spot_img

RESENSI    OPINI    VINUS TV        ADVERTORIAL    

Perut Kenyang, Otak Jangan Dibiarkan Kosong

Foto: Penutupan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dari Mahasiswa Universitas Cendekia Abditama*.

ADA hal menarik dari pendidikan kita hari ini. Negara berusaha memastikan anak-anak sekolah makan dengan layak lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ini kabar baik, tentu saja. Bagaimana mungkin anak bisa belajar dengan tenang jika perutnya kosong, sementara teman sebangkunya sibuk membuka bekal yang bahkan belum tentu ada isinya? Namun, di tengah semangat memberi makan anak-anak sekolah, ada satu pertanyaan yang tidak boleh kita terima begitu saja. Setelah perut mereka kenyang, apakah pendidikan kita otomatis menjadi lebih baik? Jangan-jangan kita terlalu sibuk mengurus isi piring, sampai lupa memeriksa isi kepala.

Mari kita luruskan dulu. MBG bukan musuh pendidikan. Anak-anak membutuhkan gizi. Keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari tentu bisa terbantu oleh program semacam ini. Kita tidak sedang memperdebatkan penting atau tidaknya makanan bergizi. Jawabannya sudah jelas: penting. Yang perlu dibicarakan adalah bagaimana program ini dijalankan.

Kita juga perlu melihat seberapa besar manfaatnya dan apakah anggaran yang begitu besar benar-benar menghasilkan perubahan yang sepadan. Dalam urusan kebijakan publik, niat baik adalah permulaan, bukan garis finis. Pemerintah tidak cukup hanya mengatakan program ini baik. Pemerintah juga harus membuktikan bahwa program ini bekerja dengan baik.

Baca Juga

Masalahnya, pendidikan Indonesia bukan masalah ringan yang bisa diselesaikan hanya dengan semangkuk makanan bergizi. Penyakitnya lebih rumit. Ada sekolah yang masih berjuang dengan ruang kelas rusak. Ada guru yang harus mengajar sambil memikirkan kebutuhan rumah tangganya. Ada anak yang kesulitan membeli buku. Ada juga wilayah yang fasilitas pendidikannya masih jauh dari layak.

Selain itu, kesenjangan kualitas pendidikan membuat kesempatan seorang anak sering lebih bergantung pada tempat ia lahir daripada seberapa besar keinginannya untuk belajar. Dalam situasi seperti ini, MBG bisa menjadi salah satu jawaban. Namun, jangan perlakukan seolah-olah MBG adalah jawaban untuk semua masalah.

Kita juga perlu waspada terhadap kebiasaan merayakan angka sebelum memeriksa kenyataan. Berapa juta porsi dibagikan, berapa banyak sekolah menerima manfaat, dan berapa besar anggaran terserap, semuanya penting untuk dicatat. Namun, angka-angka itu tidak langsung menjelaskan apakah pendidikan kita sedang berkembang. Jangan sampai laporan penuh dengan statistik, sementara sekolah masih kekurangan fasilitas dan guru masih kurang dihargai.

Keberhasilan MBG seharusnya tidak hanya diukur dari makanan yang sampai di meja siswa. Kita juga perlu melihat keamanan pangan, kecukupan gizi, ketepatan sasaran, dampaknya terhadap kesehatan, dan hubungannya dengan kesiapan anak mengikuti pembelajaran. Jika semua itu tidak diukur dengan sungguh-sungguh, kita hanya akan sibuk menghitung piring tanpa benar-benar memahami apa yang terjadi pada anak-anak di baliknya.

Ada satu hal yang lebih menggelitik. Kita sering berbicara tentang masa depan Indonesia dengan kalimat yang megah. Namun, terkadang kita lupa pada orang-orang yang setiap hari bekerja di ruang kelas. Guru diminta kreatif, inovatif, dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Singkatnya, guru diminta menjadi manusia serba bisa. Namun, apakah dukungan yang mereka terima sudah sepadan dengan tuntutan itu? Kita ingin anak-anak berpikir kritis. Namun, jangan sampai guru yang mengajarkan berpikir kritis malah tidak punya ruang untuk menyampaikan kritik.

Kita ingin sekolah melahirkan generasi hebat. Namun, persoalan kesejahteraan, fasilitas, dan kualitas pembelajaran belum boleh dianggap selesai. Pendidikan tidak bisa dibangun hanya dengan semangat pidato. Ia membutuhkan kebijakan yang berpihak dan anggaran yang tepat sasaran.

Soal anggaran, ini juga bukan perkara kecil. MBG membutuhkan tata kelola yang rapi karena menyangkut uang rakyat dan makanan yang dikonsumsi anak-anak. Artinya, pengadaan bahan pangan harus transparan. Kualitas makanan harus terjamin. Distribusi harus diawasi. Setiap persoalan harus ditangani secara terbuka. Jangan sampai urusan yang seharusnya sederhana, anak makan dengan layak, berubah menjadi urusan yang rumit karena pengawasan lemah atau pelaksanaan yang tidak beres.

Kritik terhadap MBG bukan berarti membenci anak-anak yang menerima manfaatnya. Justru sebaliknya, karena kita peduli kepada mereka, kita tidak ingin program yang menyangkut kesehatan dan masa depan anak dijalankan dengan prinsip asal terlaksana. Uang publik bukan uang yang jatuh dari langit. Kepercayaan masyarakat bukan sesuatu yang bisa diminta terus-menerus tanpa pertanggungjawaban.

Sebenarnya, ada peluang menarik yang bisa dikembangkan dari program ini. Bayangkan jika kebutuhan bahan pangan sekolah melibatkan petani, peternak, nelayan, pedagang kecil, dan UMKM lokal dengan adil. Anak-anak mendapat makanan bergizi. Masyarakat sekitar juga mendapat manfaat ekonomi. Uang yang dibelanjakan negara tidak hanya berhenti di meja makan. Uang itu berputar dan menghidupkan usaha warga.

Tapi, peluang seperti ini butuh rancangan yang matang, bukan hanya slogan pemberdayaan. Pengadaan harus terbuka. Usaha kecil harus punya kesempatan yang masuk akal. Kualitas tetap jadi prioritas. Jangan sampai program yang membawa nama kesejahteraan malah menciptakan ketergantungan pada sedikit pemasok. Kalau bisa memberi makan anak dan menghidupkan ekonomi rakyat, kenapa hanya mengerjakan satu bagian?

Namun, kita juga tidak boleh berpikir bahwa semua masalah pendidikan akan selesai hanya dengan menambah anggaran. Masalahnya bukan hanya soal berapa banyak uang yang dibelanjakan. Kita juga harus melihat ke mana uang itu digunakan dan perubahan apa yang muncul. Kita butuh pembelajaran yang membuat anak berani bertanya, bukan hanya pandai menghafal. Kita butuh sekolah yang memberi ruang bagi kreativitas, bukan cuma mengejar nilai di rapor.

Kita butuh pendidikan yang mengajarkan literasi, sains, etika, kemampuan digital, dan kepekaan sosial. Pendidikan juga harus membuat anak paham realitas di sekitarnya. Dunia di luar sekolah tidak akan menanyakan apakah seorang anak pernah menerima makanan gratis. Dunia akan menguji kemampuan mereka berpikir, mengambil keputusan, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah. Perut yang kenyang memang membantu anak belajar. Namun, kualitas pendidikanlah yang membantu mereka menghadapi hidup.

Karena itu, perdebatan mengenai MBG sebaiknya tidak berubah menjadi persaingan antara pendukung dan penolak. Kebijakan publik tidak perlu diperlakukan seperti klub sepak bola yang harus selalu dibela walaupun sedang bermain buruk. Kalau programnya bermanfaat, katakan bermanfaat. Kalau ada kekurangan, perbaiki. Kalau ada penyimpangan, ungkap dan tindak sesuai aturan.

Pemerintah tidak akan kehilangan wibawa hanya karena mengakui kekurangan. Masyarakat juga tidak otomatis menjadi pembenci negara hanya karena mengajukan pertanyaan. Kita perlu membangun budaya politik yang lebih dewasa. Dukung tanpa kehilangan akal sehat. Kritik tanpa mengabaikan tanggung jawab. Anak-anak tidak membutuhkan orang dewasa yang sibuk berdebat untuk memenangkan argumen. Mereka membutuhkan orang dewasa yang bisa memastikan hak-hak mereka benar-benar terpenuhi.

Pada akhirnya, saya kira kita perlu berhenti melihat pendidikan hanya dari apa yang tampak di permukaan. Makanan yang disajikan memang bisa difoto, dibagikan, dan dihitung. Namun, kualitas berpikir seorang anak tidak selalu bisa ditunjukkan dalam satu acara peresmian. Begitu juga dengan kesejahteraan guru, pemerataan sekolah, keberanian membaca, dan kemampuan anak memahami kehidupan. Semua itu butuh kerja panjang yang hasilnya tidak selalu bisa didapat dalam satu periode pemerintahan.

Kita tentu ingin anak-anak Indonesia pergi ke sekolah tanpa rasa lapar. Namun, kita juga ingin mereka pulang dengan pengetahuan, tumbuh dengan rasa percaya diri, dan punya kesempatan yang sama untuk memperbaiki hidup mereka. Sebab, pendidikan bukan hanya soal membuat anak kenyang hari ini. Pendidikan juga memastikan mereka tidak selalu kekurangan kesempatan di masa depan. Piring boleh penuh, tetapi pikiran jangan dibiarkan kosong. Jika negara mampu menyediakan makanan untuk generasinya, sudah seharusnya negara juga sungguh-sungguh menyiapkan masa depan mereka.

*Ditulis oleh: Hamzah Sutisna (Ketua Ruang Abjad).

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart