spot_img
spot_img

Pemilu dan Kuasa Media Anak Muda

Penulis: Endi Biaro.

SATU dekade akhir, jari jemari tangan menjadi sangat berkuasa. Dalam teori komunikasi, kita memasuki era dexterity (kelincahan memainkan jemari tangan).

Jutaan netizen yang memainkan menu LCS (like, comment, and share), seraya merespons isu tertentu, membuat viral suatu konten, dan menggunjang jagat Medsos, memiliki kekuatan adidaya nan perkasa.

Pun di lingkungan politik.

Riuh rendah kemarahan, kritik, penumpahan aspirasi, yang menyoroti kebijakan publik, kerap membuat penguasa limbung. Lalu mengubah arah.

Inilah yang disebut the power of netizen. Di platform Twitter ada jargon: Twitter, do your magic!

Baca Juga

Masih segar dalam memori, peristiwa jalan rusak di Lampung. Hanya karena konten seorang kreator, Pemda Lampung dipermalukan. Lantas mereka turun tangan melakukan perbaikan.

Atau bagaimana kuatnya pressure aktivis Medsos menggoreng kasus pembunuhan Bharada E, yang berujung vonis mati Sambo.

Hanya saja, betapa pun hebat daya tekan Medsos, yang mayoritas dimainkan kaum muda, tetap bersifat fluktuatif, kondisional, sporadis, dan gampang dianulir.

Pertama, alur aspirasi di dunia maya bersifat serentak, tanpa arahan terukur, seraya emosional belaka. Hanya isu yang dramatik, heboh, dan menyentuh naluri kemanusiaan paling dasar saja yang bisa mengundang atau mengikat kebersamaan. Komunitas maya akan ramai-ramai meneriakan tuntutan, untuk hyper-tragedi.

Di titik ini, level edukasi, pencerdasan, rasionalitas, menjadi minus. Kericuhan malah berujung menggerus pikiran sehat.

Dalam lanskap politik, pola seperti ini menjadi mainan para raja propaganda.

Kedua, karena timeline terbatas, yang viral hanya di waktu tertentu, begitu mudah berganti dengan kehebohan lain, maka tekanan netizen begitu mudah diatasi penguasa dengan cara pura-pura.

Para politisi cuma perlu seolah peduli. Ulur waktu. Lalu mengabaikan.

Perubahan mendasar yang berbasis pada perbaikan kebijakan publik, tak benar-benar terjadi.

Ketiga, beda dengan tekanan publik yang dimainkan aktivis dunia nyata, di dunia maya, juru bicara atau influencer yang berkoar kerap tak memiliki syarat adu argumen, semata adalah dia yang berpengikut banyak.

Setali tiga uang dengan basis pendukung, yang sekedar beringas berkomentar, tetap gagal tak terkelola sebagai organ penekan. Ringkas kalimat, penekan di dunia maya main sendiri-sendiri.

Keempat, ritme kehebohan di dunia maya mirip dengan dunia hiburan. Luar biasa menarik, lalu secepat kilat surut. Selesai. Ingat misalnya tragedi Kanjuruhan, yang sama sekali tak ada advokasi lanjutan. Hanya geger sekelebatan. Padalah peristiwa berdarah ini luar biasa keji.

Maka terlihat benderang, bahwa kuasa media di tangan anak muda nyaris menjadi ghosting, fear mongering, atau melulu shock therapy. Menakutkan di titik awal, lalu sepi.

Artinya, secara keseluruhan, ekspresi politik kaum muda yang tampil di Medsos, hanya bertaraf karitatif, polesan kosmetik. Sesaat. Sesungguhnya rapuh.

Meski begitu, peluang mengawinkan kuasa media anak muda di bidang politik, dengan gerakan terorganisir, masih tersedia.

Fenomena gerakan mahasiswa, aksi jalanan yang atraktif, dan gedoran tuntutan yang keras, makin bergaung manakala didukung kekuatan netizen.

Di Indonesia, hal ini kerap terjadi. Semisal dalam isu kenaikan harga BBM.

Kolaborasi lain, yang memadukan gerakan mahasiswa dengan gerakan netizen, adalah isu moral, koreksi kekuasaan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Semua tema ini, berkaitan dengan dua kutub selera. Sesuai dengan minat gerakan mahasiswa. Sekaligus sepadan dengan hobi netizen.

Di Pemilu, peluang kolaborasi netizen muda dan gerakan mahasiswa persis di jantung isu moral (misal anti kecurangan), koreksi terhadap pelaksanaan Pemilu, dan anti politik uang serta korupsi Pemilu.

Saluran ekspresi politik anak muda dalam Pemilu, akan jelas produktif dan berfaedah, andai bermain di wilayah ini.

Jadi tak semata meminta anak anak muda ikut mencoblos. Melainkan ikut mengawal Pemilu bersih berkualitas.

Ditulis oleh: Endi Biaro. Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tangerang. 

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart