
LEBAK | Anak-anak korban banjir bandang di Hunian Sementara (Huntara) Cigobang, Kabupaten Lebak, memanfaatkan jalan berlumpur sebagai tempat bermain setelah hujan turun, di tengah keterbatasan fasilitas dan ketidakpastian hunian tetap.
Bagi orang dewasa, kondisi itu adalah persoalan lama yang tak kunjung selesai. Namun bagi anak-anak yang sudah enam tahun hidup di huntara, lumpur justru menghadirkan ruang bermain dan tawa.
Di tengah kegelisahan para orangtua yang masih menunggu kepastian Hunian Tetap (Huntap), suara riang anak-anak terdengar memecah suasana. Jalan yang seharusnya dilalui kendaraan mereka ubah menjadi arena petualangan. Tanpa alas kaki, mereka berlari, tergelincir, lalu bangkit sambil tertawa.
Baca Juga
- KUMALA Soroti 100 Hari Kepemimpinan Hasbi–Amir, Tagih Janji dan Kritik Penanganan Huntara
- Jembatan Gantung di Lebak Roboh, Dua Pelajar Luka-luka
Tubuh kecil yang jatuh ke tanah basah tak diiringi keluhan. Pakaian yang kotor oleh lumpur justru menjadi bagian dari permainan.
“Lumpur bukan penghalang, ini tempat kami bermain,” kata Chandra, Sabtu (07/02), sambil menunjuk jalan berlumpur di depan tenda pengungsian.
Bersama teman-temannya, ia menghabiskan waktu memainkan mobil-mobilan, bahkan sesekali merebahkan diri di atas tanah basah. Bukan karena mereka memilih tempat itu, melainkan karena di situlah satu-satunya ruang yang tersedia.
“Tidak ada ayunan atau tempat bermain. Jadi di sini kami bisa tertawa,” ujarnya polos.
Bagi anak-anak di Huntara Cigobang, jalan berlumpur bukan sekadar tanah basah. Ia menjelma taman sederhana, lapangan imajinasi, sekaligus jeda dari realitas hidup di pengungsian yang panjang dan melelahkan.
Muhamad Zaenudin, salah seorang warga, mengamati mereka dari kejauhan. Sesekali ia mengingatkan agar berhati-hati, namun tak melarang permainan itu.
“Bagi orang dewasa ini keluhan, bagi anak-anak ini hiburan gratis,” katanya.
Ia mengaku, kehidupan enam tahun di bawah terpal dengan akses jalan seadanya membuat warga tak memiliki banyak pilihan. Semua dijalani sebagai rutinitas yang harus diterima.
“Saya biarkan saja mereka bermain. Yang penting anak-anak tetap bisa tersenyum,” ujarnya.
Bagi Zaenudin, tawa itu menjadi penguat di tengah kelelahan hidup sebagai penyintas bencana.
“Melihat mereka bahagia, setidaknya kami bisa lupa sejenak tentang sulitnya hidup di pengungsian,” ucapnya.
Di Huntara Cigobang, lumpur mungkin merepresentasikan keterbatasan. Namun di tangan anak-anak, ia berubah menjadi simbol daya hidup bahwa di tengah ketidakpastian, keceriaan masih menemukan jalannya. | Fjr
![]()









