spot_img
spot_img

Generasi Muda, Kepemimpinan Nasional, dan Feodalisme

Penulis: Muhamad Harikal Ramadhan Pohan.

PERUBAHAN zaman akibat globalisasi dan perkembangan teknologi membuat pegeseran tata nilai, sikap, dan perilaku dari berbagai aspek kehidupan bermasyarkat dan bernegara. Dalam hal ini generasi muda yang harus mampu mewujudkan kepemimpinan nasional.

Dengan semangat muda, sudah seharusnya pemimpin nasional memiliki kepribadian politik konstruktif. Khususnya pemimpin yang ahli dalam pengelolaan negara (pemerintah). Serta seorang pemimpin politik yang menganut prinsip pembuatan kebijakan negara dengan kejelian atau mengelola negara dengan bijaksana.

Sebab, kepemimpinan nasional merupakan fenomena yang secara langsung mempengaruhi dan berkaitan erat dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia memiliki peranan yang sangat penting.

Salah satunya, menjadi inspirasi perubahan. Yaitu pemimpin yang memiliki visi yang jelas, mengenai suatu tujuan negara tersebut.

Baca Juga

Maka dari itu, terwujudnya kepemimpinan nasional merupakan cerminan dari kapasitas sumber daya manusia di suatu negara. Sehingga starategi dan kebijakan nasional yang dilaksanakan oleh pemerintah mendapat dukungan penuh oleh rakyat.

Kualitas kepemimpinan nasional sangat diharapkan dengan memadukan perbedaan dan pluralisme yang ada. Hal ini untuk mewujudkan cita-cita nasional, mencapai masyarakat adil dan makmur.

Dikutip dari Lemhanas (2009), kepemimpinan nasional merupakan orang atau kelompok elit nasional yang mampu melakukan proses kepemimpinan untuk memberdayakan seluruh sumber daya bangsa untuk mencapai tujuan dan cita-cita nasional secara etis.

Kepemimpinan nasional harus dijalankan dalam semangat demokratisasi dan otonomi daerah. Sebab ada 3 kriteria utama kepemimpinan nasioanl yaitu, pemimpin yang memiliki akseptabilitas, kapasitas, dan kredibilitas.

Selain itu, kepemimpinan nasional merupakan sebuah sekelompok pemimpin bangsa dari semua lapisan masyarakat di masing-masing golongan sesuai dengan keahlian masing-masing individu. Baik di bidang suprastruktur, stratifikasi dan restrukturisasi infrastruktur, formal maupun informal,

Tentu harus memiliki kapasitas dan wewenang untuk mengarahkan atau menggerakkan kehidupan bernegara dan berbangsa. Dalam rangka pencapaian tujuan nasional berdasarkan landasan fundamental, yaitu Pancasila dan UUD 1945.

Di satu sisi, dalam menghadapi tuntutan perubahan zaman yang sangat cepat di tengah arus globalisasi dan teknologi ini, Indonesia membutuhkan pemimpin negara yang adaptif, inovatif, dan bergerak cepat. Sebab, kini Indonesia mempunyai masalah yang paling mendasar, yaitu krisis kepemimpinan nasional.

Foto: Ilustrasi pemimpin nasional (Istimewa).

Di sisi lain, Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin nasional yang bermoral Pancasila. Agar dapat ditransformasikan dalam setiap pikiran dan tindakannya pada situasi apapun.

Namun dalam praktiknya, pemimpin nasional saat ini belum mencerminkan hal tersebut. Kualitas dan peran kepemimpinan nasional belum dapat mengatasi dan memberikan solusi yang pasti untuk menghadapi kondisi bangsa Indonesia di abad 21, khususnya pada masa endemi.

Selain partisipatoris masyarakat untuk mewujudkan cita-cita bangsa, maka perlu adanya sinergitas antar lembaga nasional. Dalam hal ini ialah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Sebab dalam era disrupsi saat ini, kepemimpinan nasional memegang peranan penting. Bagaimana dapat menjalankan tata kelola pemerintahan dengan baik. Juga bisa manggaet potensi pemuda.

Potensi generasi muda dalam hal ini sangatlah penting. Mereka akan menjadi generasi penentu untuk mewujudkan cita-cita nasional atau bangsa sesuai yang tertuang dalam alinea 2 pembukaan UUD 1945, yakni bangsa bersatu, berdaulat, adil, dan makmur dengan mengedepankan kepentingan dan keamanan bangsa.

Generasi muda dengan potensi besar yang mampu adaptif dengan arus globalisasi dan perkembangan teknologi pada era disrupsi, dapat mempengaruhi jalannya sebuah negara. Namun, tidak dapat dipungkiri eksistensi generasi muda terkadang masih dianggap belum terlalu penting bagi pemimpin nasional.

Hal itu dikarenakan tidak bisa lepas dari kepentingan politik di dalamnya. Bahwasanya orang-orang yang duduk hari ini di bangku kekuasaan nasional, termasuk ke dalam generasi terdahulu. Mereka tidak akan rela kehilangan jabatan yang hari ini sedang diemban atau miliki.

Foto: Ilustrasi kepemimpinan generasi muda (Istimewa).

Sebab kehadiran anak muda mampu mengancam eksistensi dan lahan pencarian para generasi-generasi terdahulu. Sudah seharusnya untuk mensukseskan terwujudnya kepemimpinan nasional untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

Generasi terdahulu harus rela posisi jabatannya digantikan oleh generasi muda. Karena orang-orang yang sedang duduk di bangku kepemimpinan hari ini, sudah tidak lagi mampu menghadapi kondisi dunia yang cepat berubah atau lebih kita kenal dengan Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity).

Sesuai dengan konsep disrupsi itu sendiri, bahwasanya akan ada perubahan besar-besaran yang disebabkan adanya inovasi dari generasi muda.

Untuk itu, dapat dimulai untuk mempersiapkan para pemimpin nasional dengan menghilangkan sistem politik feodal. Caranya, harus merubah dengan sistem politik terbuka.

Sehingga generasi muda dapat bersaing dengan menunjukan kompetensi diri. Tanpa adanya praktik feodal.

Pada akhirnya, akselerasi potensi besar generasi muda akan sangat terhambat untuk mewujudkan kepemimpinan nasional yang mampu mengedepankan visi besar dengan dasar Pancasila.

Apabila generasi terdahulu masih menggunakan sistem feodal, maka kondisi hari ini sudah sangat perlu generasi muda yang ambil peran untuk menggapai cita-cita bangsa.

Ditulis oleh: Muhamad Harikal Ramadhan Pohan. Founder & CEO Lokaidea.

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart