spot_img
spot_img

Korupsi Pengadaan Lahan, Polda Banten Tetapkan 4 Orang Tersangka

Foto: Konferensi Pers Polda Banten terkain dugaan korupsi pengadaan lahan SPA sampah (Istimewa).

SERANG | Empat orang pejabat publik ditetapkan tersangka dugaan korupsi pengadaan lahan untuk Stasiun Peralihan Akhir (SPA) sampah di Kabupaten Serang oleh Subdit Tipikor Ditreskrimsus Polda Banten.

Keempat tersangka tersebut yakni SP alias Budi (61) selaku mantan Kadis Lingkungan Hidup (LH) Pemkab Serang, TM alias Toto (47) selaku Kabid Sampah dan Taman Dinas LH sebagai PPK, AH alias Asep (57) selaku Camat Petir, dan TE alias Toton (48) Kepala Desa Negara Padang.

Kepada awak media, Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Shinto Silitonga menyampaikan, penyidikan kasus tersebut telah dilakukan sejak Oktober 2021 berdasarkan Laporan Polisi No. 388 tanggal 12 Oktober 2021.

Baca Juga

Masih kata Shinto, Penyidik telah memeriksa 32 saksi yang terdiri atas 25 orang dari Dinas LH, pihak desa, dan kecamatan, serta 7 orang saksi dari pemilik lahan.

Selain itu, penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap empat ahli yaitu ahli perbendaharaan negara, auditor, ahli hukum pidana, dan ahli hukum tata negara.

Mark up pengadaan lahan lebih dari 300 persen dari harga yang dibayarkan ke pemilik lahan hanya senilai Rp 330 juta. Sedangkan Pemkab Serang membayarkan Rp 1,3 miliar,” ungkapnya pada Senin (30/05).

Lebi lanjut, Shinto menjelaskan, Bupati Serang awalnya menunjuk Desa Mekarbaru untuk dijadikan lokasi pembangunan SPA. Namun warga setempat menolak pembangunannya.

Karena ditolak, Kades TE alias Toto mengajukan pemindahan lokasi ke Desa Negara Padang, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten.

Dia pun mendapatkan tanah seluas 2.561 meter persegi dan diajukan harganya Rp menjadi Rp 1,3 miliar, namun harga sebenarnya Rp 330 juta.

Pemkab Serang mentransfer pembayaran ke rekening TE alias Toto selaku Kades Negara Padang, karena dianggap sebagai pemilik lahan yang akan dibangun.

“SK-nya dipalsukan. (Kemudian) mentransfer pembayaran lahan tidak langsung ke pemilik lahan, namun melalui kepala desa,” kata Shinto.

Penyidik juga menyita sejumlah barang bukti dari kasus itu. Di antaranya berupa dokumen-dokumen terkait pengadaan lahan, bukti pengiriman uang, dan juga penyitaan uang hasil kejahatan dari para tersangka senilai Rp 300 juta.

Akibat perbuatannya itu, keempat tersangka terancam 20 tahun penjara. Shinto juga mengatakan pihaknya telah melimpahkan para tersangka dan barang bukti ke JPU di Kejaksaan Tinggi Banten.

“Perkara sudah dinyatakan lengkap (P21) dan siap untuk segera diajukan ke persidangan,” pungkas Shinto. |We

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart