spot_img
spot_img

Seri Pengajian Ramadan: Mewaspadai Riya Terselubung

Penulis: Ahmad Syaikhu

PEMBACA Budiman, yang dirahmati Allah SWT. Pada edisi sebelumnya, telah diuraikan bahwa: Pertama, pertaubatan adalah pintu masuk untuk menjadi hamba Allah seutuhnya. Kedua, setelah dianggap cukup konsisten dalam pertaubatan, lalu berupaya meninggalkan kemubahan sebagai cara untuk meningkatkan maqomat (derajat hamba di sisi Tuhan).

Kedua tahapan tersebut, tentunya tidak akan membuahkan hasil sebelum menelaah, sejauh mana proses kualitas penghambaan diri kita di hadapan Allah. Apabila hal ini kurang teliti maka kebaikan atau amalan yang kita kerjakan selama ini, alih-alih jadi sarana mencapai puncak keridaan Allah, malah sebaliknya, terhinggapi oleh penyakit yang menyebabkan amalan menjadi sia-sia, alias kurang berkualitas.

Premis semacam ini tentu sangat beralasan. Sebab dalam konteks perjalanan tasawuf, hal ini tidak boleh dilewatkan. Jika tidak, akan tertolak.

Baca Juga

Dari itulah, tema kali ini penting sekali untuk diuraikan. Mari kita cermati baik-baik, wasiat dari Syekh Ali al-Matbuli dalam Minahus Saniyah, karya Syaikh Abdul Wahab al-Sya’rani.

Waspadalah Terhadap Riya Terselubung

Apabila hal ini tidak diwaspadai, maka kemungkinan besarnya, adalah ibadah jadi sia-sia, tidak berpahala. Malahan akan menggelapkan hati.

Dengan demikian, supaya riya ini tidak melebar ke mana-mana dan merusak ibadah kita, maka seharusnya kita selidiki dan pelajari dahulu, mana saja perbuatan yang dikategorikan sebagai riya yang samar dan terselubung itu.

Syaikh Abdul Wahab al-Sya’rani membeberkan, bahwa riya terselubung itu, antara lain:

Pertama, keseringan memperindah, mempermanis, dan mendramatisir tampilan ibadah. Sohibul wasiat ini menambahkan, kehalusan riya itu racun mematikan dan akan menghapuskan segala amal kebaikan.

Ahli marifat dalam menyikapi persoalan riya bersepakat, tanda-tanda riya itu biasanya ingin mempermanis ibadah. Apa sebabnya? Karena nafsu itu sesungguhnya tidak pernah rela dan tidak akan merasakan manisnya nikmat ibadah. Kecuali, bila sesuai dengan selera hawa nafsunya. Kalaupun benar ibadah itu dikatakan ikhlas, pastinya hawa-nafsu ini akan merasakan berat untuk melakukannya.

Kedua, di antara tanda-tanda riya terselubung ialah beramal karena Allah. Sambil, di samping itu juga, ada tujuan-tujuan lain, selain kepada Allah.

Oleh karenanya, Abdul Qodir al-Dastuti menasehati, luruskanlah ikhlasmu hanya bertujuan untuk Allah. Jangan sesekali meremehkannya. Dan, jangan pula terpedaya oleh bujukan nafsumu. Jika tidak, engkau akan celaka.

Sebagaimana dalam mengerjakan sesuatu itu ada motivasi. Begitupun dengan ibadah. Menurut al-Dastuti, motivasinya itu ada dua faktor, yakni yang bersifat sementara dan bersifat kekal.

Bagi pemula lagi awam, tentu saja dua faktor ini akan kesulitan membedakannya. Sebab di mana pun dan kapan pun, penyakit riya ini akan terus berusaha masuk di dalamnya. Itulah, untuk menampilkan keikhlasan dalam setiap kebaikan, sebetulnya susah sekali. Berbeda halnya dengan riya yang nyata dan terlihat. Jelas ini dapat mudah dipahami.

Al-Dastuti melanjutkan, jikalau motivasi kekal ini terkalahkan oleh motivasi kesementaraan, maka itulah riya.

Sebagian ulama berpendapat, jika motivasi kekal ini selalu terkalahkan, jelas sekali hukumnya, bagi orang yang lemah tekadnya, dia tidak pantas masuk dalam thariqoh ini. Kecuali bagi orang yang kuat, yang sanggup menjalaninya. Seperti ulama-amilin. Tentu saja, hal itu bukanlah perkara sulit.

Untuk tahu bagaimana membedakan motivasi yang bersifat kekal dan sementara itu misalnya, seperti Anda punya kepentingan kepada pejabat. Sementara itu, pejabat itu lalu salat Jumat di shaf paling depan. Dan saat itu, lalu Anda berusaha salat di sampingnya dengan harapan dapat menarik perhatiannya atau supaya nanti tujuanmu terpenuhi. Bukan karena bersungguh-sungguh memenuhi kefarduan sebagaimana mestinya.

Jadi jelas, dari sini dapat diketahui, bahwa motivasi awal ibadah orang itu adalah bertujuan ke pejabat, yakni suatu urusan duniawi. Bukan menunaikan perkara salat.

Ulama berpendapat, kejadian itu solusinya adalah segera memperbaiki niat dan bertekad menyatukan keinginannya dengan membentuk satu tujuan abadi. Yakni hanya kepada yang Hak (Allah).

Ketiga, beribadah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah bisa juga termasuk kategori riya, karena bisa jadi ada niat terselubung untuk meraih pahala besar.

Untuk itulah para ulama berpendapat alasan ini paling samar di antara alasan lainnya. Terkadang, ketika seseorang sudah menganggap merasa dirinya dekat dengan Tuhan. Ada teguran keras agar mengulanginya dari awal: Ulangi. Kamu bukan lagi penghuni rumah ini. Karena sesungguhnya, ahli ibadah itu, adalah orang yang betul-betul hanya menaati perintah dan menunaikan kewajiban Allah.

Keempat, kategori riya terselubung itu, mengklaim diri telah mencapai satu maqomat. Padahal sebenarnya tidak. Atau memang betul sudah, tetapi belum ada izin untuk menjelaskan kedudukannya. Dalam kasus ini, pengakuannya hanyalah sebuah cobaan dan siksaan. Dan bahkan, sebetulnya ia tidak pernah meraih pencapaian itu sedikit pun.

Kelima, riya terselubung itu, ia senang apabila nantinya ibadah dan kebaikannya terlihat oleh orang.

Syaikh Abul Hasan al-Syadzily berkata: “Di antara yang dapat merusak seorang murid itu yakni, memperbanyak amal kebaikan supaya nanti dipuji. Maka ibadahnya tidak akan bertambah kecuali tertolak dan dibenci. Inilah paling samar yang sering menimpa para murid”.

Dari sebab itulah, para ulama mewajibkan kepada para murid agar merahasiakan amalannya sekuat mungkin sampai terbiasa. al-Syadzily menambahkan, kadang seorang murid melakukan hal yang terpuji tapi tidak bertujuan untuk dipuji. Lalu menyangka bahwa dirinya ikhlas. Maka yang demikian itu adalah riya. Seperti dia menolak pemberian orang untuk menjaga kehormatan (ta’afuf).

Lantas kemudian, orang memuji tindakannya, lalu ia pun tenggelam atas pujian tersebut. Dengan demikian, jadilah amalannya kembali berbentuk riya. Walaupun awalnya tidak ada maksud apa-apa.

Keenam, riya terselubung itu, meninggalkan amalan oleh sebab orang lain.

Fudhail bin Iyadh berkomentar: “Meninggalkan amalan sebab manusia, itulah riya. Beramal karena manusia itulah bentuk kesyirikan. Tetapi dengan Ikhlas, Allah akan membebaskannya dari keduanya”.

Artinya, orang yang senantiasa beribadah, lalu melepas kebiasaannya itu. Lantaran khawatir terlihat orang. Nah, itulah riya. Karena ia meninggalkannya karena manusia. Akan tetapi bila meninggalkan ibadahnya itu, untuk dikerjakan nanti.

Misalnya di waktu sunyi dan sepi. Maka hal ini sangat dianjurkan. Kecuali memang soal kefarduan atau kewajiban zakat atau supaya menjadi suri tauladan. Maka ibadah atau kebaikan yang ditampilkannya itu merupakan keutamaan.

Ketujuh, termasuk kategori riya terselubung; menceritakan perihal perbuatan baiknya, yang dulu pernah dilakukannya. Sedangkan sebelumnya, orang belum pernah tahu. Kecuali memang ada tujuan yang telah dibenarkan syariat. Jika bercerita tanpa tujuan syar’i maka kembali lagi, amalannya itu menjadi riya.

Wasiat Ali al-Khowas, kepada muridnya: “Waspadalah akan bahaya tasmi’ (ingin didengar) atas amalan perbuatanmu. Karena ia sama saja, akan membatalkan kebaikan seperti halnya riya. Tetapi pada tasmi’ ini ada penawar. Yakni dengan menyesali dan bertaubat. Ketika taubat ini dilakukan, kembali lagi amalan tersebut menjadi pantas sesuai keinginan Allah”.

Kedelapan, mendramatisir kekhusyukan saat, misalnya, masuk seorang pejabat. Ali al-Khowas, dalam soal ini berkata, apabila didapati di antara kalian seorang pejabat, dan di tanganmu sedang memegang tasbih, maka jangan diteruskan. Kecuali dengan niatan baik. Waspadalah engkau, saat duduk mengobrol, tertawa. Tetapi lalai mengingat Allah. Lantaran pejabat masuk, kemudian engkau putar tasbih seraya bertasbih dengan niatan tulus.

Demikianlah uraian singkat dan berseri tentang para pencari Tuhan, orang yang meniti jalan keridhoan Allah. Pelajaran yang penulis petik dari pengajian Ramadan, kitab Minahus Saniyah. Semoga tulisan ini bermanfaat. Teruslah berkomitmen dan berjuang untuk selalu tampil berbuat baik, dengan niat yang tulus.

Wallahualam bissawab.

Ditulis oleh: Ahmad Syaikhu. Ketua Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor Kabupaten Tangerang.

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart