spot_img
spot_img

Melalui Diskusi Publik, IMKT dan IKM STIKes Faathir Husada Soroti Kebebasan Akademik

Foto: Narasumber acara Forum Diskusi Mahasiswa.

TANGERANG | Ikatan Mahasiswa Kabupaten Tangerang (IMKT) bareng Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) STIkes Faathir Husada menggelar Forum Diskusi Mahasiswa (FDM).

Tema diskusi yang menghadirkan dua narasumber ini cukup menarik, “Kebebasan Berakademik”. Bertempat di Auditorium STIKes Faathir Husada, Kecamatan Balaraja Kabupaten Tangerang. 

Kegiatan FDM tersebut dihadiri oleh beberapa organisasi yang ada di Kabupaten Tangerang. Juga hadir perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus. 

Baca Juga

Saat sambutan, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Kabupaten Tangerang (IMKT) Ginanjar Putro Wicaksono menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan agar mahasiswa lebih peka akan perannya sebagai agent of change. Memberi perubahan ke arah yang lebih baik. 

Selain itu, mahasiswa juga identik sebagai Agent of Social Control, harus aktif dalam proses penyelesaian isu-isu sosial yang sedang terjadi di lingkungan masyarakat. 

Masih kata Ginanjar, mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan bekal yang mumpuni. Menjadi insan akademis, intelektual, social wolker, atau bidang strategis lainnya. Mengisi posisi-posisi jabatan publik dan swasta. Sebagai top leader.

Sementara, Romy Sabda Ajiz selaku perwakilan dari IKM STIkes Faathir Husada menyampaikan tujuan dilaksanakannya acara ini. Menurutnya ini ajang silaturahmi antar aktivis organisasi yang ada di Kabupaten Tangerang.

“Semoga dengan terselenggaranya acara ini, kita semakin solid, kompak, dan sadar akan esensi sebagai mahasiswa. Memberi kontribusi positif bagi kampus dan daerah,” kata pria kelahiran Kronjo ini.

Saat penyampaian materi, selaku pembicara, Zulpikar menyampaikan peran dan fungsi mahasiswa. Kata dia, kaum terdidik tidak boleh berhenti untuk melakukan aksi nyata dalam rangka melakukan perbaikan-perbaikan.

Mahasiswa, lanjut pria yang pernah menjadi Relawan Forum Rektor ini harus menjadi motor penggerak dalam setiap perubahan. Rencana perubahan dan aksi nyata harus selalu dipelopori oleh mahasiswa. 

“Baik IMKT maupun IKM STIKes Faathir Husada sudah melakukan ini. Jangan lelah dan menyerah, terus lakukan, galang kekuatan yang besar dengan cara melakukan diskusi-diskusi seperti ini. Libatkan semua elemen, termasuk kampus.

“Mahasiswa tidak boleh berhenti bergerak, ketika mahasiswa berhenti, maka rotasi bumi dan rotasi perubahan pun juga ikut berhenti. Jika rotasi bumi dan rotasi perubahan itu berhenti maka, peradaban ke depan itu menjadi sebuah taruhan,” ujar Komisioner Bawaslu Tangerang.

Narasumber kedua Subandi Musbah mengulas konsep Dialektika Hegel, penulis buku Philoshopy of History. Filsuf kelahiran Jerman abad 17 ini kata Direktur Visi Nusantara mengurai begitu gamblang konsep Tesa, Antitesa, dan Sintesa.

“Dua hal saling bertentangan dan menghasilkan simpulan baru merupakan intisari dari dialektika. Kesimpulan dari dua pertentangan itu kemudian bisa saja menjadi tesa baru. Dan begitu seterusnya,” ujar Subandi.

Subandi menerangkan bahwa pertentangan akan menghasilkan sintesa. Dan, kelak, sintesa dipertentangkan kembali. Tidak ada kebenaran yang betul-betul benar. Pencarian atasnya terus-menerus. 

“Lantas apa kaitan dengan kebebasan akademik? Setiap kebijakan, baik yang dilakukan oleh pemerintah, mulai pusat sampai desa, perlu ada respons. Bisa saja tanggapan itu bertentangan. Betul-betul kontradiksi. Saling menegasikan,” ujarnya.

Kata Subandi, dalam mengaktualisasikan kebebasan akademik, setiap mahasiswa idealnya menggunakan pendekatan Dialektika Hegel. Agar pisau analisanya tajam dan berpihak pada rakyat.

Diskusi berjalan lancar. Turut hadir perwakilan berbagai kampus, mulai Untara, Insan Pembangunan, sampai STIA Shalahudin Al Ayubi. | We

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart