spot_img

Ikon Kartini dan Pemanjaan Belanda

Penulis: Endi Biaro*

Kartini menulis diari. Sama belaka dengan Anne Frank, bocah perempuan Yahudi yang menceritakan kehidupan mencekam di bawah genosida Nazi Jerman. Lalu bukunya laku, The Diary of Anne Frank.

Juga ada Zlata Filipovic, remaja wanita Bosnia, yang menderita akibat perang saudara di Balkan. Zlata juga menulis buku, Zlata’s Diary.

Anne Frank dan Zlata jadi Ikon dunia, dan tak ada penyesatan sejarah apapun terhadap mereka. Kisah dan sosok mereka otentik.

Baca Juga

Kartini malah problematik. Figur perempuan cerdas ini, malah digiring sebagai sosok tunggal yang melampaui kaumnya. Menutupi para perempuan lain yang kiprahnya tak kurang-kurang hebat.

Kartini otentik sebenarnya adalah penyuara persamaan hak perempuan. Dan ia bukan satu-satunya pelaku.

Para pejuang perempuan di Hindia Belanda saat itu, malah jauh lebih progresif. Banyak yang sukses membangun sekolah, mendidik pribumi langsung, cerdas, berani, berkuasa, bahkan berperang.

Tapi karena dia intens berinteraksi dengan penjajah, maka dibuat teramat sangat istimewa.

Ini salah satu saja dari bukti, alam pikir manusia jajahan bisa didikte dengan sepele.

Para ilmuan Belanda adalah pribadi tekun, cerdas, teliti, dan menyukai riset (berbalik punggung dengan pribumi, yang memegang mitos dan dongeng sebagai panduan nalar).

Sialnya, kaum cerdik cendekia Belanda memanfaatkan kecerdasan mereka untuk mengelabui.

Termasuk memalsukan sejarah (semisal mengagungkan masa lalu Jawa, dan menistakan Islam), seraya memilih siapa saja yang mereka tokohkan.

R.A. Kartini hanya sepetik contoh.

Jika mau obyektif, Puteri Indonesia yang harum namanya itu, sama sekali bukan yang terbaik. Juga bukan sosok pertama yang membuktikan keunggulan perempuan Nusantara.

Kartini juga tak sehebat Dewi Sartika, Rahmah El Yunusiah, Maria Walanda Maramis, atau Nyai Ahmad Dahlan, yang sukses mendidik plus membangun sekolah.

Kartini tak membuktikan secuil perlawanan sebagaimana Martha Christina Tiahahu, yang tarung total dengan Belanda di Maluku. Atau seperti Keumala Malahayati yang punya pasukan 20.000 perempuan, Inong Bale, mampu menumpas Belanda. Bahkan Malahayati head to head saling tikam, dan ia membunuh Frederik De Houtman, yang arogan.

Singkat kisah, Kartini dipilih J.A Abendanon (suami isteri, Menteri Pendidikan Tanah Jajahan).

Ia dimanja, dibimbing dan diberi beasiswa (meski tak diambil, dialihkan ke Agus Salim).

Mestinya bangsa ini sadar sejarah. Bukan malah membebek terhadap rekayasa kepalsuan Belanda. Turun temurun.

Penting juga diulas, tampilan Kartini juga tidak monolit, berkebaya ala priyayi atau ningrat.

Ada fakta menunjukkan, dia juga berkerudung, karena menjadi Santriwari KH. Saleh Darat (ahli tafsir Al Quran).

Saya, paling tidak, secara akal sehat, menolak Kartini diagungkan berlebihan….

*Ditulis oleh: Endi Biaro, Pegiat Literasi.

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart