
ADA masa ketika menjadi kader PMII terasa seperti menemukan rumah. Di dalamnya ada ruang untuk belajar, berdiskusi, berdebat, berteman, bahkan bertengkar soal gagasan.
Kampus menjadi tempat bertemu, komisariat menjadi tempat bertumbuh, rayon menjadi tempat mengenal organisasi, dan senior menjadi tempat bertanya. Tidak semuanya ideal, tetapi setidaknya ada ruang yang membuat seorang kader merasa bahwa dirinya sedang dipersiapkan untuk sesuatu.
Waktu berjalan, zaman berubah, dan PMII tentu tidak bisa hidup dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu. Tantangan kader hari ini jauh lebih beragam. Mereka tidak hanya berhadapan dengan persoalan organisasi, tetapi juga tuntutan akademik, pekerjaan, ekonomi, teknologi, media sosial, sampai perubahan cara anak muda melihat sebuah organisasi.
Baca Juga
- Wajah Keji di Balik Seragam Kekuasaan
- PMII Tangerang Desak Audit Pengelolaan Sampah Usai Kebakaran TPA Jatiwaringin
Kader sekarang bisa mendapatkan banyak pengetahuan hanya melalui layar ponsel. Pertanyaannya kemudian sederhana: kalau begitu, apa yang membuat PMII tetap menjadi ruang yang dibutuhkan kader?
Di sinilah persoalannya mulai terasa. Semakin hari, tantangan organisasi justru semakin rumit, sementara ruang untuk mengembangkan kader kadang terasa semakin sempit. Banyak kader masuk PMII dengan harapan menemukan tempat untuk berkembang, tetapi setelah beberapa waktu mereka justru bingung harus tumbuh ke mana. Forum ada, kegiatan ada, rapat ada, tetapi belum tentu semuanya menjawab kebutuhan kader.
Kita sering kali terlalu sibuk menghitung berapa banyak kader yang masuk, berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, atau berapa banyak acara yang berhasil dibuat. Padahal ada pertanyaan yang lebih penting: setelah tiga, lima, atau sepuluh tahun menjadi kader PMII, mereka tumbuh menjadi apa? Apakah mereka menjadi manusia yang lebih kritis, lebih mandiri, lebih terampil, lebih berani mengambil keputusan, atau justru hanya bertambah lama masa organisasinya?
Tantangan PMII dari masa ke masa sebenarnya bukan hanya soal bagaimana mempertahankan jumlah kader. Tantangannya adalah bagaimana membuat kader merasa memiliki masa depan di dalam organisasi. Jangan sampai PMII hanya menjadi tempat seseorang mendapatkan identitas sebagai kader, tetapi tidak memberikan cukup ruang untuk mengembangkan kemampuan dan gagasannya.
Kader yang memiliki kemampuan menulis, misalnya, membutuhkan ruang untuk menulis. Yang tertarik pada politik membutuhkan ruang untuk belajar politik. Yang ingin bergerak di bidang sosial, teknologi, pendidikan, kewirausahaan, maupun kebudayaan juga membutuhkan ruangnya masing-masing.
Masalahnya, terkadang organisasi terlalu cepat meminta kader untuk aktif, tetapi lupa bertanya aktif untuk apa? Kader diminta hadir dalam kegiatan, mengikuti rapat, mengurus acara, membuat laporan, dan menjalankan instruksi. Semua itu penting, tetapi kaderisasi tidak boleh berhenti pada kesibukan. Sebab sibuk berorganisasi belum tentu sama dengan berkembang. Ada kader yang bertahun-tahun aktif, tetapi ketika keluar dari struktur organisasi justru tidak tahu apa yang benar-benar ia bawa dari perjalanan panjang tersebut.
Kita juga perlu jujur bahwa persoalan ini tidak selalu datang dari sistem organisasi. Kadang persoalannya ada pada cara kita sebagai kader dan senior memperlakukan organisasi. Senior terlalu sibuk dengan masa lalunya, sementara kader hidup dengan persoalan zamannya sendiri.
Kita sering mengatakan, “Dulu PMII begini,” seolah pengalaman masa lalu harus menjadi ukuran untuk semua keadaan. Padahal kader hari ini menghadapi dunia yang berbeda. Mereka tidak membutuhkan cerita tentang kejayaan masa lalu saja, tetapi membutuhkan ruang untuk menciptakan kejayaannya sendiri.
Pada titik tertentu, PMII perlu kembali bertanya kepada dirinya sendiri: apakah organisasi ini masih menjadi ruang tumbuh atau hanya menjadi ruang berkumpul? Dua hal itu berbeda.
Ruang berkumpul membuat orang datang dan pergi. Ruang tumbuh membuat orang datang, belajar, berubah, lalu mampu membawa perubahan di tempat lain. Kalau PMII ingin terus relevan, maka kaderisasi harus bergerak dari sekadar menciptakan kader yang aktif menjadi menciptakan kader yang mampu.
Barangkali sudah waktunya kita membicarakan kembali makna “wadah kaderisasi”. Wadah tidak selalu harus berbentuk acara besar, seminar, atau pelatihan formal. Wadah bisa berupa komunitas kecil untuk menulis, laboratorium gagasan, ruang diskusi rutin, pendampingan karier, pengembangan usaha kader, media kader, riset, advokasi, atau ruang kreatif lainnya.
Kader tidak semuanya harus menjadi pengurus. Tidak semua kader harus berada di panggung organisasi. Sebagian mungkin justru akan menemukan dirinya ketika diberi kesempatan bekerja di belakang layar.
PMII juga harus berani menerima kenyataan bahwa kader memiliki jalan hidup yang berbeda. Ada yang akan menjadi akademisi, aktivis, birokrat, pengusaha, guru, jurnalis, politisi, pekerja sosial, seniman, atau memilih jalan yang bahkan tidak pernah kita bayangkan.
Tugas organisasi bukan membuat semua orang berjalan di jalan yang sama, tetapi memberikan bekal agar mereka mampu berjalan dengan nilai yang pernah dipelajarinya. Di situlah kaderisasi menemukan maknanya.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan PMII bukan hanya seberapa ramai sekretariatnya, seberapa banyak kegiatan dalam satu periode, atau seberapa banyak kader yang memakai atribut organisasi.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah keluar dari ruang kaderisasi, seorang kader masih membawa semangat belajar, keberanian berpikir, kepedulian sosial, dan kemampuan untuk memberikan manfaat. Kalau itu hilang, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk membesarkan organisasinya, tetapi lupa membesarkan manusianya.
Tantangan PMII dari masa ke masa memang tidak akan pernah selesai. Setiap generasi akan membawa persoalannya sendiri. Karena itu, PMII tidak harus mencari organisasi yang bebas masalah. Yang perlu dicari adalah cara agar setiap persoalan menjadi alasan untuk memperbaiki kaderisasi.
Sebab kader tidak hanya membutuhkan tempat untuk masuk, mereka membutuhkan alasan untuk bertahan dan ruang untuk berkembang. Dan mungkin, masa depan PMII tidak ditentukan oleh seberapa banyak kader yang berhasil kita kumpulkan hari ini, tetapi oleh seberapa banyak manusia yang benar-benar tumbuh setelah melewati perjalanan panjang bernama PMII.
*Ditulis oleh: Hamzah Sutisna. (Demisioner Wakil Ketua II PC PMII Kabupaten Tangerang).
![]()









