
TANGERANG | Pengelolaan sampah rumah tangga sering dipandang sebagai aspek teknis semata. Padahal, persoalan ini berkaitan erat dengan isu kesehatan masyarakat, pembentukan budaya bersih, serta efisiensi ekonomi keluarga.
Menyadari hal tersebut, DPC Perempuan Bangsa Kabupaten Tangerang memperkenalkan pendekatan holistik, menjadikan pengelolaan sampah sebagai ruang partisipasi dan pemberdayaan perempuan di akar rumput.
Ketua DPC Perempuan Bangsa Kabupaten Tangerang, Sri Mulyati menyampaikan bahwa perempuan memiliki peran vital dalam kehidupan rumah tangga. Dan dari ruang domestik inilah perubahan bisa dimulai.
Baca Juga
- Kunjungi TPA Jatiwaringin, Bupati Tangerang Siapkan Solusi Cepat Atasi Sampah
- Tangani Masalah Sampah, Bupati Tangerang Bersama Masyarakat Bersihkan Anak Sungai Cisadane
“Sampah yang dihasilkan setiap hari di dapur, kamar mandi, hingga halaman rumah adalah bagian dari kehidupan sehari-hari perempuan. Karena itu, pelibatan perempuan bukan hanya penting, tapi menjadi kunci utama dalam menjawab persoalan sampah secara menyeluruh,” ucapnya, pada Kamis, (15/05).
Ia mendorong agar pengelolaan sampah tidak hanya menjadi beban pemerintah, tetapi juga membuka ruang partisipasi aktif bagi kelompok perempuan di tingkat komunitas.
“Pelatihan pengelolaan sampah, pembentukan kelompok kompos, dan pendampingan produk daur ulang menjadi inti program ini. Dengan langkah-langkah tersebut, kebersihan lingkungan meningkat dan perempuan memperoleh peluang ekonomi jangka panjang,” ujarnya.
Masih kata Sri, program ini dapat berkembang menjadi gerakan kolektif antara masyarakat, pemerintah desa, dan pelaku usaha lokal. Melalui pembentukan koperasi daur ulang oleh kelompok perempuan atau produk UMKM berbasis sampah, nilai tambah dari limbah dapat dimaksimalkan.
“Selain menciptakan produk yang bernilai ekonomis, program ini juga membangun kemandirian ekonomi berbasis rumah tangga. Dengan demikian, keberlanjutan ekonomi dan kebersihan lingkungan dapat terjaga dengan baik,” tuturnya.
Lebih lanjut, Sri Mulyati menyoroti bahwa menjadikan pengelolaan sampah sebagai gerakan sosial perempuan membuka ruang untuk menghubungkan isu lingkungan dan kesetaraan gender. Perempuan, di tengah tantangan ekonomi dan perubahan iklim, dapat berperan sebagai agen perubahan yang menjaga bumi dan memberdayakan komunitasnya.
“Kami ingin mendorong perspektif baru. Bahwa sampah bukan hanya soal tumpukan masalah, tapi juga tumpukan potensi. Jika dikelola dengan benar, dan jika perempuan diberi ruang, maka yang lahir adalah perubahan yang konkret, dari rumah ke ruang sosial yang lebih luas,” tandasnya.
Perempuan Bangsa Kabupaten Tangerang berharap ide ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah, untuk mewujudkan kebijakan yang inklusif dan responsif terhadap perempuan di tingkat lokal. Perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil yang diperjuangkan bersama. | Fjr
![]()









