spot_img

Harga Obat di Banten Naik hingga 20 Persen, Layanan Rumah Sakit Mulai Tertekan

Foto: Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti.

SERANG | Kenaikan harga obat yang mencapai hingga 20 persen mulai menekan layanan kesehatan di Provinsi Banten. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat biaya pengadaan obat, alat kesehatan, hingga bahan medis habis pakai meningkat karena sebagian besar masih bergantung pada produk impor.

Kondisi tersebut memaksa rumah sakit, terutama rumah sakit umum daerah (RSUD), melakukan berbagai langkah efisiensi agar pelayanan kepada pasien tetap berjalan optimal. Salah satunya dengan memperketat penggunaan obat sesuai standar terapi dan Formularium Nasional.

Pemerintah Provinsi Banten juga mendorong rumah sakit mengembangkan layanan kesehatan untuk menjaga stabilitas pendapatan di tengah meningkatnya biaya operasional. Langkah ini dinilai penting agar kemampuan rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan obat dan alat kesehatan tetap terjaga.

Baca Juga

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengakui kenaikan harga obat mulai membebani operasional rumah sakit, meski tidak seluruh jenis obat mengalami lonjakan harga hingga 20 persen.

“Pembelian obat di rumah sakit, terutama RSUD, sekarang sudah melalui konsolidasi dengan satu arahan dari Kementerian Kesehatan. Sejauh ini kenaikannya belum semuanya sampai 20 persen,” kata Ati, Rabu (24/06).

Menurut Ati, rumah sakit tidak bisa hanya mengandalkan target pendapatan yang telah ditetapkan, tetapi juga harus mampu berinovasi melalui pengembangan layanan kesehatan.

“Rumah sakit harus meningkatkan pelayanan supaya pendapatannya naik. Kalau pendapatan meningkat, kemampuan membeli obat juga ikut meningkat,” ujarnya.

Ia menambahkan, seluruh rumah sakit diwajibkan menggunakan obat sesuai Formularium Nasional serta menerapkan kendali mutu dan kendali biaya melalui clinical pathway agar penggunaan obat lebih efektif dan efisien.

“Kami juga menerapkan kendali mutu dan kendali biaya melalui clinical pathway supaya tidak ada pemborosan dan pelayanan tetap efisien,” jelasnya.

Ati menilai kondisi ini menjadi pengingat penting bagi sektor kesehatan untuk memperkuat kemandirian nasional melalui peningkatan penggunaan produk farmasi dan alat kesehatan buatan dalam negeri.

“Hampir semuanya impor, mulai dari alat kesehatan, alat laboratorium, sampai obat-obatan. Jadi tentu ada dampaknya. Ketahanan kesehatan harus diperkuat lewat penggunaan produk dalam negeri,” pungkasnya. | Fjr

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart