spot_img
spot_img

Menggoreng Kepanikan

Foto: Ilustrasi kelangkaan minyak (Istimewa).

Oleh: Ocit Abdurrosyid Siddiq*

SEJATINYA, manusia bisa hidup tanpa harus ada aturan. Ia bisa menggunakan akal budinya sebagai petunjuk hidup. Tapi karena selain memiliki akal budi, manusia juga memiliki nafsu, yang kadang mengabaikan akal budi. Maka, hidup manusia harus diatur.

Sejatinya, manusia bisa hidup tanpa harus ada negara. Masing-masing bisa mandiri memenuhi kebutuhannya. Tapi, ada hajat hidup yang tidak bisa dilakukan oleh masing-masing. Harus ada pengatur, pengelola, dan pengendali. Maka dibuatlah negara beserta perangkatnya.

Sejatinya, keberadaan negara dalam kehidupan manusia hanya mengatur perkara yang tidak bisa dilakukan oleh masing-masing. Selama urusan masing-masing masih bisa dilakukan, maka peran negara tidak diperlukan.

Beda agama yang mestinya dimaknai sebagai keragaman yang memperindah harmoni, malah kerap menjadi benih konflik. Maka, negara hadir mengaturnya. Haji dan umroh yang tidak bisa dilakukan dengan “selonong boy” perorangan, maka negara hadir lewat regulasinya.

Baca Juga

Sumber daya alam yang berlimpah namun tak bisa dikelola oleh perorangan karena keterbatasan peralatan, pengolahan, distribusi, dan penjualan, maka negara hadir dengan badan usaha milik negara.

Itulah mengapa ada PLN, karena perorangan tidak bisa menciptakan, mengadakan, dan menyediakan listrik. Itulah juga mengapa ada PGN, PDAM, provider, bendungan, irigasi, jembatan, jalan tol, tersebab alasan yang sama; adalah perkara yang tidak bisa dilakukan oleh perorangan.

Belakangan ini kita diriuhkan oleh kelangkaan minyak goreng, disusul kedelai. Bahkan beberapa waktu lalu kita dibuat panik karena ketiadaan cabai di pasaran. Ya cabai, pohon yang bisa tumbuh dengan mudah, bahkan di sembarang tempat, walau tanpa sengaja ditanam.

Akibat kelangkaan beberapa barang tersebut, kita dibuat panik. Ujung-ujungnya, pemerintah jadi sasaran. “Masa, di negara dengan kebun sawit terluas di dunia, minyak goreng menjadi langka?” demikian tudingannya melalui nada tanya.

Atas kelangkaan kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu, sebagian besar dari kita merasa kaget. Kaget karena kedelai, hanyalah sebentuk tanaman yang bisa tumbuh subur di tanah gemah ripah loh jinawi ini, menghilang.

Lebih kaget lagi, ketika mengetahui negara yang memiliki tanah subur hingga “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” ini, mengimpor kedelai dari luar negeri. Masa sih kedelai saja impor? Atas ketidak-mengertiannya ini, lagi-lagi pemerintah menjadi sasaran.

Badan Pusat Statistik mencatat, impor kedelai Indonesia sepanjang semester satu, mencapai 1,27 juta ton atau senilai 510,2 juta dollar AS atau sekitar Rp 7,52 triliun (kurs Rp 14.700). Sebanyak 1,14 juta ton di antaranya berasal dari AS. Hah, kedelai kita impor dari Amerika?

Rasa heran itu wajar. Mengingat kita tahu bahwa kedelai itu berbeda dengan pesawat Boeing Chinook yang sarat teknologi; dikerjakan oleh corporate dan atau pemerintah yang memiliki sumber daya manusia mumpuni. Dalam hal ini Amerika.

Foto: Tempe, tahu, dan Kedelai (Istimewa).

Lha, faktanya memang kebutuhan kedelai hingga saat ini kita masih mengandalkan impor dari beberapa negara. Paling banyak dari Amerika. Negara lain diantaranya Kanada, Brazil, dan Uruguay.

Bisa jadi kita punya pikiran begini; karena kedelai itu bisa ditanam tanpa harus melibatkan teknologi tinggi, bukankah itu bisa dilakukan oleh masing-masing di kebun, ladang, halaman rumah, dan lahan luas yang kita miliki? Lha emang begitu!

Saya juga berpikiran dan mau mengatakan demikian. Bukankah kita punya lahan luas, subur, musim penghujan yang cukup, yang semua itu tidak memerlukan teknologi yang rumit? Bukankah itu bisa kita lakukan sendiri? Dan bila kita bisa lakukan sendiri, bukankah tidak menghajatkan kehadiran pemerintah?

Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ketika tempe semakin jarang ditemukan akibat tiadanya kedelai yang kita tahu bisa ditanam tanpa menghajatkan teknologi rumit, bisa dilakukan oleh orang per orang, telunjuk tetap mengarah ke “hidung” pemerintah.

Minyak goreng juga setali tiga uang. Sudah beberapa pekan menghilang dari pasaran. Antrian memanjang di minimarket menjadi pemandangan biasa. Saking langkanya, bahkan ada penjual yang mensyaratkan KTP, sebagai cara antisipasi membeli berkali-kali.

Belakangan banyak informasi perihal adanya penimbunan minyak goreng yang dilakukan oleh para tengkulak, pemasok, atau distributor. Perilaku tersebut diluar otoritas pemerintah. Bahkan aparat penegak hukum yang notabene bagian dari pemerintah, melakukan tindakan atas kejahatan tersebut.

Sejatinya, minyak goreng pun sama dengan kedelai; perkara yang bisa diadakan tanpa harus ada intervensi dari pemerintah. Silakan baca tulisan kawan saya, Ka Ali Nurdin tentang keletik; minyak goreng yang dibuat dari kelapa. Mulai dari pohon hingga jadi minyak goreng, cukup dilakukan oleh satu orang.

Kalau cabai? Apalagi ini. Kejauhan kalau tiadanya atau mahalnya harga cabai di pasaran lantas menyalahkan rezim. Lha, kebiasaan dolbon saja, kalau kita sebelumnya makan cabai, bijinya yang kita tinggalkan jadi petét! Kan sekarang mah kebiasaan dolbonnya juga sudah ditinggalkan. Iya juga ya.

You know dolbon?

*Penulis adalah warga biasa

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart