
TANGERANG | Banjir kembali mengepung wilayah Tangerang Raya usai diguyur hujan dua hari berturut-turut.
Bukan hanya karena cuaca ekstrem, tetapi sistem drainase yang tak sebanding dengan laju pembangunan jadi sorotan.
Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna menyebut, banyak kawasan pemukiman terendam karena sistem drainase yang dibuat pengembang tak terintegrasi dengan rencana induk kota.
Baca Juga
- Sungai Cimanceuri Meluap, Perumahan Mustika Terendam Banjir
- Curah Hujan Tinggi, 6 Kecamatan di Tangerang Terendam Banjir
“Harus diakui penyebab utama karena intensitas hujan yang tinggi, tidak didukung dengan sistem drainase yang optimal,” kata Yayat kepada wartawan, pada Selasa, (08/07).
Tangerang Raya yang mencakup Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang menjadi wilayah terdampak paling parah.
Menurut Yayat, drainase yang dibangun oleh pengembang kerap kali hanya berfungsi di lingkungan perumahan saja. Begitu air keluar dari kawasan tersebut, alirannya tersendat.
“Di dalam lingkungan pengembangan bagus, tapi keluar dari situ tidak berjalan optimal. Karena tidak nyambung. Bagi pengembang, yang penting outlet air sudah dibuat. Tapi keluar ke mana? Itu sering tidak dipikirkan,” jelasnya.
Permasalahan makin rumit ketika sungai-sungai yang menjadi jalur pembuangan akhir tidak mampu menampung limpahan air.
“Drainase malah membebani sungai yang tidak pernah diperbesar, tidak dipelihara, atau dinormalisasi. Akhirnya, air meluap,” tegasnya.
Yayat menambahkan, banjir juga terjadi karena konflik antara tata ruang kota dan tata kelola air. Banyak wilayah yang semestinya menjadi ruang air seperti danau, situ, atau kolam retensi, justru beralih fungsi menjadi kawasan bisnis.
“Ruang air selalu kalah oleh ruang manusia. Banyak rumah air yang dihilangkan demi pembangunan perumahan, industri, dan perkantoran,” ujarnya.
Ia mendorong agar pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penanganan banjir saat bencana terjadi, tapi juga melakukan evaluasi dan perencanaan jangka panjang.
“Setiap kejadian banjir harus dipelajari. Harus ada kerja sama lintas wilayah di Tangerang Raya. Apakah sistem drainasenya saling terkoneksi atau tidak? Apakah mengalir ke satu daerah aliran sungai yang sama atau tidak?” tutupnya. |Fjr
![]()









