
LEBAK | Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak sepakat memperkuat kolaborasi pendidikan.
Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua belah pihak, pada Kamis, (10/07) di Aula Setda Lebak.
Rektor UNMA, Andriansyah, dan Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, secara langsung menekan dokumen kerja sama yang menitikberatkan pada program “Satu Desa Satu Sarjana”. Program ini merupakan salah satu prioritas Pemprov Banten dalam meningkatkan kualitas SDM desa.
Baca Juga
- Hadiri Wisuda UNMA Banten 2025: Wamenag Ingatkan Pentingnya Karakter dalam Ilmu
- LP2M UNMA Latih 180 Peserta Program Kotaku
Amir Hamzah menyebut, pendidikan adalah kunci utama pembangunan.
“Program ini bukan soal berapa banyak yang lulus kuliah, tapi bagaimana mereka bisa jadi agen perubahan di desa. UNMA punya peran penting dalam upaya ini,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UNMA menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh jauh dari persoalan riil masyarakat.
“Kami ingin Tri Dharma Perguruan Tinggi benar-benar hidup, menyentuh desa, menjawab kebutuhan lokal,” kata Andriansyah.
Dalam kerja sama ini, UNMA dan Pemkab Lebak akan melaksanakan sejumlah kegiatan nyata. Mulai dari pelatihan guru, pengembangan kurikulum kontekstual, riset terapan berbasis lokal, hingga pengabdian masyarakat berbentuk program pemberdayaan.
Salah satu fokus utama adalah peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) lewat pendidikan vokasi, beasiswa afirmatif, dan kuliah jarak jauh berbasis desa.

“Bentuk nyatanya akan langsung kita rasakan di desa. Ada kuliah jarak jauh, KKN tematik, dan program afirmasi beasiswa. Ini bukan janji, tapi langkah awal,” ujar Amir.
Tak hanya itu, akan dibentuk satuan tugas khusus untuk merancang program dan peta kebutuhan desa terutama di wilayah yang akses pendidikannya masih terbatas.
Kerja sama ini bukan sekadar seremoni administratif. Lebih dari itu, menjadi langkah konkret menempatkan pendidikan sebagai pilar utama pembangunan daerah.
UNMA sendiri menyatakan kesiapan membuka jalur khusus beasiswa dan menjadikan desa-desa di Lebak sebagai laboratorium sosial pembelajaran dan pemberdayaan.
Jika program ini berjalan konsisten, bukan tak mungkin akan jadi model sinergi antara kampus dan pemda dalam upaya menekan ketimpangan pendidikan di daerah.
“Kami ingin satu sarjana hadir di setiap desa. Bukan hanya lulusan, tapi pemantik perubahan,” tegas Andriansyah.
![]()









