sikap, maka yang dipertaruhkan bukan hanya relevansi pemikirannya, tetapi juga integritasnya sebagai penafsir zaman.
*Ditulis oleh: M.K. Ulumudin, M.Si. Anggota Bawaslu Kabupaten Tangerang. Koordinator Sentra Gakkumdu Kabupaten Tangerang
![]()









