
Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi ledakan kesadaran. Pada 1928, para pemuda menolak tunduk pada penjajahan dan perpecahan. Mereka menulis sejarah dengan keberanian.
Kini, sembilan puluh tujuh tahun kemudian, pertanyaannya sederhana namun tajam: apakah api itu masih menyala di dada pemuda hari ini, atau sudah padam digantikan kenyamanan dan basa-basi?
Kita hidup di zaman ketika banyak pejabat sibuk memoles citra, sementara rakyat menanggung beban hidup yang kian berat.
Baca Juga
- Evaluasi Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran: Antara Janji Besar dan Realitas Lapangan
- Duta Pemuda Tangerang Serukan Aksi Nyata
Kabupaten Tangerang, yang katanya maju dan berkembang, masih menyimpan potret ketimpangan: pembangunan timpang, tata kelola yang kabur, dan moral pejabat yang menurun. Banyak ruang publik yang seharusnya menjadi milik rakyat justru dikuasai oleh kepentingan sempit.
Pemuda tidak boleh diam. Diam berarti tunduk. Tunduk berarti kalah.
Sumpah Pemuda menuntut keberanian untuk melawan arah kekuasaan yang menyeleweng dari nurani. Pemuda harus hadir sebagai kekuatan moral yang menantang kemapanan. Namun, perlawanan hari ini tidak cukup dengan teriakan; ia membutuhkan pikiran yang tajam, argumen yang kuat, dan konsistensi yang kokoh.
Pemuda Kabupaten Tangerang harus membangun barisan kesadaran baru — kesadaran yang berani berpihak, tetapi juga berpengetahuan. Bangkit bukan hanya berarti marah, melainkan juga menata strategi dan memperjuangkan perubahan secara nyata.
Kita tidak butuh pemuda yang sibuk mencari posisi di kekuasaan. Kita butuh pemuda yang menjadi cermin nurani rakyat.
Kita tidak butuh seremonial penuh jargon. Kita butuh aksi yang mengguncang kenyamanan mereka yang berkuasa.
Sumpah Pemuda adalah pesan sejarah: bangsa ini berdiri karena keberanian anak muda untuk berkata “tidak” terhadap ketidakadilan. Maka, di tengah kebisuan birokrasi dan kepura-puraan politik hari ini, pemuda harus kembali bersuara lantang:
“Kami tidak akan jinak di hadapan kekuasaan!”
Sebab, masa depan bukan milik mereka yang pandai menyesuaikan diri, melainkan milik mereka yang berani menyalakan api.
*Ditulis oleh: Aktivis Kabupaten Tangerang.
![]()









