Oleh: Endi Biaro
Pepatah Afrika, dawuh: “Jika seorang Raja lewat, membungkuklah dalam-dalam. Lalu, kentut!”
Sindiran itu, kurang lebih berarti: Seorang hamba sahaya paling papa sekalipun, masih memiliki mekanisme perlawanan, dengan cara tersendiri, menghina diam-diam. Buang angin diam-diam saat penguasa lewat di depan mata.
Dan ini berlaku di mana-mana. Studi mendalam dari James Scott, yang dibukukan dengan judul Small is Beautifull, membuktikan bahwa senjata orang-orang tak berdaya, adalah melawan diam-diam.
Zaman kompeni dulu, pemetik teh sengaja mematahkan pucuk teh terbaik, agar layu, dan pemilik kebun (si Belanda) rugi. Buruh kereta api, melempar linggis ke rel, agar lokomotif tua tergelincir. Apa saja, pokoknya harus melawan penindas.
Hanya saja, perlawanan itu tak cocok dengan teori revolusi. Lantaran tak pakai organisasi, nihil strategi, non ideologi. Asal-asalan.
Kultur perlawanan kaum tak berdaya ini yang marak terjadi belakangan. Orang bosan dengan kebohongan penguasa. Rakyat cuek dengan aneka sosialisasi pemerintah. Bahkan ancaman membahayakan sekelas corona pun direspon ala dagelan.
Problemnya, ya itu, apatisme publik. Paralel dengan itu, terjadi pula asimetri informasi, ketakadilan informasi. Rakyat butuh fakta, yang dihadirkan malah propaganda.
Walhasil, sikap civil disobedience (pembangkangan sipil) meruyak. Dengan pola berisiko.
Musababnya kini mestinya terjadi solidaritas massal. Tapi publik main-main. Dan pemerintah malah main ancam.
Idealnya. Pemerintah serius, rakyat juga sama.
Jangan sampai kita tertawa di tengah duka, lalu sama-sama celaka.
*Penulis adalah pembelajar kitab kuning