spot_img

Lomba Polisi Cilik, Eksploitasi Simbolik Yang Dibalut Edukasi

Foto: Ilustrasi Program Polisi Cilik (Pocil).

PROGRAM lomba Polisi Cilik (Pocil) yang diadakan oleh Polresta Kota Tangerang disebut sebagai ajang pembinaan disiplin, kedisiplinan, dan cinta tanah air bagi anak-anak. Dengan seragam mini dan barisan rapi, anak-anak tampak gagah dan menggemaskan.

Namun di balik tampilan menarik itu, patut kita ajukan pertanyaan kritis: Apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan program ini, dan sejauh mana manfaatnya bagi tumbuh kembang anak?

Di satu sisi, kegiatan ini memang dapat menanamkan nilai-nilai positif seperti kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab. Namun di sisi lain, lomba Pocil juga berpotensi menjadi bentuk “militerisasi simbolik” terhadap anak-anak.

Baca Juga

Anak-anak yang seharusnya didorong untuk berpikir kritis dan kreatif justru diarahkan untuk mengikuti instruksi secara kaku, meniru perilaku aparat dewasa, dan menjadikan kepatuhan sebagai ukuran utama keberhasilan.

Lebih jauh, lomba Pocil kerap lebih menonjolkan aspek seremonial dan pencitraan institusi daripada pendidikan substantif.

Dalam banyak tayangan dan pemberitaan, yang terlihat adalah bagaimana anak-anak dilatih baris-berbaris, memberi hormat, atau menyanyikan yel-yel Polri—bukan bagaimana mereka diajak memahami nilai-nilai kemanusiaan, hukum, atau empati sosial yang seharusnya menjadi inti profesi kepolisian.

Ada pula kekhawatiran bahwa kegiatan ini justru memanfaatkan anak sebagai alat legitimasi moral, untuk menampilkan wajah lembut Polri di tengah citra aparat yang masih sering dikritik terkait kekerasan dan pelanggaran etika. Dengan begitu, lomba Pocil bisa berubah dari kegiatan edukatif menjadi alat propaganda simbolik.

Idealnya, jika Polri benar-benar ingin mendekatkan diri dengan dunia anak, pendekatan yang lebih edukatif dan partisipatif perlu dikedepankan.

Misalnya melalui program edukasi hukum berbasis permainan, pelatihan keselamatan lalu lintas yang interaktif, atau kegiatan sosial yang menumbuhkan empati, bukan sekadar kedisiplinan mekanis.

Program Pocil bukan harus dihapus, tapi didesain ulang agar tidak berhenti di seragam dan barisan. Anak-anak bukan miniatur polisi, mereka adalah warga masa depan yang perlu diajak berpikir, bukan sekadar disuruh baris.

*Ditulis oleh: Saepul Bahri, Koordinator Aliansi Mahasiswa Tangerang.

Loading

VINUS TV

BERITA TERBARU

IKLAN

spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

IKLAN

spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

IKLAN

spot_img

SEPUTAR BANTEN

IKLAN

spot_img

SEPUTAR DESA

Masyarakat Pasir Bolang Demo Alfamart