
PERBAIKAN jalan berasa seperti blokade dan sabotase, mengurung mobilitas warga, melumpuhkan akses lalu lintas, dan terjadi di kawasan dengan label semakin gemilang. Apa pasal?
Jalan Raya Balaraja Kresek jadi jalur neraka. Lantaran ada perbaikan di titik pertigaan Desa Parahu (akses ke RSUD Balaraja Tobat). Bersamaan waktu, juga ada perbaikan di jalan baru Pasar Santiong PT Pemi, serta di Leuweung Gede, Desa Parahu. Tiga titik perbaikan ini menjadi siksaan. Karena tak ada jalur alternatif. Pengguna jalan kehilangan pilihan. Akhirnya pasrah dalam antrean mengular, berjam-jam, tak kenal hari tak tahu waktu.
Bagaimanapun ini adalah masalah. Tentang absennya nalar rasional dalam kebijakan publik.
Sebaik apapun tujuan dan manfaat kebijakan publik, tanpa disertai manajemen risiko (analisis dampak multi faktor) hanya akan melahirkan kesemrawutan.
Baca Juga
Tarik contoh faktual: perbaikan jalan di beberapa titik di Kabupaten Tangerang, yang berlangsung serempak dan nyaris menjadi blokade bagi warga.
Titik ekstrem ada di ruas jalan Balaraja arah Sukamulya, tepatnya di pertigaan Desa Parahu.
Kemacetan panjang nan mengerikan.
Antrean ekstrem terjadi bukan hanya di jam sibuk, bahkan di pukul 10:00 malam.
Mengapa? Karena di waktu berdekatan, juga ada perbaikan di titik lain, yakni di jembatan dekat PT Pemi dan di jalan akses Parahu ke Ceplak (rute arah Sukamulya).
Dua rute ini, adalah jalur alternatif, yang bisa menjadi pilihan bagi pengendara (mobil dan motor), tatkala ingin menghindari sumbatan arus lalu lintas di jalur utama (Balaraja Sukamulya).
Namun, karena jalur tikus ini sama-sama digali, maka hilang sudah rute alternatif. Penumpukkan kendaraan menjadi siksaan harian.
Peristiwa ini, jika memakai logika matematika, hanya memperlihatkan defisit akal sehat para pengambil keputusan.
Logika matematika adalah alur berpikir yang jelas, sistematis, dan bisa diuji.
Jelas dalam hal variabel antasenden (penyebab) dan variabel konsekuen (akibat).
Perbaikan jalan yang memblokade pergerakan kendaraan (atau mobilitas warga secara total) absen menganalisis variabel penyebab dan akibat. Mestinya mereka rinci mengurai, perbaikan akan melahirkan kemacetan, lalu ditekan risikonya, agar tak fatal. Maka pengerjaan akan dilakukan bertahap, satu titik selesai, lanjut ke titik lain. Tidak bersamaan seperti yang terjadi sekarang.
Sistematis adalah analisis terhadap langkah-langkah pekerjaan proyek perbaikan jalan yang menghitung faktor x, y, dan z (semisal waktu pengerjaan proyek, daya dukung, dan kecepatan penyelesaian).
Dalam kasus yang kita bahas ini, alur pikir sistematis tak kita temukan. Pengerjaan terlihat acak, kadang kosong, jalan dibiarkan terbongkar, dan kita tak pernah tahu, seberapa cepat selesai, agar bencana macet tak terlampau lama.
Idealnya, para perencana pembangunan di daerah semakin gemilang ini, menyisipkan tantangan ini sebagai prioritas.
Jangan lupa, logika matematika, mewajibkan peluang pengujian.
Verifikasi lapangan akan membuat sesak dada. Tanpa harus menjadi ahli planologi atau insinyur sipil, terang benderang proyek ini tak memetakkan risiko besar.
Jalan Raya Balaraja Sukamulya (sambung ke Kresek atau Kronjo), teramat padat bukan hanya di hari kerja, bahkan di akhir pekan. Mestinya, minimal, kerjakan satu per satu. Biarkan dulu jalur alternatif bisa dilalui. Agar mengurai kebuntuan.
Perbaikan jalan adalah proyek fisik, pakai ilmu, teknologi, manajemen, kontrol, dan perhitungan matematis. Bukan konsep abstrak (semacam demokrasi, keadilan, atau kesetaraan).
Apa yang terjadi dalam tema diskusi kita ini, jelas terjadi pengabaian terhadap ledakan kerugian. Alias risiko yang sejatinya bisa ditekan. Tapi malah dibiarkan.
Kita tahu, perbaikan jalan menimbulkan kemacetan. Tapi kita juga tahu, pembangunan dan kebijakan publik butuh manajemen risiko.
Ini yang tidak kita lihat. Nalar logis tersingkirkan.
Idealnya, pembangunan jalan juga disertai pembangunan nalar (agar tak sembarangan).
*Ditulis oleh: Endi Biaro. Pegiat Literasi.
![]()









