
TANGERANG | Jangan pernah membandingkan Pancasila dengan Al-Qur’an. Itu pembodohan pada umat. Karena memang tidak ada urgensitasnya. Selain muatan politis.
Demikian disampaikan KH. Encep Subandi saat memberi materi pada acara Sosialisasi Wawasan Kebangsaaan, Sabtu (16/07) di Aula Pondok Pesantren Nur Antika, Tigaraksa, Tangerang.
Lebih lanjut, KH. Encep Subandi meminta para pelajar untuk tidak ikut-ikutan menyebarkan statemen terkait perbandingan tersebut. Karena Al-Qur’an tentu paling mulia dibanding yang lain.
Baca Juga
- Melalui Sosialisasi Wawasan Kebangsaan, Muhlis Ajak Masyarakat Tangerang Bijak Gunakan Medsos
- Tumbuhkan Toleransi dan Budaya Gotong Royong, Muhlis: Wawasan Kebangsaan Harus Terus Dibumikan
“Mereka yang kerap membenturkan Al-Qur’an dengan Pancasila pasti memiliki motif. Setidaknya ingin memaksakan sebagai dasar negara,” ujar Ketua PCNU Kabupaten Tangerang ini.
Masih kata KH. Encep, Indonesia ini begitu beragam. Ada ribuan pulau dan suku. Bahkan ratusan bahasa, perlu ada satu titik kesepakatan. Agar Indonesia tetap damai, dan itu adalah Pancasila.
Sebagai dasar negara, Pancasila tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, bahkan napas dari sila-sila di dalamnya mengandung nilai-nilai qurani. Dan itu hasil pemikiran para pendiri bangsa. Termasuk tokoh awal Nahdlatul Ulama.
“Sila pertama misalnya, itu senapas dengan ayat dalam Al-Qur’an. Pun kedua, ketiga, keempat, dan terakhir,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Nur Antika ini.

Sementara, Subandi Musbah menyinggung soal disintegrasi bangsa dan polarisasi politik yang begitu menohok. Katanya itu semua disebakan politik identitas yang menjadikan Islam sebagai objek politik. Membawa Islam ke pusaran politik pragmatis.
Direktur Visi Nusantara ini meminta aktivis pelajar untuk cerdas membaca persoalan. Tidak ikut gerakan politisasi agama dan politik identitas, karena dampaknya akan memecah belah bangsa. Terkotak-kotak.
Lanjut Subandi, pelajar hari ini harus memiliki kontribusi terhadap persoalan bangsa. Minimal melalui media sosial. “Menggunakan media sosial dengan bijak dan tidak ikut-ikutan menyebarkan hoaks adalah contoh paling baik,” kata Subandi di hadapan 137 peserta Sosialisasi Wawasan Kebangsaan.
Saat sambutan, Muhlis selaku anggota DPRD Provinsi Banten meminta kepada IPNU dan IPPNU untuk terus membumikan 4 Pilar Kebangsaan. Karena rongrongan terhadap bangsa ini begitu nyata. Di depan mata.

Dirinya juga berharap, setiap pelajar memahami konsep Wawasan Kebangsaan. Agar kelak menjadi pemimpin yang cinta terhadap Indonesia. Memiliki wawasan luas soal Nusantara yang begitu beraneka ragam. Indonesia begitu majemuk. Oleh karenanya perlu pemahaman mendalam soal Wawasan Kebangsaan.
Tahun ini, lanjut Muhlis, DPRD Banten sedang menggodog Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. Semoga bisa cepat diketuk dan menjadi Perda.
“Nanti di sekokah-sekokah, baik formal maupun non formal akan diajarkan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan,” tutup Muklis.
Acara Sosialisasi Wawasan Kebangsaan diawali penampilan Tari Nusantara oleh santri Pondok Pesantren Nur Antika. Memotret keragaman bangsa. Dari Sabang sambai Merauke. Dari Miangas sampai Pulau Rote. |We
![]()









