
SERANG | Puluhan pelajar, mahasiswa, dan alumni SMAN 4 Kota Serang turun ke jalan.
Mereka menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang sekolah, menuntut penyelesaian kasus dugaan pelecehan seksual yang diduga melibatkan oknum guru berinisial SJ.
Koordinator Aksi BEM Banten Bersatu, Bagas Yulianto, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan mediasi dan investigasi bersama sejumlah siswa dan siswi yang menjadi korban. Dari hasil tersebut, teridentifikasi ada dua hingga tiga korban, serta dua hingga tiga terduga pelaku.
Baca Juga
- Siswi SMPN 1 Maja Diduga Jadi Korban Pelecehan oleh Oknum Guru
- Nyambi Jual Sabu, Teknisi Komputer di Kota Serang Diciduk Polisi
“Kejadiannya memang bukan tahun ini, tetapi baru mencuat karena para korban baru berani bersuara,” ujar Bagas.
Selain dugaan pelecehan seksual, massa aksi juga menyoroti praktik pungutan liar di sekolah yang dikemas dalam program One Day One Thousand (ODOT), yakni iuran harian seribu rupiah tanpa kejelasan penggunaan anggaran.
Bagas mempertanyakan transparansi dan manfaat dari dana ODOT yang menurutnya tidak dirasakan langsung oleh para siswa.
Sementara itu, Plt Kepala SMAN 4 Kota Serang, Nurdiana Salam, akhirnya turun menemui massa. Ia menjelaskan bahwa peristiwa dugaan pelecehan tidak terjadi di masa kepemimpinannya dan memastikan oknum guru yang dimaksud telah dinonaktifkan.
“Yang sudah dipastikan sejak awal, bahwa oknum tersebut sudah dinonaktifkan. Proses selanjutnya kami serahkan ke Dinas Pendidikan, BKD, dan Kepolisian,” kata Nurdiana.
Ia juga menegaskan bahwa program ODOT telah dihentikan. Pihaknya, siap mengevaluasi seluruh tuntutan massa, termasuk persoalan ijazah yang sebelumnya disebut-sebut ditahan.
“Ijazah, bapak camkan, bagi siapa pun yang ijazahnya ditahan, silakan diambil hari ini tanpa embel-embel apa pun,” tegasnya.
Meski begitu, massa aksi belum membubarkan diri. Mereka menuntut agar para terduga pelaku menemui langsung peserta aksi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan publik. |Fjr
![]()









