
BANTEN | Pengurus Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) Jakarta Raya menggelar Konsolidasi dan Dialog Pergerakan bertema “Refleksi Pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto: Menakar Relevansi Konsep Islam, Sosialisme, dan Sosial Demokrasi bagi Gerakan Mahasiswa Hari Ini” di Warkop ABAS, Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (16/07).
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan pengurus SEMMI cabang se-Jakarta Raya sebagai bagian dari upaya memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus memperdalam kapasitas intelektual kader dalam menghadapi dinamika gerakan mahasiswa.
Ketua Pelaksana, Daud Souwakil mengatakan, forum tersebut sengaja dirancang sebagai ruang refleksi ideologis, bukan sekadar agenda seremonial. Menurutnya, gerakan mahasiswa membutuhkan fondasi pemikiran yang kuat agar mampu menjawab tantangan zaman.
Baca Juga
- Ziarah Tokoh Bangsa Warnai Milad Tujuh Dekade SEMMI Jakarta Raya
- PW SEMMI Jakarta Raya Soroti Pengorbanan Prajurit TNI di UNIFIL Lebanon
“Konsep Islam, Sosialisme, dan Sosial Demokrasi yang diwariskan H.O.S. Tjokroaminoto merupakan kompas pergerakan. Di tengah arus modernisasi dan pragmatisme, kader SEMMI harus memiliki dasar berpikir yang kokoh sehingga tidak hanya aktif dalam aksi, tetapi juga matang secara intelektual,” ujar Daud.
Dialog menghadirkan dua narasumber, yakni perwakilan Laznah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI), Aulia Tahkim Tjokroaminoto, dan Kepala Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan PB SEMMI, Muhammad Senanatha.
Dalam pemaparannya, Aulia Tahkim Tjokroaminoto menjelaskan bahwa gagasan H.O.S. Tjokroaminoto mengenai Islam, sosialisme, dan keadilan sosial tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi tetap relevan sebagai pijakan dalam merespons berbagai persoalan kebangsaan.

Sementara itu, Muhammad Senanatha menekankan pentingnya kontekstualisasi pemikiran tersebut dalam gerakan mahasiswa masa kini. Ia menilai organisasi kemahasiswaan perlu menjaga orientasi perjuangan agar tidak terjebak pada pragmatisme politik.
“Gerakan mahasiswa harus memiliki landasan ideologis yang kuat sehingga mampu merespons persoalan sosial, ekonomi, dan kebangsaan secara kritis serta tetap berpihak pada kepentingan masyarakat,” katanya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pandangan dari peserta mengenai tantangan organisasi mahasiswa di tengah perubahan sosial dan politik. Forum juga menjadi ruang bertukar gagasan untuk memperkuat tradisi literasi, diskusi, dan dialektika pemikiran di lingkungan SEMMI.
PW SEMMI Jakarta Raya berharap konsolidasi tersebut dapat memperkuat kapasitas kader, baik dalam mengawal kebijakan publik maupun membangun tradisi intelektual yang berlandaskan nilai-nilai perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto. Menurut penyelenggara, penguatan ideologi dan kualitas kader menjadi modal penting dalam menjaga peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. | Fjr
![]()









