
PANDEGLANG | Setiap pagi, Nisa harus menyeberangi sungai untuk bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Sudah dua tahun murid SDN Padahayu 2, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, itu menjalani rutinitas tersebut setelah jembatan penghubung Kampung Cingenge menuju sekolah putus dan tak kunjung dibangun kembali.
Tak hanya Nisa, enam siswa lainnya juga mengalami kondisi serupa. Mereka menjadikan aliran sungai sebagai jalur utama menuju sekolah karena merupakan rute tercepat dibandingkan jalan alternatif yang harus ditempuh dengan jarak berkali-kali lipat.
Namun, saat hujan turun dan debit air meningkat, akses tersebut berubah menjadi ancaman. Ketujuh siswa itu terpaksa mengurungkan niat berangkat ke sekolah karena khawatir terseret arus sungai yang deras.
Baca Juga
- Siswa Pandeglang Sebrangi Sungai Demi Sekolah
- PMII Pandeglang Soroti Pengawasan MBG, Minta Kejari Periksa Kelayakan Dapur SPPG
“Tiap hari nyeberang, pulang pergi, bareng teman-teman,” kata Nisa, Sabtu (25/07).
Bagi ketujuh siswa itu, menyeberangi sungai merupakan satu-satunya pilihan yang paling memungkinkan. Jarak dari Kampung Cingenge ke SDN Padahayu 2 hanya sekitar 500 meter jika melalui sungai.
Sementara itu, jalur alternatif mengharuskan mereka memutar lebih dari lima kilometer dengan kondisi jalan yang rusak. Rute tersebut dinilai sulit dilalui, terutama bagi anak-anak yang berangkat dan pulang sekolah tanpa didampingi orang tua.
Nisa sendiri tinggal bersama neneknya. Kondisi itu membuatnya harus berangkat ke sekolah secara mandiri karena tidak ada anggota keluarga yang dapat mengantarnya setiap hari.
Namun, ketika hujan mengguyur dan arus sungai menjadi deras, perjalanan ke sekolah terpaksa dihentikan.
“Enggak ke sekolah, nanti dikasih tugas sama guru,” ujarnya.
Jembatan bambu yang sempat dibangun warga sebagai penghubung menuju sekolah sebelumnya juga tidak bertahan lama karena hanyut diterjang arus sungai. Hingga kini, belum ada jembatan permanen yang dibangun untuk menggantikannya.
Kondisi tersebut turut memengaruhi jumlah peserta didik dari Kampung Cingenge yang bersekolah di SDN Padahayu 2. Pihak sekolah menyebut sebagian orang tua memilih menyekolahkan anaknya ke tempat lain karena khawatir harus menyeberangi sungai setiap hari tanpa jembatan. | Fjr
![]()









