spot_img
spot_img

Ibadah Puasa dan Ibadah Sosial

Oleh: Moh. Bahri, S.Pd.I., S.H.

RUKUN Islam yang lima itu, semuanya berdimensi sosial. Bahkan boleh dibilang, mengutamakan ikatan sosial dalam melaksanakannya. Baik secara tersurat, maupun tersirat.

Syahadat, sebagai rukun pertama, jelas berdimensi sosial, karena ketika seseorang mendeklarasikan keimanannya, maka lahir batin, lisan gerakan, terikat kuat pada satu barisan umat, yang mengakui Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan, dan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah.

Berikutnya, salat, sangat tegas, seruan untuk berjamaah, dan janji pahala yang 27 derajat lebih baik (kecuali beberapa salat sunah tertentu, yang lazimnya dilaksanakan sendiri).

Pun dengan puasa. Meski imbalan pahala langsung dari jaminan khusus Allah, dan puasa untuk Allah, tetapi proses dan dampak sosialnya sungguh luar biasa.

Baca Juga

Lalu dengan zakat. Poin ini beberapa kali di dalam Al Quran beriringan dengan perintah yang lain, sebagai karakter sejati muslim. Misalnya perintah salat dan zakat. Dengan zakat, ikatan persaudaran sesama muslim menjadi kokoh.

Kita tahu, zakat adalah kegiatan yang melibatkan pihak lain, serta berdampak sosial tinggi. Pelbagai kesulitan jamaah, Insyaallah teratasi jika kewajiban ini dilaksanakan optimal.

Sementara tentang haji, musykil rasanya berlangsung sendiri-sendiri. Mengutip istilah Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), solidaritas sosial dalam berhaji, tak pernah dan tak akan bisa diganti dengan aktivitas lain, karena efek internasionalnya (mendunia). Berbagai agama di dunia, tak memiliki ibadah sosial sedahsyat rukun Haji.

Kini kita pertajam pada aspek ibadah sosial dalam Bulan Ramadan.

Dari titik pertama (sahur) hingga waktu berbuka, semuanya melibatkan gerak bersama. Begitu marak orang saling bantu, langsung ataupun tidak, membangunkan sahur, mengingatkan imsak, dan berbuka bersama.

Uluran tangan, shodaqoh, silaturahim, dalam Ramadan menemukan momen paling kuat. Bahkan paska berbuka, orang masih berkecimpung dalam ibadah yang dilakukan bersama, di dalam Salat Tarawih.

Secara teoritis dan praktis, dimensi sosial dalam Ramadan benar-benar sempurna. Di ujung perjalanan, jelang Malam Takbir, kaum muslim yang berpunya masih akan melaksanakan zakat fitrah. Delapan golongan orang berhak menerima rezeki dari zakat fitrah. Garis tebal ibadah sosial begitu nyata dalam Islam.

Rincian di atas boleh jadi kurang lengkap.

Lantaran jika kita mengulas pelbagai dalil, tausiyah, kisah, dan keluhuran nilai utama dari Ibadah Sosial teramat banyak.

Cara termudah demi menyemangati kita agar ringan hati melaksanakan ibadah yang berdampak sosial, adalah dengan melihat tujuan utama kehadiran kita sebagai manusia.

Dalam Al Quran, manusia diciptakan sebagai khalifatullah fil ardh (wakil Tuhan di muka bumi). Manusia diamanatkan melakukan kewajiban, mengerjakan kebajikan, sebagai mahluk sempurna yang diberi akal.

Terlebih lagi bagi Insan Muslimin, yang meyakini Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.

Kewajiban yang melekat ini, sebagai wakil Tuhan di muka bumi dan menjadi rahmat bagi sekalian alam, niscaya membutuhkan kerja sama.

Bukan hanya kerja sama antar sesama yang beriman. Bahkan kerja sama (dalam kebaikan), dengan mahluk Allah yang lain. Untuk saling memberi manfaat.

Teramat agung ajaran Nabi dalam menekankan azas manfaat ini. Yakni: khoirunnas anfa uhum linnas (manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi orang lain).

Memang, segala aktivitas Ibadah adalah demi kepentingan kita sendiri, tetapi untuk dampak dan manfaat, sejatinya agar menghasilkan kebaikan bagi pihak lain.

Di situlah makna Ibadah Sosial berada. Wallahu’alam.

*Penulis adalah anggota DPRD Provinsi Banten, Fraksi Partai Gerindra.

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart